Alhamdulillah, akhirnya Panduan Pendidikan Keamanan Siber yang telah kami susun bersama tim dari PUSKURJAR Kemendikdasmen, Badan Siber dan Sandi Negara, para praktisi serta perwakilan pendidik telah terbit dan dapat diunduh di https://t.co/QJroUSZrdX
Dokumen ini merupakan panduan komprehensif yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia untuk membekali institusi pendidikan, pendidik, orang tua, dan pelbagai pihak dengan strategi melindungi pelajar di ruang siber.
coba rename file .exe lo jadi .pdf, kirim ke email sendiri, icon-nya bakal muncul sebagai PDF.
OS lo tetep percaya, ekstensi file itu cuma label yang siapapun bisa ketik.
Magika dari Google — 1MB deep learning model yang baca struktur konten, bukan cuma magic bytes di awal file. 99% akurat, 5ms/file.
"file" command umur 53 taun. ini pengganti pertamanya yang beneran.
cara install? cukup "pip install magika"
IT guy here☝️🤓
Mau nambahin, kalau kalian parno-an mending di berlakukan ke segala jenis url yang kalian share. Caranya cmn perlu delete query/teks setelah simbol tanda tanya
(cont)
Yg menarik justru di kalangan warga yg berpendapatan rendah kepuasan terhadap MBG malah negatif. Universalitas MBG malah memicu perasaan di kaum miskin bahwa MBG tak seharusnya dikasihkan buat semua, apalagi buat warga yg berkecukupan.
Pernahkan Bapak/Ibu memandu anak untuk mengerjakan soal matematika/fisika dengan metode *diketahui*, *ditanya*, *jawab*?
Jika ya, pertahankan! Karena dengan metode seperti itu, anak menggunakan dasar *berpikir komputasional* atau *computational thinking/CT*.
CT adalah cara berpikir (a way of thinking) yang biasa digunakan oleh ilmuwan komputer untuk memecahkan masalah.
Mari kita bedah coretan pada gambar terlampir berdasarkan 4 fondasi utama Computational Thinking:
1. Dekomposisi (Decomposition)
Siswa tidak mencoba memecahkan masalah besar (menghitung volume bangun gabungan yang kompleks) sekaligus. Ia memecah masalah tersebut menjadi beberapa sub-masalah yang lebih kecil dan mudah dikelola:
Sub-masalah 1: Mencari tinggi limas yang belum diketahui.
Sub-masalah 2: Menghitung volume bagian limas.
Sub-masalah 3: Menghitung volume bagian kubus.
Sub-masalah 4: Menjumlahkan semuanya.
2. Pengenalan Pola (Pattern Recognition)
Siswa mengenali pola-pola yang ada di dalam gambar tersebut:
Ia menyadari bahwa bangun tersebut memiliki bentuk simetris, yaitu limas di atas dan di bawah ukurannya sama. Oleh karena itu, ia menerapkan pengenalan pola dengan tidak menghitung limas satu per satu, melainkan langsung menggunakan pengali dua V 2 limas = 2 x (...).
Ia juga mengenali pola segitiga siku-siku di dalam potongan limas, sehingga memicunya untuk menggunakan Teorema Pythagoras untuk mencari tinggi
3. Abstraksi (Abstraction)
Siswa menyaring informasi yang tidak penting dan hanya mengambil data yang esensial. Ia menerjemahkan gambar visual 3D tersebut ke dalam bentuk variabel-variabel inti yang dibutuhkan untuk perhitungan, yaitu tinggi segitiga, alas limas, dan rusuk kubus. Ia mengabaikan detail lain dari gambar dan hanya fokus pada model geometrisnya.
4. Berpikir Algoritmik (Algorithmic Thinking)
Siswa menyusun langkah-langkah penyelesaian (algoritma) yang sangat terstruktur, jelas, dan berurutan dari atas ke bawah.
Inisialisasi variabel: Menuliskan diketahui dan ditanya.
Proses 1: Cari dulu tinggi limas (proses ini seperti memanggil fungsi pembantu/ helper function sebelum masuk ke fungsi utama).
Proses 2: Menghitung Volume limas.
Proses 3: Menghitung Volume kubus.
Output: Menjumlahkan hasil proses 2 dan 3 ke dalam Volume Gabungan.
*Konsep Debugging*
Sebagai pendidik, gambar ini juga memberikan momen untuk mengajarkan konsep CT kelima, yaitu Debugging.
Jika diperhatikan pada bagian Volume kubus, kerangka algoritmanya sudah sangat benar, tetapi ada "logical error" atau bug pada rumus yang dimasukkan. Siswa menggunakan rumus Luas Permukaan Kubus, padahal yang dibutuhkan adalah rumus Volume.
Menganalisis jawaban ini di kelas bisa melatih anak-anak untuk tidak hanya peduli pada "hasil akhir", tetapi juga melacak bug baris-demi-baris pada sebuah sistem yang secara alur sudah logis, namun outputnya keliru.
Kemarin, saat saya mengenalkan situs Peta Nusa (https://t.co/Tp0l4mccBS) di X, ada yang bertanya apa fungsi peta dengan format GeoJSON. Saya sudah balas secara singkat di postingan terkait, tetapi mungkin perlu penjelasan yang lebih panjang.
Jadi, GeoJSON adalah format untuk menyimpan data geografis seperti titik, garis, dan area. Salah satu yang bisa disimpan dalam format GeoJSON adalah peta batas wilayah. Nah, peta batas wilayah di situs Peta Nusa menggunakan format GeoJSON ini.
Lalu, apa fungsi peta dengan format GeoJSON? Salah satunya untuk visualisasi data dalam bentuk peta. Kalau kita ingin membuat peta sebaran sekolah di Jakarta, misalnya, kita bisa pakai peta Jakarta dalam format GeoJSON untuk membuat visualisasi data itu.
Untuk membuat visualisasi dengan peta GeoJSON, kita bisa menggunakan sejumlah software GIS, seperti QGIS dan ArcGIS. Bisa juga memakai tools visualisasi data berbasis website seperti https://t.co/grktFws32T dan https://t.co/QDyh8P8sak.
Di dunia jurnalistik, peta dengan format GeoJSON banyak digunakan dalam praktik jurnalisme data. Banyak jurnalis di Indonesia, termasuk saya, menggunakan peta berformat GeoJSON untuk membuat visualisasi data dalam bentuk peta.
Selain visualisasi data, peta GeoJSON juga bisa dipakai untuk membuat visualisasi peta di website atau aplikasi. Bahkan, data batas wilayah di situs Peta Nusa juga diambil dari proyek bernama Laravel Nusa (cek https://t.co/s2b04nDLzg) yang tujuan utamanya untuk memudahkan pengembangan aplikasi/website yang membutuhkan data geografis wilayah Indonesia.
Di bawah ini adalah peta sebaran halte bus di Yogyakarta yang saya buat di Flourish. Saya pakai peta GeoJSON dari Peta Nusa untuk bikin visualisasi ini. Data lokasi halte bersumber dari OpenStreetMap yang juga saya unduh via Peta Nusa.
Versi interaktif dari peta ini bisa dicek di https://t.co/A47X6pfdeE
Kawan2 yang butuh, peta wilayah Indonesia dalam format GeoJSON, silakan cek https://t.co/4ITu22D2tf. Tersedia peta provinsi, kabupaten/kota, kecamatan, dan desa/kelurahan.
Data batas wilayah diambil dari API Laravel Nusa: https://t.co/zWy2EoSE2f
Melinda Gates responds after Epstein Files suggest Bill Gates got an STD from “Russian girls” and planned to secretly medicate her.
NPR: “The emails in the files suggest that Bill Gates had additional affairs and that he tried to get medication to treat a sexually transmitted infection, and that he was going to give you the medicine without you knowing. His representative has said all of this is false… What is your dominant emotion when you read these news articles with these details?”
MELINDA GATES: “Sad. Just unbelievable sadness. Unbelievable sadness… It’s just sadness. I left my marriage. I had to leave my marriage. I wanted to leave my marriage. I felt I needed to eventually leave the foundation. So it’s just sad. That’s the truth.”
Diskusi Public Domain Day 2026, yang mempertemukan @IramaNusantara@wikimediaid dan kami untuk membicarakan relasi antara musik, arsip budaya, hukum hak cipta, dan domain publik di Indonesia.
Rekaman lengkap diskusi dapat disaksikan di sini:
https://t.co/PoAmyKi7TR
Everyone says “Linux is secure and viruses don’t attack it easily”
But why is that actually true?
Very few people know the real reasons:
1. Linux user permissions are strict by design
In Linux, normal users don’t have admin (root) access by default.
Malware can’t install system-level files unless it explicitly gets root permission - which usually requires your password.
No silent installs.
2. Software comes from trusted repositories
Unlike Windows/macOS where people download random .exe files,
Linux users install apps from official, cryptographically signed repositories.
This massively reduces the chance of installing infected software.
3. Open-source = constant inspection
Linux is open-source.
Thousands of developers worldwide continuously inspect, audit, and improve the code.
If a vulnerability appears, it’s often found and patched quickly - sometimes within hours.
4. No single point of failure
Linux isn’t one OS - it’s hundreds of distributions (Ubuntu, Fedora, Arch, etc.).
A virus written for one distro often won’t work on another.
Malware authors hate fragmentation.
5. Kernel-level security features
Linux uses advanced protections like:
• SELinux / AppArmor (mandatory access control)
• Address Space Layout Randomization (ASLR)
• Secure memory handling
Even if malware runs, its damage is heavily restricted.
6. Fewer users = lower incentive
Linux dominates servers, not desktops.
Hackers usually target platforms with maximum users for maximum profit.
Desktop Linux simply isn’t the most lucrative target.
7. Fast updates, no forced delays
Linux updates are lightweight, frequent, and optional - but encouraged.
Vulnerabilities stay open for less time.
8. Command-line transparency
Most system-level actions are visible.
Nothing hides behind flashy installers.
Suspicious behavior is easier to detect for experienced users.
Conclusion:
Linux isn’t “virus-proof” - nothing is.
But its architecture, permissions model, open-source nature, and security-first design make it far harder to attack than most operating systems.
Source identifiers are used to track your activity on a website. Where you came from, what device you use, etc. - whether it's written clearly in the URL or tied to a random string of characters, it's assigned to your activity.
When you send a link containing such a source identifier to somebody and they click it, it signals to the website that you two are connected. And that data goes right back to the website operators, and thus their advertisers.
Whenever you select 'share' or 'copy link' on a social media app or website, it will create a link just like this. If you give even the smallest shit about online privacy, it's important to remove them.
Everything after the '?' can be removed without any issues, especially sections starting 'si=' or 'utm-source='