Efek MBG di stop sementara:
1. Harga telur turun jd 24k
2. Harga ayam turun jd 30k
3. Susu uht plain tidak langka
4. Rupiah menguat sedikit
5. IHSG cetak +5%
6. Tidak ada siswa keracunan
7. Para Ka SPPG yg joget2 di bogor, pada gigit jari
8. Guru jadi ga sibuk buang sisa makanan dan ngitung ompreng
Ini baru stop semntara dalam beberapa hari, ekonomi langsung lebih baik.
Apalagi STOP TOTAL?
SETUJU MBG STOP TOTAL?
SIAP2 PEJUANG UMR,
SEUMUR HIDUP NYICIL RUMAH
RUMAS LUNAS, HIDUP TUNTAS
KRONOLOGI HIDUP ORANG YANG AMBIL KPR 40 TAHUN:
Umur 25 : Tanda tangan akad, senyum lebar, foto di depan rumah.
Caption Instagram: "New chapter!"
Umur 30 : Nikah. Anak lahir.
Pampers mahal.
Cicilan? Tetap jalan.
Umur 40 : Anak minta uang study tour. Motor butuh ganti.
Cicilan? Masih jalan.
Umur 50 : Anak wisuda, minta dibeliin laptop baru.
Cicilan? Santai, masih jalan.
Umur 60 : Pensiun.
Gaji berhenti.
Cicilan... tinggal dikit lagi nih kayaknya?
Umur 65 : LUNAS.
Sertifikat di tangan.
Air mata di pipi.
Kamu : "AKHIRNYA! INI RUMAH GUE!"
Anak : "Makasih ya Pak, btw aku mau kerja di luar kota."
Cucu : "Rumah Opa jauh dari mana-mana, Pak."
LU MATI, RUMAH SUDAH LUNAS DAN UJUNGNYA TIDAK TERPAKAI KARENA DI UJUNG KULON SANA
Yang lucu sekaligus sedih:
solusi krisis perumahan yang ditawarkan bukan "harga rumahnya ditekan" atau "spekulan tanahnya diatur", tapi "tenang,
utangnya kita perpanjang aja jadi 40 tahun biar cicilannya kecil."
Jenius.
Masalah affordability diselesaikan dengan cara bikin orang utang lebih lama.
Sementara harga tanah tetap naik, developer tetap untung, dan bank paling sumringah di antara semua pihak.
Tapi ya sudahlah.
Setidaknya kamu punya sesuatu untuk diwariskan.
Meski kamu sendiri baru benar-benar memilikinya di usia yang sudah tidak sekuat dulu.
Selamat datang di generasi yang kerjanya bukan untuk hidup,
tapi untuk mencicil hak hidup.
Ani ani ini jahannam
Mereka ini :
- Nikmati suami orang ✅
- Ngerusak rumah tangga✅
- Flexing harta dan arogan✅
- Tempat cuci duit ✅
- Makan duit korupsi pulak.✅
Sialnya, banyak pejabat yang mengkoleksi ani-ani 😭
Makanya negeri ini hilang berkahnya, dan hilang tujuannya.
Tinggal nunggu mau berubah atau “dirubah” sama Allah!
Orang Indo kalau kehilangan motor itu akan langsung sedih dan terpukul, karena kita tau kalau lapor polisi pun percuma. Motornya ga bakal dicariin
Di sini semua serba sendiri. Cr uang sendiri dan cr maling sendiri. Negara tinggal nagih pajak, itupun kita jg yg hrs laporan.
Guys kata Tom Lembong di podcast Malaka dan ini salah satu yang paling jujur yang gw dengar dari mantan pejabat Indonesia soal kondisi sekarang.
Dia bilang kebijakan luar negeri Indonesia sekarang paling berantakan sejak 1965.
Bukan sejak 1998. B
ukan sejak reformasi. Tapi sejak 1965.
Dan dia kasih contoh konkret yang bikin gw tidak bisa bantah.
Beberapa minggu lalu Indonesia bergabung ke Board of Peace yang diketuai Amerika dan Israel.
Seminggu setelah itu Amerika dan Israel menyerang Iran.
Sekarang Indonesia ngemis ke Iran minta kapal tanker kita boleh lewat Hormuz.
Dan Iran dalam kondisi marah besar habis diserang mau simpati ke kita?
Itu konsekuensi langsung dari kebijakan luar negeri yang tidak berprinsip.
Soal energi ini yang paling bikin gw ngeri.
Stok BBM dan LPG nasional kita hanya ekuivalen dengan 20 sampai 25 hari konsumsi.
Itu saja.
Kalau Hormuz tidak buka dalam 25 hari puluhan kota di Indonesia bisa kehabisan bensin dan gas.
Ibu ibu tidak bisa masak.
Logistik lumpuh.
Bukan skenario jauh.
Itu risiko yang menurut Tom Lembong sangat nyata dan sangat dekat.
Bandingkan dengan Jepang yang stoknya 250 hari. China yang stoknya 1,3 miliar barel.
Mereka sudah siap dari jauh jauh hari.
Kita masih 20 hari dan tidak ada rencana darurat yang jelas.
Dan ini yang paling menyakitkan dari semua yang dia bilang.
Tahun lalu harga minyak dunia lagi murah.
Surplus 2 juta barel per hari.
Itu saat yang sempurna untuk borong dan nambah cadangan nasional.
Tapi tidak dilakukan.
Uangnya dialihkan ke program program lain yang multiplier effect-nya kecil yang kita sudah tau semua itu yaps EMBEGE
Soal tarif Trump Indonesia panik duluan. Buru buru negosiasi. Dapat kesepakatan tarif 19%. Eh satu hari kemudian Mahkamah Agung Amerika batalkan tarif itu karena ilegal. Negara yang tidak panik sekarang cukup bayar 10%. Kita yang paling semangat negosiasi malah kena 19%.
Tom Lembong bilang ini pelajaran lama yang terus diulang. Kalau kita tinggalkan prinsip demi keuntungan jangka pendek hasilnya selalu buruk. Selalu.
Dan kata dia satu satunya hal yang bisa dilakukan masyarakat sekarang hemat. Kencangkan ikat pinggang. Nabung. Dan mulai pikirin alternatif kalau LPG benar benar langka.
Karena pemerintah sendiri belum punya solusinya.
Semalam, khatib tarawih ceramah yg bikin gue overthinking..
Gimana kalau selama ini kita tuh cuma lagi pakai headset VR canggih? Dan realita yang kita lihat sekarang hanya sekadar "Simulasi"? 🤯
Dan saat kita mati, VR-nya dilepas, lalu kita terbangun dan menyadari... "Oh, ini toh kehidupan yang SESUNGGUHNYA"
"Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah senda gurau dan permainan. Sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, seandainya mereka mengetahui" QS Al Ankabut 64
QS Al Ankabut itu nyebut jelas banget bahwa kehidupan dunia itu cuma GAME, kayak kita itu ada di dalam game RPG (Role-Playing Game) atau Virtual Reality.
Kita seolah-olah adalah player yang lagi login ke dalam game bernama "Dunia". Kita diturunkan ke server ini dengan satu Main Quest yang jelas: Beribadah, jadi manusia yang bermanfaat, dan ngumpulin bekal buat Endgame.
Tapi, instead nyelesain Main Quest, kebanyakan dari kita malah habis-habisan ngerjain Side Questnya. Side Quest-nya emang didesain super menggiurkan. Numpuk harta sampai triliunan, ngejar validasi sosial, gila jabatan, pamer kemewahan.
Kita habis-habisan grinding sampai lupa sama Main Quest-nya. Padahal waktu main (umur) kita di game ini ada limit-nya.
Terus suka kesel kan ngelihat orang jahat, licik, penindas, tapi hidupnya kelihatan "menang" dan enak banget di dunia?
Nah, sadar nggak sih, bisa jadi mereka itu cuma NPC (Non-Player Character) atau obstacle yang emang di-setting buat jadi ujian rintangan buat kita para Player?
Kemenangan orang-orang jahat itu semu. Mereka cuma "kelihatannya" aja menang, tapi ya itu simulasi aja.
Saat timer kita habis (mati), headset VR ini bakal dicopot paksa. Di momen kita "terbangun" di dimensi yang sesungguhnya, semua harta, mobil mewah, dan score duniawi tadi nilainya hangus jadi NOL BESAR.
Sekaya apapun di game, yang dihitung ya pencapaian kita di Main Quest kan? Sia-sia banget kalau waktu yang dikasih malah habis buat ngejar hal-hal fana yang nggak bisa dibawa log out.
Jadi tamparan keras sih buat diri sendiri pas lagi tarawih semalam. Kadang kita terlalu serius mikirin Side Quest sampai lupa kalau ini cuma mampir bentar.
Fokus ke Main Quest, Players. Jangan sampai pas VR-nya dilepas, kita cuma bisa nyesel karena salah prioritas.
Semoga di sisa waktu Ramadhan yang masih singkat ini bisa kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya.
🚨 Hansi Flick last season: "Real Madrid criticizing referees? Here at Barcelona, we NEVER try to find any excuses. That's not our style, we leave that to others.
Referees are human and they can make mistakes, they have a difficult job and we must respect that. We must protect the refs."
Hansi Flick last night: "Refereeing in Spain is a DISASTER. It's so bad, so so bad. It's a disgrace."
🤣
There’s no chance Drake Maye could’ve won that game in dramatic, comeback fashion like Caleb Williams and Matthew Stafford just did.
Because he would’ve won by 3 scores.
FOR THE RECORD: I can't speak for all #NEPats fans, but I will say most of us don't care if Maye wins MVP or not because he's only 23 years old with a lot of football left to play in his career and there are other goals at hand now with the playoffs starting.
What we DO care about is the downplaying of what he's accomplished and ignoring that the stats prove he's the MVP by a mile just so you can fit the Stafford argument.