Pergi dari sesuatu yang toxic itu mudah. Yang sulit adalah menghadapi trigger dan luka yang masih tertinggal setelahnya.
Healing bukan tentang melupakan, tapi tentang berhenti membiarkan masa lalu mengendalikan diri kita.
Kita semua pelacur di bumi ini
tanpa terkecuali.
Aku, kau, dia, bahkan mereka yang sibuk menunjuk dosa.
Kita hanya berbeda tarif :
ada yang menjual tubuh, ada yang menjual waktu, ada yang menjual nama Tuhan demi kursi dan tepuk tangan.
Kita semua berdiri dipasar yang sama, hanya lapaknya yang berbeda.
Dan dunia adalah germo tua yang hafal cara menawar manusia, maka jangan terlalu bangga jika kau pulang tanpa noda.
Bisa jadi bukan kau lebih suci hanya lebih pandai menyembunyikan jati diri.
MAAF YANG TAK PERNAH SELESAI
Aku pernah menjadi orang yang sangat mudah mengatakan, "Aku maafkan."
Bukan karena aku kuat.
Bukan juga karena aku tidak terluka.
Tapi karena dulu aku terlalu takut kehilangan seseorang hanya karena sebuah kesalahan.
Aku pikir, selama masih ada kata maaf, semuanya bisa diperbaiki.
Ternyata aku salah.
Ada kesalahan yang bisa diselesaikan dengan permintaan maaf.
Tapi ada juga kesalahan yang setelah dimaafkan, tetap meninggalkan bekas di dalam hati.
Dan aku pernah berada di sana.
Di satu titik, seseorang datang kepadaku dengan satu kata yang sederhana:
“Maaf.”
Aku membaca kata itu berkali-kali.
Tidak panjang.
Tidak dramatis.
Hanya "maaf".
Aku menatapnya cukup lama, lalu bertanya kepada diriku sendiri:
"Apakah aku harus langsung memaafkan hanya karena dia sudah meminta maaf?"
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Sebab yang rusak bukan hanya perasaan.
Yang rusak adalah kepercayaan.
Dan kepercayaan itu aneh.
Membangunnya membutuhkan waktu bertahun-tahun, tetapi menghancurkannya mungkin hanya membutuhkan satu kejadian.
Aku pernah mencoba memaafkan dengan cepat.
Aku bilang, "Tidak apa-apa." Padahal sebenarnya ada apa-apa.
Aku bilang, "Aku sudah lupa." Padahal setiap kali mengingatnya, luka itu masih terasa.
Aku bilang, "Sudahlah, jangan dibahas lagi." Padahal jauh di dalam hati, aku masih bertanya: “Kenapa kamu tega melakukan itu kepadaku?”
Mungkin di situlah kesalahan terbesarku.
Aku terlalu sibuk membuat orang lain merasa tenang, sampai lupa bahwa diriku sendiri sedang berantakan.
Kemudian aku belajar satu hal yang pahit:
Permintaan maaf tidak otomatis menghapus kesalahan. Dan memaafkan tidak otomatis mengembalikan kepercayaan.
Ada orang yang meminta maaf karena benar-benar menyesal. Ada pula yang meminta maaf hanya karena takut kehilangan kenyamanan.
Ada yang berkata “maaf” karena sadar telah menyakiti. Ada juga yang berkata “maaf” hanya agar percakapan segera selesai.
Dan kita sering tidak tahu, mana yang benar.
Karena itu aku mulai berhenti memaksa hati untuk segera memaafkan.
Bukan karena aku ingin menyimpan dendam.
Aku hanya ingin jujur kepada diriku sendiri. Kalau aku masih sakit, ya aku masih sakit. Kalau aku belum siap, ya aku belum siap. Kalau aku membutuhkan jarak, maka aku berhak mengambil jarak.
Bukankah aku juga manusia?
Aku sering mendengar:
“Tuhan saja Maha Pemaaf, masa kamu tidak bisa memaafkan?”
Dalam hati aku hanya bisa tersenyum.
Tuhan adalah Tuhan.
Aku manusia.
Aku punya batas.
Aku punya luka.
Aku punya ingatan.
Dan aku punya hak untuk membutuhkan waktu.
Bukan berarti aku lebih baik daripada Tuhan.
Aku hanya sedang berusaha berdamai dengan sesuatu yang pernah menghancurkan bagian tertentu dari diriku.
Pada akhirnya aku menyadari, meminta maaf dan memaafkan memang seperti sebuah transaksi.
Seseorang boleh datang membawa penyesalan.
Tetapi ia tidak bisa menentukan harga yang harus dibayar oleh hati orang yang terluka.
Maaf bukan barang yang bisa dipaksa untuk dijual.
Kalau pemiliknya belum rela memberikan, jangan memaksa.
Dan kalau suatu hari diberikan, jangan merasa bahwa dengan menerima maaf itu semuanya otomatis kembali seperti semula.
Karena ada sesuatu yang jauh lebih mahal daripada maaf:
kepercayaan.
Dan sekali kepercayaan hancur, tidak ada tanda tangan, sumpah, atau seribu kata yang bisa menjamin semuanya kembali seperti dulu.
Aku akhirnya memilih untuk tidak membenci.
Tapi aku juga tidak ingin kembali menjadi orang yang sama.
Aku memaafkan bukan berarti aku lupa.
Aku memaafkan bukan berarti aku setuju dengan apa yang pernah dilakukan.
Dan aku memaafkan bukan berarti kamu kembali memiliki tempat yang sama dalam hidupku.
Mungkin inilah bentuk kedewasaan yang paling menyakitkan:
memaafkan seseorang, tetapi tetap memilih pergi.
Tidak ada dendam.
Tidak ada makian.
Tidak ada keinginan membalas.
Hanya ada keputusan untuk tidak lagi membuka pintu yang sama.
Karena terkadang, kita tidak membutuhkan permintaan maaf untuk..
Mulut hanya menyampaikan apa yang sudah lama disimpan di dalam.
Sekasar apa pun kata yang keluar, ia tidak lahir dari udara kosong — ia lahir dari isi hati yang sudah lama terpendam.
Takdir memberi kita ruang untuk memilih, dan pilihan kita mencerminkan isi kepala. Sungguh ironis—saat ada banyak pintu keluar yang damai, tapi manusia justru memilih mendobrak tembok beton yang runtuhannya menimpa orang-orang di sekitarnya.
mekarlah di mana pun takdirmu menjatuhkanmu, tidak semua tanah akan menyambut akarmu, dan tidak setiap musim membawa cahaya, but keep growing, even slowly and unseen.
Tak perlu merendahkan diri hanya untuk sebuah tempat. Siapa pun yang sungguh-sungguh menghargai, akan selalu punya cara untuk membangku-kosongkan hatinya bagimu.
—arsualas
mata di balik cermin itu menatapku
dalam dan tajam
seolah menerawang
kedalaman kenang
yang masih bersemayam
di palung penantian
memang, betapa naif
terbius bayang-bayang fiktif
memaksa rindu mengais masa lalu.
#PuisiAmbyar@PemetikAksara
Yaa.. Allah, Sejak kecil kalahku sudah terlalu banyak, tapi kali ini sedang aku usahakan untuk tidak berisik,
Tolong panyungilah aku di sisa senyumku
ini, hingga hari bahagia ku tiba.
setelah lingsir malam merambat
ada, semacam bunyi; berdetak-detak
serupa jantung
yang pernah terdengar
dari peluk yang tak lagi utuh.
#puisipendek@PelangiPuisi
Hal yang vital adalah hatimu, meski ragamu di bawah naungan surga sekalipun, jika di dalam dadamu kacau mendegupkan ketidaknyaman, sehamparan bunga bertaburan akan kau rasa belati dan pisau yang berjatuhan.
@PemetikAksara#puisiambyar
Berapa banyak air mata yang diselamatkan Tuhan, demi agar retina kita tak memerah dan lebam diperah penyesalan; sebuah keinginan yang tak elok bagi kita menurut-Nya.
Lantas mengapa bersikeras menyapu remahan paku di atas jembatan tanpa ujung.
@PemetikAksara#mainkata
menemukan tulisan cantik:
“Kamu tidak akan pernah bisa
menghancurkan seorang wanita yang menemukan keindahan dalam segala
hal, bahkan dalam kesakitan.
Dia mengubah lukanya menjadi
kebijaksanaan, perjuangannya menjadi kekuatan, dan kemundurannya menjadi kebangkitan.”
sebelum semua berubah
ingat baik-baik bagaimana kembang makar.
di dalam waktu
tak henti-henti
cuaca menabur-tuai benih;
biji-biji yang tersemai.
rawat baik-baik
sebelum kelopak gugur
sebelum kian terlanjur.
sebab tiada utuh setelah jatuh.
aku takkan meratap,
tak sudi aku menaruh air mata basi di pipi.
luka ini, biar jadi api!
membakar kenangan yang membusuk.
dan kau?
pergilah!
bawa sisa bangkaimu itu.
—arsualas
Jauhkanlah aku dari berbagai topeng yang menggoda yang membuatku makin jauh dari jiwa yang ada dalam dada. Jauhlah aku dari segala bentuk keinginan dipandang sempurna padahal sedang berpura-pura. Jauhkanlah aku dari segala goda keindahan yang sementara dan kehilangan kata hatiku sendiri selamanya.