Take down aja kontennya, kita yang kerja di pemerintahan seakan kena fitnah mulu. Anggaran intansinya cuman 400miliar, cuman setengah anggaran mbg 1 hari.
Bukan liburan, itu nyari sinyal susah. Ngejer waktu presscon.
Lagi berdiri di kereta, sama sekali nggak minta duduk dan anteng aja berdiri melihat pemandangan lewat jendela.
3 ibu-ibu kasak-kusuk di depanku sambil buang muka. Aku nggak ngeh, ya diem aja.
Tiba-tiba salah satu nyeletuk, “Mba hamil?”
Aku jawab, “Enggak, Bu.”
Terus salah satu dari mereka turun dan tempatnya yang kosong ditempatin ibu-ibu lainnya.
Ibu yang baru itu nyolek aku, “Mbanya cacat, apa?”
Aku baru ngeh di tas aku ada tag disabilitas. 😆
Aku jawab, “Saya disabilitas mental, Bu. Tapi saya sudah minum obat, aman.”
Si ibu nyeletuk, “Cacat mental dia.”
Beberapa orang jadi ngelihat ke arah aku.
“Padahal cacat mental nggak usah pakai kartu gitu, kita jadi bingung. Kecuali kakinya atau tangannya nggak ada.”
Aku cuma senyum, nggak menanggapi. Maklum, nggak semua orang paham.
Kemudian ibu satu lagi kepo, “Mba kok bisa dapat kartu itu? Mba-nya kenal orang KAI?”
Aku jawab, “Enggak, Bu. Ini bisa daftar di stasiun mana aja, tapi pengambilannya di stasiun besar.”
Ibu kepo lagi, “Tapi kan mentalnya yang kena, bukan kakinya?”
Aku mulai hela napas. Okey... 😭
“Saya izin menjelaskan ya, Bu. Saya pakai kartu ini bukan untuk biar dikasih duduk. Ini saya pakai kalau saya lagi kambuh di luar, supaya petugas keamanan paham harus bawa saya ke mana, harus ngapain, dan harus berbuat apa.
Tapi kalau ada yang kasih saya duduk, ya Alhamdulillah. Saya nggak perlu menahan rasa sakit kepala saya.”
Ibunya ngangguk-ngangguk, mungkin mulai paham. Yang lainnya juga nyimak.
Aku udah kayak lagi bikin kuliah pagi. 😭
“Mba sakit apa?” kata si bapak yang berdiri.
“Saya bipolar disorder.”
Ibu pertama tadi kaget, “Mba-nya ODGJ gitu?”
Aku ketawa, “ODMK, Bu. Orang dengan gangguan mental. Belum sampai jiwa sih, semoga enggak.”
“Ohhh...” hampir bersamaan dua ibu itu bereaksi.
Terus mereka bisik-bisik, “Tapi sakit begitu ngamuk-ngamuk gitu, nggak?”
Aku nyengir lagi, “Bisa jadi, Bu. Tapi saya kan kontrol psikiater, jadi aman.”
Mereka berdua angguk-angguk lagi.
Berhubung sudah sampai Stasiun Angke, aku izin bye-bye.
Sekian cerita pagi ini. 😭
P.S. Istilah sebenarnya ODMK (Orang dengan Masalah Kejiwaan), bukan ODGM. 🤣 Ya ampun, maaf ya, Bu... semoga Ibu nggak googling. 😭😭
Menurut kalian, masih banyak nggak sih orang yang belum paham kalau disabilitas itu nggak selalu kelihatan secara fisik?
andai gua cantik sesuai standar masyarakat, gw cmn perlu joget brazil atau lypsinc lagu yg ga gw hapal trus boom viral dmn mn lalu dpt endors dari glad2glow scora scintific trus tinggal slow living
Gue baru sadar hubungan 4 tahun gue harus selesai pas gue terbaring di IGD karena kolaps kerjaan, dan cowok gue cuma ngechat: 'Yang, makan siang aku gimana? Aku bingung cara redeem voucher GoFood yang di akun kamu.' Jam 2 siang, infus masih menggantung, dada gue sesek, dan di saat fisik gue remuk total, fokus utama laki-laki yang udah 4 tahun nemenin gue cuma seputar perutnya sendiri.
Sebagai anak sulung umur 27 tahun yang kerja jadi Senior Marketing Executive di Jakarta, gue terbiasa jadi 'penyelamat'. Nanggung bayaran kuliah adik, kelarin revisi deck jam 2 pagi, sampai ngurusin hal sepele cowok gue—mulai dari bayar listrik kosannya sampai urusan laundry. Gue selalu merasa, untuk bisa dicintai dan dihargai, gue harus terbukti 'berguna' dulu buat semua orang.
Tapi hari itu bener-bener puncaknya. Badan gue gemeteran, vonis dokter bilang gue burnout parah plus asam lambung kronis. Bukannya nanya keadaan gue gimana atau mau nyamperin ke rumah sakit, dia malah minta ditransfer uang kopi karena 'males top up e-wallet sendiri'. Di ranjang IGD yang dingin itu, kepala gue rasanya ditampar kenyataan paling pahit seumur hidup.
Selama 4 tahun ini, gue kira dia manja karena sayang. Ternyata itu weaponized incompetence—dia sengaja berpura-pura nggak bisa dan nggak paham biar gue yang ngerjain semuanya. Dan bodohnya, luka keberhargaan diri gue merespons itu sebagai bentuk kebutuhan. Gue ngerasa dibutuhkan, padahal gue cuma lagi dimanfaatin sama orang yang enggan bertumbuh dewasa.
Sambil nahan perih bekas jarum infus, jari gue gemeteran ngetik balasan: 'Login sendiri. Dan mulai hari ini, belajar ngurus hidup kamu sendiri. Kita selesai.' Dia langsung berondong telfon puluhan kali, panik—bukan karena takut kehilangan gue, tapi karena kehilangan fasilitas gratis yang selama ini gue sediakan atas nama 'cinta'.
Malam itu gue pulang naik Grab sendirian, bawa kantong obat yang berat. Tapi herannya, dada gue rasanya jauh lebih lapang dari biasanya. Gue baru sadar, kita nggak perlu terus-menerus terbukti berguna hanya untuk layak dicintai. Melepaskan orang yang sengaja bertindak tidak berdaya ternyata adalah bentuk tertinggi dari mencintai diri sendiri.
@sasa_azhara but its just unwritten rule buat pasang bendera setiap independence days. itu menghargai pejuang yang dulu gugur (dan juga selamat ofc) buat ngusir penjajah dan bawa indonesia merdeka
hate government boleh..but dont hate the country. our country is beautiful with its history