@txtfrombrand Gue selalu berdoa siapa pun atau apa pun yg sengaja bikin orang dlm posisi PKWT dan sengaja ga diangkat kartap > 5 tahun, semoga pas lu sekarat malaikat maut sengaja bangunin lu tiap kali lu mau nutup mata selamanya sampe lu minta dimatiin secara paksa.
BREAKING!
Warga Papua Selatan hari ini resmi gugat Menteri Kehutanan RI, Raja Juli Antoni, yang keluarkan Surat Keputusan (SK) No. 591 berisi rencana mengubah 486 ribu hektare tanah adat mereka jadi PSN Pangan dan Bioenergi.
Gugatan ini jadi bukti bahwa “Pesta Babi” adalah realita yang terjadi di Papua Selatan hari ini. Di mana kebijakan negara jadi alat legitimasi pemusnahan ruang hidup masyarakat.
Kenapa warga menggugat?
Woiiii
Ini gk bs masuk sbg jenis sapi kurban, krn pake uang apbn
Ini masuknya cm sekedar sapi potong biasa
Gk ada pahala kurban didlmnya
Jgn menyesatkan ummat, kurban itu hrs pk harta pribadi & itupun hrs halal
Gk blh pk apbn
WOWO kurban 1.098 sapi dananya dari APBN, kurban atas nama PRABOWO SUBIANTO
kalau pake dana APBN sebutnya jangan dari Presiden dong, yang berkurban adalah rakyat indonesia yang bayar PAJAK
Mumpung postingan MBG masih anget.
Saya mau sharing dikit tentang pelaksanaan MBG di tempatku bekerja.
Sekolah kami sudah beberapa minggu ini AKHIRNYA kebagian MBG juga. Pada mulanya sekolah menolak. Tapi kata dinas, sekolah tidak boleh menolak; yang boleh menolak adalah orang tua siswa. Dan jadilah divoting berapa yang mau menerima MBG, dan diberikan jumlah omprengan sesuai dengan yang mau menerima. Jadilah sekolah kami menjadi penerima MBG.
Sebagai latar sedikit, sekolah kami itu rata2 menengah ke atas. Yang sekolah aja ada yang pake Hyundai Kona. Liburan ke luar negari. Kalau lulus kuliahnya kedokteran, PETRA, atawa ke luar negeri. Saya di sana mengampu persiapan SAT bagi mereka yang mau ke LN (sambil tipis2 ngajarin mereka investasi saham pakai simulator).
Sekolah ternyata memang "agak" dipaksa untuk menerima MBG. Jika menolak, ada kemungkinan BOS-nya juga akan ditarik karena dianggap sudah mampu. Dan saya mendengar hal yang sama juga dialami beberapa sekolah lain yang muridnya banyak menengah ke atas.
Untungnya SPPG-nya lumayan. Minimal dari beberapa minggu ini saya amati menunya lumayan. Ayam teriyaki, ayam pop corn; buahnya jeruk potong, semangka, melon, dll. Kalaupun ada kekurangan, hanya masalah porsi. Tahu sendiri anak2 usia SMA, terutama yang cowok2, porsi makannya kayak apa.
Dari pengalaman ini saya melihat bahwa sebenarnya BGN itu hanya ngejar angka. Berapa jumlah siswa yang menerima MBG, berapa sekolah, dll. Mereka tidak peduli apakah itu tepat sasaran atau tidak. Lah, sekolah kami yang murid2nya lebih dari mampu juga diberi MBG. Dengan "sedikit" paksaan lagi, kalau menolak akan ditarik dana bantuan pemerintah.
Anak2 mungkin senang2 saja dikasih makan gratis. Tapi yang mengeluh adalah ibu kantin yang omsetnya mulai turun.
Dan siapa yang paling dirugikan? Tentu saja mereka yang bisa jadi tidak menerima gaji karena anggaran negara mulai seret diserap oleh MBG: para PPPK, guru dan nakes. Bahwa setiap bulir beras MBG kepada yang tidak berhak bernilai tetes darah mereka yang mengabdi sebagai pegawai dan terancam tak digaji.
Wacana penutupan program studi yang dianggap tidak relevan dengan industri ini memunculkan pertanyaan dan kekhawatiran.
Ada kebijakan yang tampak efisien dalam jangka pendek, tapi bila tidak hati-hati, justru membelokkan arah perjalanan bangsa dalam jangka panjang. Sambil menunggu informasi lengkapnya, izinkan berbagi tentang paradigma ilmu murni dan ilmu terapan ini.
Ilmu murni kerap dipandang jauh dari praktik. Seolah berdiri di menara gading, tidak menyentuh denyut kebutuhan industri. Padahal, di sanalah akar dari hampir seluruh inovasi yang kita gunakan hari ini berasal. Rumus-rumus yang tampak abstrak, teori-teori yang dulu dianggap “tidak berguna”, justru melahirkan teknologi yang kini kita anggap keniscayaan.
Kita menikmati internet, kecerdasan buatan, hingga kemajuan di bidang kesehatan, tapi tak selalu ingat bahwa fondasinya dibangun oleh para ilmuwan yang bekerja tanpa kepastian aplikasi. Mereka meneliti bukan berbasis permintaan pasar, tetapi karena keingintahuan memahami bagaimana dunia bekerja.
Kita perlu ingat bahwa relevansi tidak selalu bisa diukur dalam horizon waktu yang pendek. Apa yang hari ini tampak tidak terkait industri, bisa jadi esok hari menjadi tulang punggungnya.
Negara yang hanya menyiapkan tenaga siap pakai, tanpa melahirkan pemikir-pemikir dasar, berisiko terjebak sebagai pengguna belaka. Kita menjadi pasar, bukan pencipta. Kita mengimpor solusi, alih-alih menghasilkan jawaban dari dalam negeri dan membaginya kepada dunia.
Lebih jauh lagi, kebijakan publik yang kuat juga lahir dari pemahaman dasar yang kokoh. Mulai dari ilmu epidemiologi (berbasis matematika dan biologi dasar) yang berjasa besar saat pandemi, lalu ilmu lingkungan (ekologi dan geofisika) dalam menghadapi bencana perubahan iklim, hingga ekonomi teoretis dalam merancang kebijakan fiskal. Semua itu berakar pada ilmu-ilmu yang sering dianggap “tidak praktis”.
Menutup atau melemahkan ilmu murni berarti mengurangi kemampuan kita untuk memahami dunia secara mendalam. Tanpa pemahaman itu, keputusan kita mudah terjebak jadi dangkal.
Tentu, keterhubungan dengan industri itu penting. Bila suka apel bukan berarti benci jeruk. ;)
Perguruan tinggi jelas tidak boleh terlepas dari kebutuhan zaman. Namun, menjawab tantangan itu tidak harus dengan menutup ilmu murni. Yang diperlukan adalah menjembatani, bukan menggantikan. Menguatkan ekosistem, bukan menyederhanakan secara berlebihan.
Pada akhirnya, pendidikan tinggi bukanlah soal mencetak pekerja bagi industri, tetapi tentang menyiapkan masa depan dan membangun peradaban bangsa.
Masa depan itu tidak pernah dibangun hanya dari apa yang terlihat berguna hari ini, pun membangun peradaban tak boleh direduksi jadi sekadar membangun industri.
Maka, barangkali yang perlu kita jaga adalah keseimbangan. Antara yang langsung terpakai dan yang menjadi fondasi. Antara keterampilan dan pemikiran. Antara kebutuhan hari ini dan visi hari esok.
Dengan menjaga keseimbangan itulah, kita dapat berdiri tegak sebagai bangsa yang tak hanya mengikuti kemajuan dunia, tetapi juga menciptakannya.