perlu diingat jg: ambisi sering terlihat “accessible” bagi mereka yg sistemnya sudah berpihak - tp bagi banyak org lain, mimpi itu mahal. bkn krn nggak mau, tp karena nggak punya ruang untuk memilih. byk orang sdh terlalu sibuk bertahan hidup - gimana mau pny ruang utk berambisi?
di psikologi/sosiologi modern, term 'toxic' toxic dynamics/environment itu lumrah dipakai buat mendeskripsikan pola/interaksi yg secara empiris menghasilkan distres klinis. jd bilang itu toxic, ak lg ngukur impact realitasnya ke mental, BUKAN ngasih vonis halal/haram teologis
bisa jadi ini bukan cuma pertahanan diri biasa. di psikologi, taktik "kalah debat tapi playing victim" salah satunya bisa dikaitkan dengan istilah DARVO (deny, attack, reverse victim and offender) ini taktik manipulasi ego. pas diajak adu argumen pake data, bakal nolak fakta (deny), nyerang personal (attack), dan playing victim seolah jadi korban, terus yang ngasih kritik objektif malah dituduh jadi penjahatnya (reverse victim and offender). makanya pas otaknya ga nyampe buat counter argumen pake data, dia milih lari ke ranah emosional bisa lewat ss atau framing sedih di lapaknya sendiri biar dapet validasi. tujuannya murni ngubah narasi dari "dia yang salah" jadi "dia yang diserang"
terus gmn cara ngadepinnya?
- jangan kepancing emosi. tujuan dia emang mancing yg ngekritik biar marah, supaya keliatan beneran jahat
- tetep stuck to the facts. fokus ke data awal, ga usah nanggapin dramanya.
- kalau dia makin tantrum caper? tinggalin aja buang-buang energi
indons’ homophobia is really rooted in pure misogyny cause how are you calling a literal married couple (luna maya & husband) “penyimpangan” just bc “reverse wedding attire” and calling a straight man baskara boti cause he’s an ally