Kalo harga bahan pokok naik lebih cepet dr gaji, itu bukan (cuma) karena skill issue
Kalo lapangan kerja formal terbatas, itu bukan karena pengangguran males
Kalo umkm susah laku karena daya beli turun, mau marketing segacor apa pun ga bisa jadi solusi
Kalo orang udah kerja 10–12 jam sehari tapi tetep sulit nabung, ada faktor ekonomi yang lebih besar daripada sekedar etos kerja
Jika biasanya saya sering update suhu panas, hujan dan persiapan menuju kemarau.
Ke depan saya akan mulai banyak update perkembangan El Nino.
Khususnya dampak dan mitigasi seputar El Nino yang mungkin belum pernah kamu tau sebelumnya.
Di usia 72 tahun, ia tidak mencuri untuk serakah, ia hanya mengambil sedikit getah karet agar istri dan cucunya tak kelaparan. Saat tak ada yang mau menolong, hukum datang lebih dulu daripada belas kasihan. Semoga keadilan hadir dengan hati, agar Kakek Mujiran bisa menghabiskan sisa usianya di rumah, bukan di balik jeruji.
#KeadilanBukanHanyaAturan
terharu banget after office lagi meriang terus di manggarai naik krl arah bogor ada segerombolan anak remaja, dia masuk duluan terus dapet duduk tapi akhirnya berdiri lagi sambil mereka ngingetin satu sama lain, “kita berdiri aja guys kita kan abis main, biar yang duduk kaka yang pulang kerja” 🥺
sederhana tapi sangat menyentuh, semoga kalian selalu diberikan keringan yaa dek🥹
Saya ada cerita seorang bapak.
Dia kerja 20 tahun buat biayain anaknya kuliah S1.
Lembur.
Utang.
Sampai jual tanah warisan.
Anaknya lulus. IPK bagus.
Wisuda lengkap dengan toga.
Sekarang anaknya kerja serabutan. Gaji di bawah UMR.
Dan si bapak masih senyum bilang,
"Mungkin belum rezekinya."
Yang bikin saya merenung bukan cerita anaknya.
Tapi cerita si bapak.
Dia lahir tahun 70-an.
Gak tamat SMA pun bisa buka toko,
punya rumah,
besarin anak dengan layak.
Logikanya simpel dan masuk akal:
"Dulu gw gak sekolah tinggi aja bisa. Kalau anak gw kuliah,
hidupnya pasti jauh lebih baik dari bapaknya."
Logika itu benar. Di zamannya.
Masalahnya bukan orang tua yang salah didik.
Bukan juga anaknya yang kurang usaha.
Tapi janji yang mereka pegang sudah kedaluwarsa.
Ijazah dulu adalah tiket.
Sekarang ijazah adalah syarat minimum.
Yang bahkan kadang pun masih belum cukup.
Dua hal yang kelihatannya sama, tapi sebetulnya beda jauh.
Bayangin ya.
Tahun 1995,
fresh graduate langsung diperebutkan perusahaan.
Sekarang,
lowongan entry level minta pengalaman 2 tahun,
skill digital, bisa multitasking, dan siap ditempatkan di mana saja.
Gajinya?
UMR aja belum tentu.
Hampir sama kalau dikonversi ke harga waktu itu.
Tapi harga rumah, kontrakan, dan beras sudah tidak ikut berdiam di angka yang sama.
Generasi 90-an pasti hafal nasihat ini:
"Rajin sekolah, biar dapat kerja bagus."
"Kuliah dulu, baru enak hidupnya."
"Investasi terbaik itu pendidikan."
Nasihat itu bukan bohong.
Di zamannya, itu benar dan terbukti.
Tapi zamannya sudah ganti.
Nasihatnya tidak ikut ganti.
Dan anak-anak kita tumbuh sambil pegang peta zaman dulu
yang sudah tidak cocok sama jalanan yang mereka hadapi sekarang.
Saya pernah ngobrol panjang sama seorang teman.
Dia cerita,
"Bokap gw sampai jual motor buat bayar UKT semester terakhir gw."
Saya tanya, "Sekarang kerjanya apa?"
"Freelance desain. Kadang ada job, kadang enggak."
"Bokap lu tau?"
"Tau. Dia bilang sabar, rezeki ada aja. Tapi gw liat matanya... dia bingung."
Si bapak bingung bukan karena anaknya gagal.
Tapi karena cara yang dulu berhasil sekarang tidak lagi bekerja.
Dan dia tidak punya peta baru untuk dikasih ke anaknya.
Kalau anakmu masih sekolah atau mau kuliah,
jangan cuma pikirin jurusannya.
Tapi ajarin juga:
1. Ajarin dia cara kerja uang sejak kecil.
2. Bekali satu skill konkret yang bisa langsung menghasilkan.
Sebelum dia lulus dan bingung mau mulai dari mana.
3. Kasih ruang buat gagal kecil sekarang.
Biar dia gak gagal besar pertama kali justru di dunia nyata.
4. Jangan cuma bekali ijazah. Bekali juga kemampuan bertahan.
Bukan berarti kuliah tidak penting. Tapi kuliah saja sudah tidak cukup.
Soalnya begini.
Orang tua yang paling menyiapkan anaknya bukan yang paling banyak bayar biaya kuliah.
Tapi yang paling jujur bisa ngomong ke anaknya:
"Dunia yang kamu masuki berbeda dari dunia yang Ayah dan Ibu kenal.
Kita harus cari tau bareng-bareng."
Kejujuran itu lebih berharga dari SPP mana pun.
Dan seperti biasa, selalu ada dua kubu.
Kubu pertama bilang,
"Orang tua salah. Harusnya ajarin skill, bukan kejar gelar."
Kubu kedua bilang,
"Orang tua sudah benar. Anaknya yang kurang mau usaha."
Tapi ada kemungkinan ketiga yang jarang ada yang mau nyebut:
Dua-duanya sudah berusaha sebaik yang mereka bisa dengan informasi yang mereka punya.
Tapi sistemnya yang tidak pernah jujur ke keduanya.
Generasi kita mungkin adalah generasi pertama yang hidupnya lebih susah dari orang tuanya.
Bukan karena malas. Bukan karena manja.
Tapi karena peta yang diajarkan ternyata sudah tidak relevan saat mereka datang.
Dan orang tua mereka masih dengan tulus menunjuk ke peta yang didapat dulu.
Profesor Herawati Sudoyo, Pahlawan Bom Bali yang "dikalahkan" oleh tembok birokrasi negara sendiri. Lo bayangin, kepolisian dunia aja hormat sama beliau karena sukses bongkar identitas pelaku Bom Bali cuma dari serpihan DNA. Tapi pas di negaranya sendiri, nasib beliau dan timnya malah berakhir ngenes gara-gara urusan administratif.
Namanya Prof. Herawati Sudoyo, salah satu otak paling cerdas di Lembaga Eijkman. Pas kejadian Bom Bali 2002, beliau dan timnya kerja gila-gilaan buat identifikasi pelaku lewat sisa-sisa DNA di lokasi ledakan. Berkat beliau, kasus-kasus terorisme besar bisa terungkap secara ilmiah.
Di tangan beliau, Lembaga Eijkman jadi markas riset genetika paling bergengsi di dunia. Bukan kaleng-kaleng, ilmuwan luar negeri aja segan sama riset mereka. Tapi ya gitu, musuh terberat orang pinter di sini bukan virus, tapi birokrasi.
Plot twist paling pahitnya terjadi awal 2022. Lembaga bersejarah ini dibubarin dan dilebur secara paksa ke instansi riset baru. Alhasil? Ratusan ilmuwan dan peneliti elit dipecat massal dalam semalam cuma karena mereka bukan PNS.
Bayangin, orang-orang yang udah ngabdi puluhan tahun demi kemajuan sains Indonesia, disuruh angkat kaki cuma karena masalah dokumen status pegawai. Dr. Herawati dan timnya harus ninggalin laboratorium tempat mereka nyetak sejarah internasional.
Ini jadi bukti nyata kalau di sini, "surat sakti" birokrasi kadang lebih berkuasa daripada otak jenius yang diakuin dunia. Padahal kita butuh lebih banyak orang kayak mereka, bukan malah bikin mereka "patah hati" sama negaranya sendiri.
Respek buat Prof. Herawati dan para ilmuwan Eijkman. Mereka udah kasih yang terbaik buat Indonesia, meskipun akhirnya harus "menelan luka" gara-gara sistem yang kaku. Pahlawan sains yang sebenernya.🫡✨
Seorang Guru Seni Rupa (Non PNS) di Sidoarjo menjadi viral karena berjualan sketsa gambar hasil tangan sendiri dengan harga sangat murah! 3 lembar sketsa hanya dijual seharga Rp1.000 dan 1 lembar yang sudah diwarnai juga dihargai Rp1.000.
Alasan beliau menjual karyanya sangat murah (Rp1.000 per 3 lembar) bener-bener bikin bangga. Beliau ingin semua anak bisa membeli dan mewarnai, terutama mereka yang nggak punya fasilitas printer di rumahnya.
via noviiseptia
Ridho usia nya baru 16 tahun, tapi beban yang dia pikul sudah cukup berat, karena dia harus membagi waktu antara sekolah, berjualan kopi keliling, dan merawat adiknya, Salsa, yang mengidap berbagai penyakit.
Dari hasil jualannya, buat beli obat adik nya biar tetap bertahan hidup.
Perjuangan Ridho ini sangat menyentuh hati.
Di saat remaja lain menikmati masa sekolah, dia memilih kuat demi keluarga 🥹
Gila ya, ada ilmuwan asli Medan yang jadi salah satu pionir teknologi halal paling canggih di dunia, tapi justru lebih dihargai di luar negeri.
Namanya Profesor Irwandi Jaswir. Lahir di Medan tahun 1970, dia berhasil ciptakan teknologi pelacak DNA babi dan alkohol di makanan serta kosmetik dengan kecepatan dan akurasi super tinggi. Dia juga kembangkan formula gelatin halal dari ikan dan unta, plus metode deteksi lain yang bantu jutaan umat Muslim di seluruh dunia memastikan produknya benar-benar halal.
Tapi ironisnya, saat dia mau bangun pusat riset halal besar-besaran di Indonesia, malah terbentur birokrasi yang lambat dan minimnya dana riset. Fasilitas kurang memadai, dukungan pemerintah waktu itu juga kurang maksimal. Akhirnya dia terima tawaran dari Malaysia.
Di sana, dia disambut bak raja. Dikasih laboratorium canggih, dana riset melimpah, dan langsung jadi profesor tetap di International Islamic University Malaysia (IIUM). Dia bahkan pimpin International Institute for Halal Research and Training (INHART) yang sekarang jadi salah satu pusat halal ternama dunia.
Puncaknya tahun 2018, dia dapat King Faisal International Prize, sering disebut "Nobel-nya dunia Islam", langsung dari Raja Arab Saudi. Penghargaan ini diberikan atas dedikasinya membangun "Halal Science" sebagai bidang ilmu baru.
Sekarang tahun 2026, Prof. Irwandi masih aktif di IIUM, terbitkan paper baru soal gelatin ikan, dan bahkan jadi board member di Halal Centre Saudi Food and Drug Authority. Penemuannya sudah dipakai oleh pabrik-pabrik global.
Gue pribadi sedih sekaligus bangga baca cerita ini. Bangga karena anak bangsa bisa sehebat itu. Sedih karena negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia justru kehilangan talenta seperti dia gara-gara brain drain klasik, kurangnya support riset dan birokrasi ribet.
Padahal industri halal dunia sudah bernilai triliunan dolar. Kita seharusnya jadi pemimpin, bukan cuma konsumen.
Semoga kedepannya Indonesia bisa lebih mendukung ilmuwan seperti beliau.
Kisah dua gadis SMU di Kalimantan Timur yang terperosok di jalan berlumpur dalam perjalanan menuju sekolah.
Bagaimana perasaanmu kalau harus "jatuh bangun" dalam arti yang sebenarnya agar bisa mengenyam pendidikan?
Samboja Lestari sedang sekarat. Kawasan yang susah payah direhabilitasi selama 20 tahun kini dikepung oleh ambisi tambang ilegal yang makin berani. Tidak ada lagi rasa aman bagi ratusan Orangutan dan Beruang Madu ketika alat berat mulai merangsek masuk ke jantung konservasi.Mirisnya, ini bukan sekadar soal kerusakan alam, tapi soal pembiaran. Bagaimana mungkin tambang ilegal bisa leluasa merusak benteng terakhir satwa endemik kita tanpa tindakan tegas?Hutan ini adalah rumah mereka, satu-satunya yang tersisa.
Jika hari ini kita diam melihat tambang ilegal menggerogoti Samboja Lestari, jangan kaget jika esok anak cucu kita hanya bisa melihat Orangutan lewat buku sejarah.Stop pembiaran. Stop kehancuran. ✋🦧
Punya beberapa kenalan yang udah dapat gelar PhD di physics, astronomy, computer science, engineering dari univ ternama diluar, tapi juga jadi ustadz di masyarakat nya, sering dakwah, punya program kemasyarakatan yang diusungnya, beberapa juga punya gelar di Islamic studies juga. Rendah hati pasti.
Inilah manusia2 yang udah bisa berpikir melampui produk zaman dan lingkungannya. Mereka ini sudah mendapat sebaik2nya rezeki, semoga istiqamah.
Abdi Nugroho, penjual mie ayam di Madiun, Jawa Timur, mempertahankan harga seporsi mie ayam Rp 8.000 sejak 2021 agar tetap bisa dijangkau semua kalangan, terutama warga yang sedang berjuang secara ekonomi.
Menurut Abdi, keputusannya ini didasarkan dari pengalamannya semasa mengalami kesulitan keuangan.
"Saya bertekad ketika kelak saya bisa berjualan, apa yang saya rasakan dulu tidak lagi dirasakan orang lain," ujarnya kepada https://t.co/DgEZMaei1Y, Rabu (6/5/2026).
Meski harga bahan baku naik, Abdi mengaku tidak takut rugi dan tetap menjaga rasa serta kualitas dagangannya.
🎥: IG @/mieayamtanggul
Kreatif: Blanka Rahel Maretha Joanne
Produser: Reza Kurnia Darmawan
~R #MieAyam #Viral #Read
Fun fact, sekolah² di negara maju eropa sudah mulai meninggalkan digitalisasi, balik ke tulis menulis manual. Penggunaan gadget/tab di sekolah dikurangi.
BGN tertawa melihat ini. Yustina Yuniarti, guru honorer yang mengajar siswa kelas V di SDK Wukur, Desa Sikka, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka, Flores, Nusa Tenggara Timur harus rela berjalan kaki sejauh 6 Kilometer setiap hari. Yustina diketahui menerima gaji 150 perbulan.
Oma Gill berkata saat pengalungan medali "The Young Team". Sbagian besar pemainnya bukan pemain yg sama di Uber Cup 2024 lalu. Smuanya ikut bertanding dgn porsi yg hampir sama. Tdk ada pemain yg datang hanya menjadi tim hore. Dan mereka pulang dgn bronze medal #TUC2026