Ya Allah mudahkan lah rezeki aku buat beli apapun yang aku mau dan aku impikan🥹semoga aku bisa kerja yang aku impikan juga. Gaji yang besar,kerja yang nyaman, dapet atasan yang baik dan ketemu temen yang baik² pula, lingkungan kerja yang baik dan nyaman aamiin ya Allah😞
Tahun 2026 sudah mau berganti. Buang semua yang datang cuma bawa masalah. Tinggalkan yang mendekat cuma penuh drama. Jauhi yang palsu dan jadi benalu. Hidup sekali. Lakukan hal-hal terbaik yang kau ingini. Jika harimu selalu buruk, coba ganti sirkel yang lebih baik.
sedih bgt tinggal di indo. ngejar pendidikan susah,pas lulus cari kerja jg susah. bahkan buat dpt gaji minimum aja rasanya berat.
ya allah mudahkan rezeki kami dgn pekerjaan yg baik,harta yg halal berkah,kesehatan,umur yg cukup. pd waktunya nanti masukkan kami ke surga-mu aamiin.
Tuhan ga muluk2, pengen dpt kerja yang 8 jam kerja, gaji 2 digit, lingkungan kerja sehat, atasan baik ramah, sabtu minggu libur, diluar jam kerja gapernah diganggu soal kerjaan, tiap lg setres dpt izin cuti buat healing, dan kalo lg ujan bisa diizinin WFH, ada jam tidur siang juga, when yaa.
AUGUST IS GOING TO BE A GOOD MONTH.
AUGUST IS GOING TO BE A GOOD MONTH.
AUGUST IS GOING TO BE A GOOD MONTH.
AUGUST IS GOING TO BE A GOOD MONTH.
AUGUST IS GOING TO BE A GOOD MONTH.
AUGUST IS GOING TO BE A GOOD MONTH.
AUGUST IS GOING TO BE A GOOD MONTH.
Isyarat Sufi
Wahai pengembara jalan cinta, syair ini adalah kisah sebuah bunga yang rindu pulang kepada asalnya. Bunga itu adalah ruhmu. Ia tumbuh di taman dunia, meminum embun waktu, menari bersama angin peristiwa, lalu perlahan lupa bahwa ia bukan penghuni taman ini. Karena itulah Rumi mengirimkan angin sebagai pembawa pesan: "Kembalilah kepada kemanisan asalmu."
Bunga merasa dirinya bunga, padahal hakikatnya berasal dari gula. Ia mengagumi warna dan keharumannya sendiri, padahal sumber segala keindahan berada di tempat yang lebih dalam daripada warna dan aroma. Begitulah ruh manusia. Selama ia masih terpukau oleh bentuk dirinya, ia belum sampai kepada asalnya. Namun ketika ia melebur ke dalam samudra Sang Kekasih, bunga dan gula menjadi satu kemanisan yang tak dapat dipisahkan.
Rumi lalu mengajarkan rahasia perjalanan para pecinta: naiklah dari bumi menuju langit, dari maqam ke maqam, dari tabir ke tabir, hingga sampai kepada liqa’—perjumpaan. Akan tetapi, perjalanan itu bukanlah perjalanan kaki, melainkan perjalanan pelepasan. Sebab terdengar seruan dari alam rahasia:
"Lepaskan sayapmu, datanglah tanpa sayap."
Selama seorang salik masih terbang dengan sayap amalnya, ilmunya, kesalehannya, atau bahkan pengalaman ruhaninya, ia belum benar-benar sampai. Burung-burung dunia terbang dengan sayap, tetapi burung cinta terbang dengan ketidakberdayaan. Ketika semua sandaran runtuh, ketika tidak tersisa apa pun selain kebutuhan kepada Allah, saat itulah pintu kedekatan mulai terbuka.
Karena itu para arif tertawa kepada dunia. Bukan karena mereka membencinya, tetapi karena mereka telah melihat sesuatu yang lebih nyata daripada dunia. Mereka seperti seseorang yang telah menyaksikan lautan, lalu tidak lagi terpesona oleh genangan air. Mereka merobek pakaian-pakaian identitas yang menutupi ruhnya: pakaian nama, kedudukan, kebanggaan, dan segala yang disebut "aku". Sebab di hadapan Matahari Hakikat, semua pakaian itu hanyalah bayang-bayang yang sebentar lagi lenyap.
Kemudian Rumi menyingkap sebuah rahasia yang sangat halus. Ia berkata bahwa keberadaan manusia seperti besi, sedangkan kelembutan Tuhan seperti magnet. Besi tidak mengetahui mengapa ia bergerak; ia hanya merasakan tarikan yang tak mampu ditolaknya. Demikian pula hati para pecinta. Ada saat-saat ketika mereka merasa rindu tanpa mengetahui kepada siapa mereka rindu. Mereka menangis tanpa tahu apa yang hilang. Mereka mencari tanpa tahu apa yang dicari. Sesungguhnya itu adalah tarikan Sang Kekasih yang sedang memanggil mereka pulang.
Lalu besi itu ditempa. Dipukul dengan api, dibakar oleh ujian, dilebur oleh kerinduan. Bukan untuk menghancurkannya, melainkan agar ia berubah menjadi cermin. Sebab hati yang belum pecah oleh cinta belum mampu memantulkan cahaya. Setiap luka yang datang kepada para pecinta adalah pahatan Sang Pengukir pada cermin jiwa mereka.
Dan ketika perjalanan itu mencapai ujungnya, kata-kata pun menjadi tidak berdaya. Lidah berhenti, akal terdiam, dan hanya hati yang masih berbicara. Di sanalah Rumi berpaling kepada Syams, matahari ruhani yang membangkitkan seluruh keberadaannya. Sebab cahaya sejati tidak lahir dari huruf, suara, warna, atau rupa. Ia lahir dari perjumpaan.
Maka seluruh ghazal ini sesungguhnya adalah undangan untuk pulang. Pulang dari bunga menuju gula. Pulang dari bentuk menuju makna. Pulang dari diri menuju Dia.
Dan ketika perjalanan itu sempurna, sang pejalan akan menyadari bahwa sejak awal ia tidak pernah berjalan sendiri. Angin yang membimbingnya, kerinduan yang membakarnya, air mata yang mengalir dari matanya, bahkan jalan yang ia tempuh—semuanya adalah Sang Kekasih yang sedang menuntunnya kembali kepada Sang Kekasih.
"Jangan jadi cewek yang mudah jatuh cinta, tapi jadilah cewek yang berkelas, memberikan cinta hanya yang patut untuk dicintai. Jangan sembarang obral cinta, kalian perlu pilih-pilih menjatuhkan cinta pada orang yang tepat, bukan pada orang yang tiba-tiba minggat."
Ning Sheila Hasina
semoga secepatnya gue bisa dapet kerjaan yang lingkungan dan orang2nya baik, gaji oke, nggak jauh dari rumah, atasan baik, struktur jelas, dan tetep bisa handle hobi ataupun kegiatan pribadi lainnya 🤲🏻
Ada orang yang memilih tidur hampir seharian saat akhir pekan.
Bukan karena malas.
Tapi karena tubuh dan pikirannya sudah terlalu lelah.
Selama lima atau enam hari, ia harus bangun pagi, bekerja, menghadapi tekanan, menyelesaikan tanggung jawab, tetap ramah, tetap profesional, dan tetap terlihat baik-baik saja.
Akhir pekan menjadi satu-satunya waktu ketika tubuhnya akhirnya merasa cukup aman untuk benar-benar beristirahat.