Hari ini suamiku ga sengaja jatuhin galon 19 liter, dapur langsung banjir. Anehnya, aku ga marah sama sekali. Aku bilang ke dia "Ga apa-apa aku beresin. Papa kalau masih banyak kerjaan ini ditinggal aja". Fyi suamiku kerja remote. Kejadian kecil ini justru membawaku kembali ke masa kecil. Dulu, setiap aku ceroboh, yang datang lebih dulu bukan pertolongan, melainkan bentakan, omelan, bahkan pukulan. Lama-lama aku tumbuh dengan perasaan bahwa melakukan kesalahan berarti aku pantas dimarahi.
Setelah menikah, aku mengenal sesuatu yang asing bagiku. Setiap kali aku melakukan kesalahan, suamiku ga pernah membentak atau membuatku merasa bodoh. Dia selalu bilang, "Nggak apa-apa, bisa diberesin." Kalimat itu terdengar sederhana, tapi buatku rasanya seperti menyembuhkan sesuatu yang udah lama terluka. Sedikit demi sedikit aku belajar bahwa kesalahan tidak selalu harus dibayar dengan kemarahan. Bahwa rumah bisa menjadi tempat yang aman, bukan tempat untuk takut.
Wajah jadi merah kalo mengangkat tangan seperti ini bukan lucu-lucuan ya! Ini adalah Pemberton's sign, yang merupakan tanda adanya sumbatan di pembuluh darah balik besar menuju ke jantung.
Pemeriksaan ini sederhana, namun efeknya besar, karena dalam hitungan detik hingga menit, wajah pasiennya akan nampak merah.
Penyebab paling sering adalah tumor paru, tiroid, atau tumor di area dinding dada yang menekan pembuluh darah besar, hingga aliran darahnya terhambat. Pasien juga bisa mengalami keluhan berupa lengan dan wajah bengkak.
Sumber Ilmiah:
Pemberton's Sign. NEJM.
Pernah baca tapi aku lupa di mana. Belanda membuat infrastruktur di sini tuh supaha bisa digunakan di tahun-tahun yang akan datang (mereka belum ada bayangan kalau Indonesia bakal merdeka). Makanya hasil kerjanya bagus