coba bayangkan itu pekerjaan first time dia yang didapat, terus dia lapor mamah nya kalo udh kerja, mamah nya ikut ngerasain bahagia dan inisiatif buatin kue buat kantor tempat anak nya kerja tpi malah di julidin,
Kurang2i deh gaya senioritas begini nyet
selain menemukan spark hidup, semoga kamu nemuin juga spark dalam beribadah. sholat tepat waktu, gak terburu2, baca bacaan sholat dengan jelas, betah sujud di atas sajadah, dan tenangnya hatimu ketika berdoa
@myXL hiii min kenapa ya ko akhir2ini untuk wilayah halim, cawang signal XL ga full dan ga 5G kecepatannya juga menurun drastis ga secepat dahulu.. kindly check ya min, thank you
Aku pikir kunci hubungan awet tuh ketemu the right person, ternyata ah sudah lah.
Baca jurnal hari ini dan nemu fakta menarik, relationship satisfaction itu literally bertumpu sama intimasi, cara kalian handle konflik, dan gimana mindset kalian berdua soal hubungan itu sendiri. hal-hal kayak umur, gaji, atau fisik malah bukan faktor utama.
Tapi happy di hubungan ≠ happy sama hidup secara overall.
Kalau ngomongin life satisfaction, yang paling ngaruh tuh mental health (kayak symptoms depresi) sama kesehatan fisik. mental yang lagi berantakan bakal otomatis ngaruh ke hubungan kamu. jujurly make sense sih, internal issues dari dalem diri kita tuh sadar nggak sadar pasti kebawa-bawa ke hubungan.
Ubah mindset kamu jadi “mental gue udah cukup sehat belum? dan se sehat apa hubungan kita?”
punya hubungan yang green flag emang ngebantu naikin kepuasan hidup, tapi tetep aja kesehatan fisik, kondisi mental, dan gimana cara kalian berantem tuh punya porsinya masing-masing.
Terus harus gimana dong?
Jurnal ini nyaranin buat jangan struggle sendirian. Misal kamu lagi ada isu mental atau fisik, partner kamu harus diajak involved. nah kalau isunya emang di hubungannya, fokus aja perbaikin komunikasi, belajar conflict management yang sehat, jaga intimasi, dan coping stress bareng-bareng. Tiap couple kan dinamikanya beda-beda ya, jadi emang nggak ada one size fits all solution alias disesuaiin aja sama kondisi masing-masing.
Can a Muslim-built platform challenge the biggest names in social media?
Australian father-and-son duo Hakan and Ali Ozyon believe the answer is yes. They created Wahda, an all-in-one digital platform designed to connect the global Muslim community through communication, community, and Islamic tools.
From messaging and groups to prayer times, Quran, hadiths, and AI-powered Islamic support, Wahda aims to create a space built around Muslim values, culture, and connection.
Launching in Q4 2026, Wahda’s mission goes beyond creating another app. It’s about empowering a global community to own its digital future.
Read the full story and discover the vision behind Wahda. https://t.co/nwXLHtMO4q
Bayangin, air putih yang paling netral, murni, dan sehat aja tetep ada yang ga suka. So why are you losing your mind trying to make everyone like you? Kalau kamu ga cocok sama seseorang, atau mereka ga sreg sama kamu, it doesn't mean something is wrong with you. Kalian cuma dua manusia yang beda frekuensi, and that's completely fine. Jangan sampe demi pengen diterima di mana-mana, kamu malah kehilangan dirimu sendiri.
Pidato Pak Purbaya setelah dipecat:
"Yang saya hormati bpk dan ibu........ bagi saya hari ini momen penting, SAYA PIKIR KEPANJANGAN INI"
Gue rasa pak pur udah muak bgt, aman aja pak pur, udh senormalnya manusia muak kalo gak dihargai!
walaupun ditraktir itu enak…. tapi jujur aku lebih suka ngetraktir deh, kayak ada kepuasan tersendiri 🥹 semoga selalu ada rezeki buat bikin orang lain seneng aamiinnn
Puas banget bacanya.
Makasih Kak sudah mewakili.
Penutupnya GONG Banget!
"Jujurly Maudy Ayunda, yang kamu lakukan itu, jahat.
Minimal, stupid.
Warga gak ngarep kamu berjibaku ngadepin karhutla di lapangan kayak Andrew Kawaleit. Warga juga gak ngarep kamu bisa nulis kolom kritis di Kompas kayak Reza Rahadian. Warga cuma ngarep kamu balas hutang budi kamu ke para pembayar pajak. Dengan mengamplifikasi jeritan mereka di platform kamu.
Dan itulah serendah-rendahnya iman seorang influencer."