Bali digital nomads view locals as inconvenient NPCs in their Eat, Pray, Love story. And until you threaten them with a permanent ban, they're going to keep doing this shit.
The biggest problem with nomads is that they are broke ass people in their own country and just leveraging on their currency to stay solvent in SEA, which is why you never see any “digital nomads” in Singapore. Cos those broke asses can’t afford it.
Padahal ini juga ada loh di alquran, sebagaimana anak perempuan yg belum nikah semua di tanggung oleh sang Ayah, paman (kalo yatim), saudara lelaki kalo punya.. dan saat nikah pun di tanggung oleh pasangan nya harus seperti ayah nya mengasihi dia sebelum nikah.. bahkan suami tidak berhak memakai uang sepersen pun dari warisan sang istri.. apa bila istri membantu, suami wajib mengganti uang/harta tersebut sesuai nominal.. surat an-nisa sudah menjelaskan secara detail padahal..
Bapak diminta gantiin pampers anak. Masangnya miring. Anak bocor. Kasur basah.
Istri dateng, ganti ulang, beresin kasur, ganti sprei.
Bapak berdiri di samping, angkat bahu: "Yaudah kamu aja deh, Ma. Aku emang gak jago ginian."
Bapak merasa itu pengakuan jujur atas kelemahan Bapak. Rendah hati. Bahkan mungkin lucu.
Pak, itu BUKAN kelemahan. Itu STRATEGI. Dan strategi itu punya nama di dunia psikologi: Weaponized Incompetence. Ketidakmampuan yang dijadikan senjata.
You're acting like Muslims are forcing something on Japanese society, but that's not what's happening at all. Nobody's making you eat halal food or pay for it. Halal food is there for Muslims, not for you.
And about the whole "When in Rome, do as the Romans do" thing... you're forgetting that there are Japanese Muslims too. Not every Muslim in Japan is an immigrant. Some are native Japanese citizens, and the government has every reason to accommodate its own people, so asking for halal options isn't playing the victim, it's a completely normal thing.
On top of that, Muslims are the ones opening halal businesses themselves. It's no different from my country, where pork and alcohol are available for Christians, not for us. We don't call that a burden on society, we call it respecting different beliefs.
So stop twisting the issue and looking at it from such a narrow-minded perspective. Having different food options in a developed country is completely normal. Honestly, I can't believe I even have to explain something this basic.
Bukan. Anda diserang bukan karena itu. Anda dikritik karena:
1. Tata kelolanya ngawur, rawan korupsi.
2. SPPG dimiliki oleh para pihak yg rawan konflik kepentingan seperti aparat, parpol dll.
3. Anda ga fokus ke yg benar2 membutuhkan. Minimal lakukan kajian akademis dulu sebelum eksekusi.
4. Anda memilih kepala BGN yg tdk kompeten, bahkan tidak punya latar belakang ahli gizi. Udah gitu korup pulak.
5. Makanannya ga berkualitas, bahkan banyak yg keracunan.
6. Masih banyak alasan lain, tapi yang jelas bukan karena anda mau ngasih makan anak indonesia. Jadi gausah dipelintir.
Atasanku yang seorang ADHD dan BPD survivor cerita, ketika dia pertama kali konsul dengan psikiater di London dan diminta untuk mendeskripsikan emosinya, dia kebingungan sendiri.
Dia pikir apa yang dia rasakan itu hanya sebatas sedih (sad), senang (happy), marah (anger). Tapi ternyata enggak!
Di LN, banyak bgt turunan dari emosi dasar itu kayak di dalam gambar ini.
Ternyata setelah aku baca2, bahasa Inggris banyak menyerap kata dari bahasa Jerman, Prancis, Latin, dan Yunani. Makanya mereka punya banyak sinonim untuk satu emosi dengan kadar keintiman berbeda.
Sedangkan budaya Indonesia secara sosiolinguistik cenderung lbh kolektif dan menghindari konfrontasi emosional yang terlalu blak-blakan (high-context culture), sehingga ekspresi emosi sering kali disalurkan lewat kiasan atau ekspresi non-verbal.