Di Italia, ada pejabat khusus yg bertugas mengundi dan menunjuk wasit untuk setiap pertandingan. Manajer Umum Juventus saat itu, Luciano Moggi, terbukti memegang kendali penuh atas penunjuk wasit utama Serie A yaitu Pierluigi Pairetto dan Paolo Bergamo.
Melalui telepon, Moggi mendikte wasit mana saja yg boleh memimpin laga Juventus dan wasit mana saja yang dilarang karena dianggap "tidak ramah" pada Juventus.
Parahnya lagi, jika wasit yg ditunjuk gak mengikuti arahan atau merugikan Juventus, Moggi akan memastikan karier wasit tersebut tamat (diturunkan ke kasta bawah atau tidak diberi jatah memimpin laga besar).
Salah satu insiden terkenal adalah saat Moggi mengunci wasit Gianluca Paparesta di ruang ganti setelah laga karena dinilai membuat keputusan yang merugikan Juventus.
Moggi memiliki anak bernama Alessandro Moggi, yang mendirikan agensi pemain raksasa bernama GEA World. Agensi ini mengontrol mayoritas hak agen pesepak bola dan pelatih top di Serie A pada masa itu.
Menggunakan kekuasaan GEA World, Moggi bs mengancam pemain atau pelatih dari klub lain unt tunduk pd kemauannya jika karier mereka ingin selamat. Ini memberi Juventus kekuatan buat mendikte klub-klub kecil dlm menentukan siapa pemain yang boleh dibeli, dijual, atau dicadangkan.
Untuk menyembunyikan operasi ini dr penyadapan kepolisian Italia, Moggi membeli ratusan SIM card rahasia dari Swiss dan Slovenia. Kartu-kartu ini dia bagikan kepada jaringan wasit, penunjuk wasit, dan kroni-kroninya agar komunikasi mereka tidak bisa disadap. Apesnya kepolisian Italia berhasil mencium taktik ini dan melacak sinyal serta pergerakan nomor-nomor internasional tsb
Source :
https://t.co/gKvo7USdE8
https://t.co/pFbaEO16Mf
https://t.co/kddpALfCsM
https://t.co/YeVldhhpZw
https://t.co/W3ppwFJn7c
Semua fakta ini sudah teruji di peradilan pidana resmi, bukan sekadar opini atau narasi karangan media semata.
Nonton sampe tuntas yah bro @dennyindrayana
…pun buat tim hore-nya siapa tau minat. Kalau ini beneran sayembara duitnya ada, bukan kek Denny bikin sayembara sampai detik ini tak ada peminat & klo uangnya memang ada dikemanain??
Segitunya tak percaya bahwa saya obyektif, orang-orang komentar di twit saya di bawah ini dengan emosi dan nggak percaya bahwa saya tak pernah dukung Gibran.
Dari sejak sebelum dicalonkan, saat dicalonkan, saat pilpres, setelah pilpres, saya tak pernah mendukung Gibran.
Sama sekali nggak sulit mengecek jejak digital saya tentang ini.
Alasan saya dari awal cukup jelas dan obyektif: pertama, saya tak suka Jokowi mencalonkan anaknya. Kedua, Gibran menurut saya tak punya kapasitas untuk jadi wapres.
Dua alasan itu adalah alasan obyektif untuk saya sehingga saya tak pernah dukung Gibran. Tapi bukan berarti lalu harus setuju sama Denny Indrayana menyerang Gibran pakai alasan ijazah SMA yang cuma cari perhatian saja.
Dan karena saya obyektif, alias tidak fanatik, ketidaksetjuan saya terhadap Gibran tidak kemudian menjadikan semua hal yang dilakukan Gibran menjadi salah dan saya harus benci Jokowi. Itu kan nggak nyambung.
Itulah kenapa kita selalu berdoa:
"Allahumma arinal haqqo haqqon warzuqnat-tibaa'ahu, wa arinal bathila bathilan warzuqnaj-tinabah",
"Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami kebenaran sejati sebagai kebenaran dan berilah kami kekuatan untuk mengikutinya. Dan tunjukkanlah kepada kami kebatilan sebagai kebatilan dan berilah kami kekuatan untuk menjauhinya."
Denny Indrayana sudah tahu persis bahwa gugatannya pasti gagal karena dia juga tahu bahwa ijazah SMA tak lagi diperlukan jika ada gelar sarjana di luar negeri.
Tapi kan tujuannya memang bukan untuk menang. Tujuannya sama dengan Roy Suryo yang cuma bikin gaduh saja dari kalangan oposisi di level: kroco.
Di level Mahfud MD, nggak akan mau diajak bikin gaduh untuk sesuatu yang jelas gagal seperti ini.
Bayangkan, menggugat dengan alasan ijazah SMA-nya nggak ada padahal memang ijazah SMA tidak diperlukan. Apa sebutannya kalau bukan cari panggung?
Meski begitu, para pendukungnya di bawah bersorak seakan itu membuka kebenaran. Yang disorakin pun makin bersemangat.
Lha dari dulu saat menjabat wali kota kok nggak ada yang mempermasalahkan pendidikan Gibran?
Para oposisi yang level atas nggak mungkin bahas soal ini. Ini hanya untuk hiburan para kroco saja.
Dan dengan memakai jalur gugatan seperti ini, nggak ada risiko pidana bagi Denny. Risikonya hanya berupa: gugatannya ditolak. Sudah.
Yg menggugat sebenarnya juga bukan orang bodoh atau minim informasi. Mrk pasti tahu bahwa ijazah itu sah & benar.
Kasus ijazah Mas Gibran maupun Pak Jokowi terkesan bukan lagi mencari kebenaran, tetapi terus dipaksakan utk merusak citra & kredibilitas bapak & anak, lalu menggiring opini agar para pembenci yg mudah percaya ikut menelannya.
Dulu kalian bilang, kalau bukan Gibran wakilnya, ada partai yg keluar dari koalisi. Katanya, Gibranlah yg mempersatukan partai-partai pendukung.
Tapi ketika Gibran diusik para pecundang itu, kalian malah diam.
Jangan-jangan, kalian juga bagian dari gerombolan yg sama, haus kekuasaan, takut kehilangan jabatan.