Orang dibayar layak 2-3x UMR dan transparan dibilang eksploitasi
Orang dibayar ratusan juta dibilang hoax, eksploitasi, ga napak, “kang pajak mampir sini kang”, bubble, kumpeninya bentar lagi layoff
Gw saranin lu pada isep kontol lu sendiri biar mingkem
Isfa is one of the kindest, most humble, and most skilled Android devs I've ever had the chance to work with while building my last startup.
If the criminalization against me hadn't happened, our startup would have closed Series A funding and scaled to a 30-person dev team by now. But alas, I'm not in a position to make Isfa an offer, though I'd jump at the chance to work with him again.
I can attest that Isfa is firmly among the top 0.1% of tech talent in Indonesia, and he's being laid off through no fault of his own. Life just dealt him an unfortunate circumstance, one that I'm absolutely sure he'll overcome and come back stronger from.
One last thing from me: somebody in Indo please hire him before an overseas company hands him a #kaburajadulu offer. Losing him would be a real blow to our tech ecosystem.
Kalau di USG PEREMPUAN, tapi yang lahir LAKI-LAKI gimana dong dok?
Cerita dari Bang Raditya Dika,waktu anak pertamanya di usg :
👩⚕️: anaknya perempuan.
👱🏼♂️: (teringat semua wanita-wanita yang pernah dia sakiti)
👩⚕️: Biasanya ada kasus di bulan kedelapan atau kesembilan dia berubah jadi laki-laki
👱🏼♂️: Beneran dok?
👩⚕️: iya bener-bener
👱🏼♂️: (kalau anaknya berubah kelamin di bulan segitu, berarti dia punya titit sangat kecil😭 karena kan baru tumbuh. Lebih baik anak perempuan dari pada anak laki-laki tapi tititnya kecil)
Sampai dirumah, bang Radit ngobrol sama mamanya:
👱🏼♂️: anaknya perempuan ma
👵🏻: oiya?
👱🏼♂️: Iya, kata dokter bisa berubah, di bulan kedelapan jadi cowok
👵🏻: Oh.. kayak kamu dong!
👱🏼♂️: HAAAH BERARTI……
🤣🤣🤣🤣
Gua ada salah saru tips sederhana bagaimana melihat pria itu serius dekati wanita atau enggak. Pengalaman pribadi, ya.
Pria tersebut berani jemput wanita didepan rumah/kost nya. Terlepas jemputnya pakai kendaraan/tidak, ini sudah basic manner as pria.
Apalagi, jika pria tersebut berani izin ajak jalan si wanita ke orangtuanya. TOP!
Jangan lupa, dianterin pulang. Pria berani jemput, berani juga antar pulang.
@vier4x4 Sebagai leader, gua bilangnya "Biar saya aja yang handle",
Sebagai bawahan, gua bilangnya, "Izin saya jelasin dikit ya pak."
Sebagai teman selevel, gua bilangnya, "Sebelum kerja di sini lo pernah sekolah?"
Besok, apapun keputusan dari Majelis Hakim, akan menentukan masa depan keluarga kami. Masa depan saya sebagai seorang istri bersama kedua anak kami.
Sebelum keputusan besok, perkenankan saya membagikan setidaknya dua fakta yang sudah terungkap di persidangan.
Satu fakta dari sidang bulan lalu, kesaksian di bawah sumpah bahwa aplikasi superapp tidak pernah dirancang atau diarahkan untuk hanya bisa jalan di Chromebook.
Saksi juga menyatakan, tujuan dari superapp ini adalah melayani sebanyak mungkin guru dan murid, jadi bisa jalan di Windows juga.
Ini Ibam, bicara sendiri agar Ririe terlindungi.
Betul, ketika belum jadi tersangka, saya dapat ancaman: buat pernyataan "mengarah ke atas" kalau tidak kasusnya "akan diperluas".
Saya tolak, ngga mau bohong & zalim.
Tiga minggu kemudian, saya jadi tersangka.
Saya tolak bukan untuk lindungi Nadiem, tapi karena memang ngga pernah ada arahan dari Nadiem ke saya agar pengadaannya jadi Chromebook semua.
Seperti yang terungkap dari 22x sidang, tidak ada sama sekali arahan dari atas seperti itu. Saya hanya diminta memberi masukan netral dan objektif sebagai konsultan.
Artinya, ketika menerima ancaman tersebut saya dihadapkan ke dua pilihan:
Berbohong mengarang cerita menuduh orang lain untuk menyelamatkan diri sendiri.
Atau, berpegang kepada integritas, kejujuran, dan kebenaran yang saya yakini, dan menolak untuk berbohong.
Dengan shalat istikharah dan kesadaran penuh akan risikonya, saya memilih jalan yang kedua: kejujuran.
Insya Allah selalu berpegang pada kejujuran akan berujung pada kebaikan untuk saya, Ririe, dan keluarga kecil kami. Kalau tidak di dunia, maka di akhirat kelak.
Lalu jawabannya apa ketika saya menolak untuk berbohong? "Oke, kami perluas.”
Saya tidak berdaya. Ya Allah, apa lagi yang bisa kami lakukan ketika dihadapkan pada pilihan seperti itu? Pegangan kami hanya prinsip integritas dan kejujuran.
Ketika konsekuensinya beberapa minggu kemudian saya dinyatakan tersangka, kami hanya bisa memperbanyak istighfar dan ikhtiar.
Kami jalani dan hormati proses hukum yang ada dengan tabah, kami berniat jelaskan di persidangan fakta-fakta yang membuat terang, kami masih percaya dengan hukum Indonesia.
Mungkin ngga banyak yang tahu, tapi Ririe istri saya adalah seorang sarjana dan magister hukum. Di Belanda dulu kami banting tulang nabung dan berhemat banyak, supaya bisa bayar uang kuliah S2 Ririe.
Dari Ririe, saya belajar banyak tentang hukum Indonesia, apa saja yang mungkin terjadi, dan bagaimana hukum kita tetap memungkinkan pembelaan yang efektif.
Baik, mari berjuang di persidangan, luruskan seluruh tuduhan. Satu persatu fakta di persidangan muncul dengan terang benderang, satu persatu tuduhan bisa kami bantah.
Sampai akhir rangkaian sidang, 57 orang saksi dihadirkan, tidak ada bukti saya menerima keuntungan dari perkara ini, tidak ada bukti masukan saya karena konflik kepentingan, tidak ada bukti saya mengarahkan.
Yang terungkap malah saya sebagai konsultan sudah menyarankan Chromebook diuji dulu, pejabat menolak pengujian dan memutus Chromebook, nama saya dicatut di SK, masukan saya dipelintir.
Kami merasa pembelaan hukum kami sudah maksimal, kebenaran sudah terungkap, tinggal menumpu harapan pada keadilan dan kebijaksanaan dari majelis hakim yang mulia, yang kami merasa sudah sangat objektif dan penuh kearifan sepanjang persidangan.
Namun, ketika JPU menyebutkan tuntutan 15 tahun penjara, denda Rp1 miliar, uang pengganti Rp16,9 miliar subsider 7,5 tahun penjara tambahan...
Ini titik kezaliman yang sangat terang benderang, tekanan kepentingan yang sangat kentara, saya memutuskan pembelaan saya tidak lagi bisa hanya di persidangan.
Besok saya akan sidang pembelaan (pleidoi) dan kami bersurat kepada Presiden @prabowo Subianto serta @KomisiIII DPR, untuk memohon perlindungan hukum dari kriminalisasi, ketidakadilan, intimidasi, serta pengkambinghitaman yang sudah sekentara ini.
Kami takut untuk bicara? Takut ada intimidasi lain? Itu risiko yang jelas, tapi kami tidak gentar. Tuntutan 22,5 tahun dan belasan miliar yang tidak mampu kami bayar mungkin dianggap akan membuat kami terdiam, tapi kami malah semakin berani untuk melawan kriminalisasi ini.
Mohon bantuan, dukungan, dan perlindungannya dari masyarakat Indonesia, dari pekerja kreatif dan pekerja pengetahuan, serta dari semua yang ingin bantu negara atau takut dizalimi negara.
Kami berjuang bukan untuk kami sendiri, tapi agar tidak ada lagi kriminalisasi dan ketakutan bagi mereka yang tulus mau bantu Indonesia. Kami masih percaya Indonesia bisa menjaga dan menghadirkan keadilan dalam kasus kami.
Gw bukan Ibam dan ga tau isi kepala dia, tapi gw mau coba share beberapa sudut pandang untuk kepercayaan gw ini:
Ibam bener2 punya intensi mulia untuk dunia pendidikan Indonesia.
-> lanjut
CTO: We lost our strongest backend engineer today.
Founder: The one handling infra and outages?
CTO: Yes.
Founder: Did a bigger company hire him?
CTO: No.
Founder: Then why quit?
CTO: He said he was exhausted.
Founder: From the workload?
CTO: Not exactly. From watching the same database bottleneck, same queue lag, same deployment mistakes come back every month.
Founder: That happens in fast moving teams.
CTO: He agreed. What he could not accept was that every fix was temporary because nobody wanted to slow down and clean the system properly.
Founder: We had deadlines.
CTO: He had standards.
Founder: So he left because the work was hard?
CTO: No. He left because he was not doing engineering anymore. He was just containing damage.
The best engineers do not hate hard problems.
They hate preventable problems that management keeps normalizing.