prabowo nih ditanyain soal IHSG anjlok bilangnya "rakyat desa ga main saham", sekarang pas rupiah lagi lemah ngomongnya "rakyat desa nggak pakai dollar".
rakyat desa rakyat desa mulu ajg, lu itu presiden bgst, bukan lurah.
RELATE BGT.
Suamiku super hands on ke anak. (I'm lucky I have him) tp ternyata tidak menjamin ga ada pikiran2 aneh di kepalaku.
Bahkan krn suamiku jg hands on, aku jg check on him. Dia baby blues ga ๐
Namanya bayi ya. Nempel 24 jam non stop ke ibu bapaknya. Itu GILA BGT RASANYA.
Ada di momen2 tertentu aku pingin masukin kepala di dalam bak air. Biar ga denger suara apa2 lagi.
Kaya pingin tenggelemin kepala aja. Tapi gak aku lakuin. Karena setiap saat suamiku selalu nanya, 'You okay? You need what? You want to be alone?' Padahal at the same time dia yg ngurus anak.
Dia yg mandiin. Dia yg nidurin. Bahkan dia kadang ngasi ASI via sendok kecil krn payudaraku kesakitan setiap saat harus mengASIhi anak.
Ada momen kita berdua sama2 mau gila, kita minta ibu aku untuk gendong anak kami sebentar. Kita cuma baring aja di kamar berdua sambil napas dan dengerin musik. Dapet santai 15 menit abis itu pegang anak lagi.
Pokoknya gila deh.
Buat aku, sosok Ibu dan Bapak yg hands on sama anak itu luar biasa. Terutama Ibu ya. Berbaik hatilah sama Ibu. Mungkin itu kenapa ada istilah surga di telapak kaki ibu, karena dia bukan cuma korban nyawa buat ngelahirin anaknya. Tapi dia ngorbanin jati diri dia seutuhnya.
Badan seisi2nya berubah. Isi kepala seisi2nya berubah.
Mau dipermak pake operasi plastik dan olahraga pun, kalo uda jadi IBU, semua BERUBAH. Can't explain
Cewe ditanya mau makan apa dan jawabannya โterserahโ itu sering bukan karena dia bener-bener ngga tau mau makan apa. Tapi karena dia ngga mau nambah beban ke cowonya. Takut dibilang ribet, takut cowonya capek, atau takut pilihan dia nggak cocok.
Jadi jawab terserah sebenernya ini bentuk peduli ke cowonya juga, biar ga ngerasa terbebani sama keinginan cewe โบ๏ธ
relationship yg monoton, flat, ga selalu ada sparks, tapi sayang banget satu sama lain tuh pertanda kalo kamu lagi ada di relationship yg sehat. ga banyak drama, ngerti kesibukan, ga ributin hal sepele, tenang dan secure.
Gue kemarin baca novel Crazy Rich Asians. Ada ucapan dari Eleanor Young yang nyantol di kepala:
Bahwa momentum itu lebih menentukan jadi/tidaknya sebuah hubungan ke pernikahan. Dari sekadar besaran rasa cinta itu sendiri.
Misal, pas sekolah / kuliah suka banget banget sama seseorang. Tp lu ga siap mental, pikiran, ekonomi, dsb. Pokoknya ga ready aja. Segimanapun berdua saling suka, kalau momentumnya ga pas, ya bisa aja bubar. Misal, pacaran tp jadi posesif atau suka berantem krn blm siap utk difficult conversation.
Tp kalo udh nemu momentumnya, misal udah stabil kerjaannya, udah lebih dewasa, dsb, maka lu bs aja nikah sama seseorang yang cinta-nya "just ok", ga harus menggebu2 kayak pas first love jaman muda dulu.
durasi terlalu lama itu gak enak, bosen, bikin sakit badan dan bisa buat vagina luka karna udah kering tapi masih di gesek. durasi normal bisa dari 3-10 menit aja. lebih dari itu udah gak enak
sex itu bonus, mending lamain di cuddle and deeptalk
Buat "Tim yang Oral", please be aware ya. Sekarang "oral s*x" sudah menjadi main factor Kanker Tenggorokkan menggeser Rokok dan Alkohol.
Human papillomavirus (HPV) telah menggantikan tembakau dan alkohol sebagai penyebab utama kanker orofaringeal. Galur spesifik ini, yang paling umum adalah HPV-16, menyerang amandel dan bagian belakang tenggorokan, tempat virus tersebut dapat bertahan dan bereplikasi.
Meskipun tubuh mampu membersihkan sebagian besar infeksi HPV, kasus yang menetap dapat memicu perubahan seluler yang berkembang menjadi keganasan seiring berjalannya waktu.
Saat ini, HPV bertanggung jawab atas sekitar 70% hingga 85% dari semua diagnosis kanker tenggorokan di beberapa negara Barat, yang menandai titik balik kesehatan masyarakat.
Penelitian menunjukkan bahwa risiko tertular kanker ini berkaitan langsung dengan riwayat seksual, karena virus tersebut ditularkan terutama melalui seks oral.
Studi menunjukkan bahwa jumlah pasangan seksual seumur hidup yang lebih banyak berkorelasi dengan risiko infeksi yang lebih besar, dengan pria secara signifikan lebih rentan terhadap HPV oral dibandingkan wanita.
Ahli kesehatan masyarakat menekankan bahwa vaksinasi HPV tetap menjadi tindakan pencegahan yang paling efektif, terutama bila diberikan kepada orang dewasa muda, bersamaan dengan peningkatan kesadaran akan risiko yang terkait dengan penularan oral.