Saya selalu percaya seseorang entah siapapun itu, sampai pada akhirnya orang itu sendiri yang membuktikan bahwa dirinya tidak bisa dipercaya. Memang benar tidak semua hal harus dibicarakan, tapi bukankah semua hal yang sudah disepakati seharusnya ditepati?
GILAAA SIH INI‼️
jadi ada mahasiswa di US, nulis tesis 30 HALAMAN selama 6 BULAN. BENERAN ngetik sendiri. BUKAN ChatGPT. BUKAN JOKI.
history Google Docs-nya ada semua. dari draft jelek, typo, revisi, sampe final. timestamp jelas dari januari sampe juni.
pas sidang, kampus bilang:
"AI detector lu 98% NIH. LU PASTI CURANG."
dia bawa laptop. "pak/bu, INI HISTORY SAYA. bisa diliat sendiri."
jawaban pihak kampus?
"NGGAK PERLU DILIAT."
Busett dahh😭
sebenarnya lebih takut dgn keadaan sekarang, udah gak ada demo-demo lagi, tapi kalau ngobrol sesama warga hampir rata semua merasa kuatir dengan kondisi ekonomi, kayak semua pada lagi marah tapi cuma ditahan, dan nunggu momen yg tepat.
tenang tapi kayak nggak tenang
Baru beres nonton video ini di yt.
Dan saya tersadarkan kalo menjamurnya org yg jualan seblak, cilok, gorengan dan pedagang olahan tepung lainnya di jalanan bukanlah tanda kebangkitan ekonomi rakyat, tpi sinyal keputusasaan (necessity entrepreneurship) untuk menutupi status pengangguran.
Setidaknya ada 6 poin yg saya dapati :
• Jebakan low barrier to entry: Bisnis olahan tepung dipilih cuma krn modalnya murah dan gk butuh keahlian khusus.
Dampaknya, terjadi ledakan keseragaman yg memicu kanibalisme ekonomi (sesama pedagang kecil saling mematikan di radius beberapa meter saja)
• Romantisasi penderitaan oleh negara: Narasi "UMKM Pahlawan Ekonomi" dikritik sebagai alat politik agar negara bisa lepas tangan dari kewajiban menyediakan lapangan kerja formal dan jaring pengaman sosial.
• Paradoks data pengangguran: Angka pengangguran resmi terlihat turun, tpi pekerja sektor informal melonjak smpe 60%. Ini adalah fenomena pengangguran terselubung, tercatat bekerja, tapi pendapatan minim dan gk menentu.
• Perang Harga vs Hancurnya Daya Beli: Di tengah inflasi dan turunnya kasta kelas menengah, merek bukan lagi faktor penting. Pedagang terpaksa memotong margin keuntungan demi mempertahankan konsumen yg sensitif harga.
• Ironi "Negara Tepung" yg 100% Impor: Indonesia menopang jutaan pedagang kecil dari komoditas yg gak bisa tumbuh di tanah sendiri. Ketergantungan impor gandum yg mutlak membuat nasib pedagang cilok di jalanan sangat rentan terhadap konflik geopolitik dunia dan kurs Dolar.
• Model bisnis ini udah di titik jenuh. Para pedagang seperti berjalan di tempat, bekerja keras 12 jam sehari menghirup asap jalanan, tetapi posisi finansialnya gk bergeser maju sama sekali.
Source : https://t.co/YnzpIZpO3L
@LambeSahamjja nanti paling ada yang komen ya makanya kerja lebih keras, jangan nyalahin pemerintah. bro, ini harga barang pokok naiknya gak ngotak, mau kerja rodi 24 jam juga tetep bonyok kalau regulasinya ampas begini
udah terlalu ga percaya sama negara sampe liat berita penangkapan gini bukannya excited.. yg muncul dipikiran malah "hadeh main drama apaan lagi nih mereka."
REPUBLIK INI SUNGGUH SESAK DAN BERISIK SEKALI DALAM 72 jam terkahir:
- nyinyiran kosong Seskab ke Pak Dino
- sidang panas di pengadilan Nadiem (sampe mati lampu)
- tuntutan geli-geli 2.5th kasus Andrie Yunus
- pencopotan si Botak Dadan sampe ditahan Kejaksaan
- kasus korupsi imigrasi, katanya wamen imigrasi hilang
- kurs Dollar/Rupiah cetak rekor Rp 18.000
Belum pernah semuak ini jadi WNI!😭🤬🫵🔥😵💫😇