Untuk duit rakyat, selalu ada sumber daya manusia dan energi. Untuk melayani masyarakat selalu ada alasan "keterbatasan personil".
Anyway, yg dimaksud "Bersama Membangun Negeri" adalah "Bersama Membiayai Hidup Keluarga Pejabat".
Kalian tau apa yang bakal bikin BNI ketakutan dan bertekuk lutut buat ganti semua uang Gereja ini yang dimalingin manajemen mereka sendiri, bikin seruan supaya semua umat katolik Indonesia untuk memindahkan dananya ke Bank selain BNI atas nama solidaritas.
Gw yakin dgn seruan itu manajemennya ketakutan pasti.
Salah satu alasan kenapa lo susah dapet project dan kerja itu karena lo masih pake email gratisan kayak:
[email protected][email protected]
Keliatan gak profesional.
Padahal bikin email kayak gini GRATIS:
[email protected][email protected]
Lo ga perlu bayar Google Workspace Rp90rb/bulan.
Gini caranya:
Stop bayar Google One.
Gue gue pernah panik gara2 Google Drive gue penuh dan ga bisa terima email. Hampir aja gue subscribe bayar Google One buat upgrade kapasitas drive.
Ternyata gak perlu.
15GB gue yang "penuh"? 11GB-nya sampah yang Google sembunyiin.
Gue bersihin dalam 20 menit. Gratis. Tanpa hapus file penting.
Gini caranya:
Saya harus akui, jantung saya berdetak kencang, ingatan saya kembali menyergap tajam saat melihat berita bencana di Sumatera pekan ini.
Dulu, hampir dua dekade lalu, saya ada di sana. Bukan sebagai pengacara, melainkan penerbang sipil yang dipanggil negara, berdesakan di lambung pesawat tua. Ya, pesawat TNI AU uzur.
Kami terbang gila-gilaan, hampir tidak kenal pagi, siang, atau malam. Seringkali, kami sudah harus take off dari Halim sebelum subuh. Tujuannya: Banda Aceh.
Kami bawa Hercules C-130 yang sudah sepuh itu. Pesawat itu, Bapak-Ibu sekalian, adalah potret jujur bangsa ini: tua, berisik, kurang terawat, tapi untungnya sangat andal dan pekerja keras.
Di dalam perutnya yang gelap, kami duduk di jaring samping. Telinga berdengung raungan Allison T56.
Jika Anda mau tau, bau di dalam kabin itu adalah campuran unik: solar, minyak mesin yang bocor halus, keringat relawan yang tidak mandi tiga hari, dan aroma timpahan mi instan basi.
Intensitasnya? Luar biasa. Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) mendadak menjadi terminal paling sibuk di dunia. Ada Hercules TNI, ada C-17 Amerika, ada Ilyushin dari Rusia, semua berebut slot. Air Traffic Controller (ATC) kita seperti pesulap. Semua ingin cepat, semua jadi pahlawan tanpa berharap bintang.
Ironinya adalah pada sistem logistik kita.
Di satu sisi, kita punya Hercules TNI yang bertempur mati-matian, mengangkut puluhan ton barang. Di sisi lain, muncul pahlawan yang datang dari sektor yang paling tidak kita duga: Maskapai Sipil.
Ya, maskapai-maskapai besar seperti Lion Air dan Batavia Air ikut menyumbangkan free lift dari Jakarta. Mereka menggunakan pesawat komersial, kursi dilepas, diisi karung beras. Mereka bergerak karena kemanusiaan, mendahului banyak surat izin dan nota dinas yang mungkin masih diketik di kantor-kantor pusat.
Dan pahlawan sejati di udara adalah Susi Air. @susipudjiastuti Saat pesawat-pesawat besar TNI dan asing fokus ke Banda Aceh, Meulaboh dan Simeulue masih jadi titik buta. Landasan hancur, Susi dengan dua pesawat kecil Cessna Caravan-nya mengangkut obat-obatan dan susu bayi. Susi dan crew pilot asingnya terbang nekat, masuk ke landasan perintis. Mereka adalah antitesis dari birokrasi yang kaku. Contoh nyata bagaimana rule of law itu sejenak harus tunduk pada rule of need. Kebutuhan lebih dulu, baru administrasi.
Saya ingat, interaksi kami dengan crew Susi itu terasa sangat kontras. Di dekat Hercules yang penuh serdadu, mereka berdiri di samping Caravan kecil, mengenakan kaos, mengangkut sendiri kardus-kardus tanpa forklift mewah. Salah satu pilot asingnya pernah menyindir, "Saya pikir tugas saya hanya lobster, ternyata saya juga delivery harapan kemanusiaan." Tawa kami pecah. Tawa terdengar pahit tapi kejujurannya nyata hanya berharap pahala.
Saat ini, kita kembali menghadapi bencana di Sumatera. Apa yang berubah? Infrastruktur mungkin lebih baik. Teknologi komunikasi pasti lebih canggih. Namun, saya khawatir, jiwa gotong royong yang non-bureaucratic itu justru semakin menipis. yang jelas saya tidak dipanggil lagi menerbangkan pesawat, mungkin pilotnya sudah banyak. Mungkin juga karena memang tak ada landasan yang bisa didaratin fix wing. Mungkin juga kita makin terbiasa menunggu instruksi pusat, menunggu dana cair, menunggu SOP selesai dicetak.
Padahal, semangat yang dibutuhkan saat bencana adalah semangat Susi Air: bergerak cepat, tidak bertanya izin, dan langsung menuju titik yang paling terluka. Semangat yang harusnya diwarisi oleh setiap aparatur sipil dan militer.
Sudah saatnya kita belajar dari Hercules tua dan Cessna kecil.
Aset terbaik bangsa ini bukanlah pesawat baru atau regulasi yang tebal, melainkan keberanian mengambil risiko dan keikhlasan untuk bergerak tanpa menunggu tepuk tangan.
Jika tidak, setiap bencana hanya akan jadi pengulangan tragedi birokrasi yang mematikan.
#ethadisaputra #majalahforumkeadilan #tsunamiaceh #operasikemanusiaan #hercules #susiair #dahlaniskan #hukumdanlogistik #militersipil #bencanaindonesia
Ibu guru sayang, tidak perlu minta maaf. Kami yg seharusnya meminta maaf karena kami tidak tahu dan tidak melakukan perbaikan sarana jembatan yg sudah demikian rusak. salam
Suatu malam di IGD seorang perempuan muda usia kuliahan datang bersama sepasang suami istri paruh baya. "Dok, ini keponakan saya. Makin lama makin lemes, sekarang naik tangga ke kamarnya aja gak kuat."
Saya memperhatikan wajahnya, sangat pucat, pipinya tirus, matanya sayu, tatapannya kosong, bibir cemberut, jalannya lunglai, seperti baru dihisap seluruh kebahagiaan dan harapannya oleh Dementor.
Saya langsung lihat sekitar, jangan-jangan beneran ada dementornya. Saya pegang stetoskop siap ngucapin expecto patronum, "Dok, ngapain dok?" Bowo nyenggol saya.
Saya fokus lagi ke pasien. "Dari kapan ini seperti ini bu?" Saya nyenggol balik bowo untuk bantuin pasien cek tensi.
"Udah semingguan dok. Bulan lalu ayah ibunya baru meninggal dunia, hanya selisih beberapa hari, ayahnya serangan jantung, lalu ibunya, kakak kandung saya, ngedrop autoimunnya tiba-tiba memberat dengan parah. Jadi sementara ini keponakan saya tinggal bersama kami." Jelas tantenya pasien
Saya mengangguk-angguk. "Saya turut berduka cita ya pak bu." Mereka juga mengangguk, "terima kasih ya dok, kami daftarin dulu."
Sekarang saya mengerti kemana perginya cahaya mata pasien, kehilangan ayah dan ibu berturut-turut itu rasanya memang seperti kedatangan ribuan dementor. "Dok, tensi 90/60, nadi 100, suhu 35,9, rr 24." Teriak Bowo dari bed 1.
Saya menghampiri, "Kak saya dokter gia, sekarang apa yang kamu rasa?" Dia nengok trus bilang dengan sangat datar, "Gak kerasa apa-apa dok." Saya lihat layar Hapenya, wallpapernya foto dia dan teman-temannya sedang cosplay anime. Dia jadi Hinata Hyuga nya naruto.
Saya cek nadi lengannya, teraba lemah. "Kak, saya turut berduka cita untuk kepergian kedua orang tuamu ya, saya doakan semoga almarhum dan almarhumah diberikan tempat terbaik di sisiNya." Dia mengangguk trus menunduk.
"Saya ngos-ngosan dok.. kalau jalan sedikit jauh, kaki kyk gak mau kompromi.. setiap nambah langkah 1 meter.. kayak ketambahan beban 1 kilo." Ucapnya perlahan.
Di kepala saya langsung terpancar beberapa kemungkinan seseorang bisa makin lemas kalau aktifitas. Daya pompa jantung turun, kapasitas paru turun, elektrolit ambles, atau masalah distribusi oksigen di darah.
Saya izin memeriksa irama jantung dan suara parunya dengan stetoskop. Saya paling menghayati suara jantung dan paru, dua organ yang bisa berkomunikasi suara lebih baik dibanding organ lain seperti ginjal atau pankreas. Ada banyak hal terungkap dari suara keduanya dari apa yang bisa terucap oleh pasien.
Saya lepas stetoskop, "Kak, alhamdulillah jantung dan paru-parumu baik baik saja. Hanya mereka bekerja lebih keras dan lebih cepat dari biasanya. Kak coba liat keatas." Dia melirik ke atas lalu saya menurunkan kelopak mata bawahnya. Warnanya sama persis dengan bola matanya. Saya mengangguk lagi, ini penyebabnya.
"Bowo, pasang infus trus ambilin darahnya ya, cek darah rutin laporin Hb nya cito, conjuctivanya anemis." Bowo mengangguk langsung berkelebat pergi.
Sekarang saya mikir kemana darah itu pergi, tidak mungkin hilang begitu saja. "Kak, kamu sering mimisan gak?" Dia menggeleng, "lagi mens?" Dia menggeleng lagi. "BAB mu berdarah?" Dia langsung menengok saya lalu mengangguk. "Banyak?" Dia ngangguk lagi. "ada benjolannya?" Dia kembali mengangguk. Saya tersenyum, Oke diagnosisnya sudah tegak, tinggal penatalaksanaan berikutnya.
"Saya enggan mau cerita ke om tante,dok." Ucapnya. "Iya kak, dipahami, dimengerti. Kamu dirawat dulu ya, kalau Hb nya rendah sekali, kamu perlu transfusi darah, nanti untuk wasirnya dievaluasi lagi, perlu operasi atau pakai obat aja."
Ketika saya mau pergi tiba-tiba dia manggil. "Dok."
"Ya." Saya menatapnya dengan senyum, karena kalau ada pertanyaan dari pasien berarti ada kemauan untuk sembuh.
"Berikan aku satu alasan realistis untuk bertahan hidup, tanpa orang tua dan tanpa Tuhan, karena keimanan aku lagi habis-habisnya."
Saya tertegun, jelas bukan pertanyaan yang saya harapkan. Saya mikir sejenak, trus tarik nafas dalam. Trus saya jawab.
Pernah dituduh nipu pajak gara2 data temuan si AR ga sesuai. Disuruh menghadap di kantor pajak bawa data. Adu data lah kita, dataku based on marketplace smua ada setiap transaksi detail ratusan lembar kubawa, begitu tak tanyain data dia, ga bisa nunjukin