Adik-adik, kakak-kakak semuanya. Kali ini gw mau bicara tentang sesuatu yang sudah menyiksa rakyat Indonesia selama bertahun-tahun. Bukan korupsi. Bukan inflasi. Tapi sesuatu yang lo rasain setiap kali mau mudik atau liburan dan buka aplikasi Traveloka, lalu langsung menutup aplikasinya lagi karena tidak sanggup melihat angkanya.
Yes. Tiket pesawat domestik Indonesia. Yang harganya bisa lebih mahal dari tiket ke luar negeri. Yang bikin relawan bencana harus muter lewat Malaysia dulu baru bisa ke Aceh. Yang udah dikeluhkan jutaan orang tapi tidak pernah beneran berubah.
Gw udah baca risetnya. Gw udah cek datanya. Dan sekarang gw mau cerita ke lo semua, pelan-pelan, dengan bahasa yang bisa dimengerti semua orang, kenapa ini terjadi dan siapa yang sebetulnya diuntungkan dari penderitaan kita bersama. 🧵
Hello Lola, I am a Muslim, and our spiritual tradition has a very deep approach to raising children. I want to share some tips from our scholars that will be beneficial to you regardless of your faith.
First of all, our theology teaches the concept of Fitrah. This means that every child is born with a pure heart. At six years old, she is not a criminal mastermind. She does not have a wicked soul.
If she doesn’t have all these, then what is happening? The truth is that she is just lacking impulse control and testing boundaries. By this, if you look at her as a manipulator, you will fight her. However, if you look at her as a pure soul making mistakes, you will be able to guide her.
Secondly, for every problem anyone faces today, it has been solved in history. The only problem is how to locate them.
A classical scholar named Al-Ghazali wrote about child psychology over 900 years ago in his famous book “Ihya Ulum al-Din.” In his section on disciplining children, he gave a practical rule I want you to adopt going forward.
He advised that parents should never push a child into a corner where they are forced to lie. When you ask a question you already know the answer to, her survival instinct kicks in. She cries and she lies to defend herself because she is scared of you. Stop interrogating her. Just look at her and state the fact. Say, I know you took this, and we are going to return it right now.
Again, another scholar and sociologist Ibn Khaldun addressed this exact behavior in his masterpiece titled: “Al-Muqaddimah.” He warned that when a child is raised with harsh punishment, they learn deceit, trickery, and lying to protect themselves. This is why she is covering her tracks and crying to manipulate you. The fear of a harsh reaction is making her a better liar.
Lola, do not attach a label to her. Do not ever call her a thief. If you attack her identity instead of her action, she will internalize it and grow into that dark label. Tell her the action is wrong but protect her dignity.
Make her return the item. Do not fall for the tears. Hold her hand, walk her back to wherever she took it from, and make her hand it back and apologize. The discomfort of returning a stolen item teaches a much better lesson than beating her will ever do.
Finally, I don’t know if you are a Muslim, but never underestimate the power of your own words. In our faith, we believe the prayer of a parent for a child goes straight to God without any barrier. Pray over her. Pray for her heart to be content and for her character to be straight.
Keep doing this consistently and the habit will break.
Allah knows best.
Kumpulan tulisan belajar saham dari dasar.
Minggu 1 → bangun mental (pondasi psikologi).
Minggu 2 → kuasai manajemen risiko & strategi.
Minggu 3 → pahami fundamental & valuasi.
Minggu 4 → pakai teknikal untuk timing + market behavior ⬇️
Awal puasa dan lebaran nggak barengan tuh udah terjadi sejak lama dan udah biasa sebenernya.
Entah kenapa di sosmed tiap taun ramenya kayak pada baru ngalamin pertama kali 😅😅
Tentang Menentukan Arah.
Cerita pendek.
Ikan yang sudah berada dalam genggaman, menggelepar lalu jatuh ke laut kemudian hilang ditelan gelombang.
Anak nelayan menatap sisik yang tertinggal di telapak tangan lalu mengeluh “Mengapa aku selalu gagal?”
Perahunya dipenuhi sampah2 yang tadi terjaring, dari botol shampo hingga pelepah pisang.
Matahari sudah mulai turun di ufuk barat, pertanda malam sebentar lagi akan datang menggantikan siang. Bocah nelayan mengelap keringat di keningnya lalu mengambil dayung, hari ini dia kembali pulang dengan tangan kosong.
“Bu, kenapa ya saya selalu gagal?” Anak nelayan menarik kursi lalu duduk menaruh caping bambunya di atas meja dapur.
Ibunya yang tengah menghadap kompor menghentikan kegiatannya lalu ikut duduk, mereka kini berhadapan.
“Kamu kenapa mau jadi nelayan?” Ibu tersenyum menatap anak bungsunya itu.
“Ya bapak kan nelayan bu, saya harus bisa, kan saya anak nelayan.”
“Trus kenapa gagal terus?” Ibu kembali tersenyum, nadanya mengejek.
Si anak nelayan cemberut lalu menjawab “Ya gimana ya bu, saya udah berusaha.”
Ibunya bangkit dari duduk lalu kembali melanjutkan kegiatannya mengaduk sayur.
“Ibu masak apa?” Anak nelayan bertanya sembari membersihkan sisik-sisik ikan yang tadi tertinggal di tangannya.
“Ikan goreng sama sayur lodeh.” Ibu menjawab sambil mematikan kompor. “Ibu kalau mau dapat ikan mah gampang, tinggal ke pasar.” Ibunya menoleh lalu mengedipkan mata, kembali mengejek.
“Yaaah ibuuu.” Si anak nelayan protes.
Ibunya menaruh sayur yang baru matang ke atas meja, kemudian duduk lalu menatap anaknya itu, kali ini dengan muka serius.
“Kemarin pas radio kita rusak siapa yang benerin?”
“Saya buk.”
“Waktu motor bapak mogok, siapa yang betulin?”
“Saya juga bu.”
“Tau dari mana caranya?” Ibu tersenyum lembut.
“Saya kan perhatikan Pak Sutarman montir di bengkel depan kerja Bu, kan gampang banget, tinggal diingat aja.” Anak nelayan menjawab.
“Masa? Ibu pelototin Pak Sutarman kerja seharian juga gak bakalan ngerti.”
Si anak nelayan menatap ibunya, bingung hendak menjawab apa.
Ibunya kemudian mengusap kepala anak itu dengan pelan, lalu berkata..
“Maksud ibu tu gini, kalau kamu jagonya megang mesin, ngapain panas2an mancing pelepah pisang? Menjaring botol shampo?”
Untuk beberapa saat keduanya bertatapan dalam diam, lalu si anak tersenyum menatap ibunya.
“Iya juga ya bu.” Mukanya sekarang terlihat ceria.
Ibunya tertawa kecil lalu bangkit dari duduknya.
“Udah sana kamu mandi, abis itu bantuin ibu nyiapin meja makan, bentar lagi bapak pulang.”
Tamat.
Salah satu keputusan terbaikku dalam hidup adalah aku gak berhenti jualan koran
Dulu saat kuliah pada rentang waktu 1992 - 1997, aku jualan koran di RS Sardjito, hanya untuk sekadar bisa makan di hari itu.
Selepas sholat subuh, aku ngambil koran KR, Suara Merdeka dan Kompas di depan RS Panti Rapih, kemudian berjalan ke RS Sardjito utk menjualnya.
Harga tiket di Traveloka NAIK setiap kali lo cek.
BUKAN karena seat makin dikit dan orang udah pada beli, tapi ini algoritma.
Gue cek tiket Jakarta-Bali kemarin. Rp850rb.
Cek lagi 2 jam kemudian. Rp1.1jt.
Pake HP temen? Balik ke Rp870rb.
Mereka pake dynamic pricing buat maksimalin revenue.
Kita bisa lawan algoritma mereka.
Ini cara yang gue lakuin buat hemat tiket pesawat yang Traveloka gak mau lo tau:
Kamu pernah bayar kelas seharga 12 juta tapi cuman dapet motivasi? Mending beli sapi 😂😂
Yuk kita belajar membaca laporan keuangan pake bahasa bayi, Gratis!! 👇
Cara Tau Saham Mau di Backdoor Lebih Dulu Dari yang Lain
PANI naik +1.201 %, PACK +1.847 %, IATA +516 %
Semua backdoor listing ini punya satu kesamaan, dan semuanya pasti melewati satu proses yang namanya Konversi Scriptless Yuk kita bahas
Rahasia Menyaring “Saham Turnaround”
Multibagger dari saham Turnaround bukanlah omong kosong
MORA +1.388%
PGUN+828%
ATAP +433 %
VKTR +392 %
Sudah menjadi buktinya
Bagaimana kita membuat screener untuk menemukan saham turnaround?
Yuk kita belajar
Sesudah menghilangkan kesal pada Fedi, dan sesudah melakukan refleksi lebih mendalam pada film Pangku, inilah ulasannya. Perlu beberapa kali menulis ulang agar tertuang semua yang dirasakan saat menonton.
Ada film yang selesai kita tonton, lalu kita pulang dan hidup seperti biasa. Ada juga film yang membuat kita pulang dengan cara pandang yang berubah. Pangku berada di kelompok kedua.
Dalam debut penyutradaraannya ini, Reza Rahadian memilih menaruh kamera sebagai saksi yang tenang. Di sudut-sudut Pantura, di antara perempuan yang memikul beban rumah tangga sendirian, di warung-warung kecil yang menjadi ruang bekerja sekaligus ruang tawar-menawar martabat.
Di sana kita bertemu Sartika, seorang ibu yang harus menghidupi diri dan anaknya di tengah krisis ekonomi, tanpa pegangan selain tekad untuk bertahan. Kita melihat dilemanya sebagai ibu tunggal dengan perasaan sepi dan kegelisahan akan dokumen yang tak lengkap. Di titik itu film ini mengingatkan kita bahwa keleluasaan memilih adalah sesuatu yang ikut direnggut oleh kemiskinan.
Reza tidak menampilkan fenomena “kopi pangku” dalam film ini sebagai sensasi, melainkan sebagai gejala dari struktur yang timpang. Perempuan dijerumuskan ke dalam keterpaksaan yang berisiko, sementara laki-laki kerap digambarkan punya kelapangan yang lebih besar untuk datang dan pergi. Walau demikian, film ini tidak menghakimi para tokohnya, tapi memperlihatkan bagaimana lingkungan dan ekonomi bisa menyudutkan seseorang ke pojok yang sempit.
Di balik semua itu, terlihat betapa serius Reza menggarap karyanya. Christine Hakim mengatakan bahwa momen nafasnya pun diatur oleh Reza. Ia juga ingat terakhir kali ia disutradarai sedemikian ketatnya adalah oleh almarhum Teguh Karya. Ia benar. Ada ketelitian dan obsesi pada kesempurnaan dalam pembuatan film ini yang mengingatkan pada tradisi Teguh Karya.
Perhatian pada detail membuat dunia Pantura dalam film ini terasa dekat. Kulit yang tampak lengket oleh keringat, pakaian yang terlihat benar-benar usang, hingga ornamen kecil di warung dan rumah. Semuanya membuat kita merasakan gerahnya udara pesisir dan lelah yang menempel di tubuh para tokohnya. Tidak ada glamor yang dipaksakan, yang ada adalah keotentikan yang sering menyesakkan.
Secara alur, Pangku bergerak pelan. Dialognya irit, tapi justru karena jarang, tiap kalimat jadi terasa penting. Seperti pemahat yang mengikis batu karena yakin bentuk patungnya sudah ada di dalam sana, Reza dan tim menyingkirkan kata-kata yang tidak perlu. Sisanya diserahkan pada tatapan, gestur, dan keheningan.
Di sisi peran, Claresta Taufan memberi tubuh dan jiwa pada sosok Sartika. Rapuh dan lelah, tapi enggan menyerah. Christine Hakim adalah Christine Hakim, seorang maestro. Ia memberikan lapisan emosi yang halus pada tokoh Bu Maya. Hangat dan manipulatif dalam satu tarikan nafas. Sementara Shakeel Fauzi sebagai Bayu menjadi pintu empati penonton terhadap anak-anak yang tumbuh dalam keluarga yang “tidak lengkap” di mata masyarakat. Fedi Nuril kembali menambah lapisan dilema moral dalam cerita.
Bagi saya, film tidak punya kewajiban untuk mendidik. Tugas utamanya adalah membangkitkan emosi yang membekas, entah itu tawa, takut, haru, atau geram. Tetapi ketika emosi itu membuat kita merenungkan cara kita memperlakukan ibu-ibu tunggal yang dipinggirkan, anak-anak dengan hak-hak yang diremehkan, dan mereka yang terpinggirkan tanpa dukungan, di situlah film ini berperan lebih jauh sebagai medium pengingat dan pembuka kesadaran.
Pangku tidak memberi kita daftar pesan moral, tapi memberi kita pengalaman. Dari pengalaman itulah, pelan-pelan, kesadaran sosial ikut terbangun. Maka untuk itu, kita berterima kasih kepada Reza, seluruh aktor dan awak yang telah menghadirkan film ini bagi bangsa. Maju terus perfilman Indonesia!
https://t.co/L5xAE4jGEO
Serius, aku selalu nangis kalo ingat waluh kukus. Sekarang juga nie ngetik sambil mbrebes mili.
Aku cerita yah, kayaknya bakal agak alay. Tapi ini 100% bener, sumpah.
Pas sampai di ember waluh kukus makku, dia nyuma nyeker-nyeker pake ujung jari kayak orang jijik. Sambil ngomong, "Hiii panganan opo iki? Mosok koyok taek ngene dikekno uwong?"
(Hi, makanan apaan nih? Masa bentuk kek tai gini dikasih ke orang?)
Aku piye dengar org bilang gitu?