Yang menjijikkan bukan cuma tindakannya, tapi mentalitas di baliknya. Masuk ke ruang publik orang lain lalu memperlakukan fasilitas bersama seperti halaman rumah sendiri—seolah ritual pribadi memberi hak untuk mengabaikan norma dasar kebersihan dan kepantasan.
Wastafel itu tempat orang mencuci tangan dan muka, bukan bak rendam kaki. Tapi fanatisme ritual sering melahirkan rasa kebal terhadap rasa malu sosial: semua dianggap sah selama dibungkus label "agama".
Ironisnya, mereka sering bicara soal kesucian, tapi meninggalkan jejak perilaku yang justru membuat orang lain merasa kotor, risih, dan enggan memakai fasilitas yang sama.
Peradaban bukan cuma soal seberapa taat seseorang pada ritualnya. Peradaban juga soal kemampuan membaca konteks, menghormati ruang bersama, dan memahami bahwa dunia tidak wajib menyesuaikan diri pada kebiasaan pribadimu.
@bagus_muljadi@makbar_f Setuju. Untuk bidang2 tertentu bukannnya malah rugi dua kali kalau disuruh pulang. Sudah mahal2 diongkosin malah tidak optimal di dalam negeri. Biarkan mereka mengembangkan diri di mana pun. Sudah jadi orang baru diminta pulang atau bisa juga remote contribution mungkin