"Observers found the project method to be the least effective mode of pedagogy...but the terminology shifted and the practice remained in different forms under different names such as 'discovery learning', 'hands-on learning',..."
Guys, ini jujur bikin geleng-geleng kepala sih…
Jadi kan barusan ada kabar gempa gede yang bahkan berpotensi tsunami, dan datanya juga udah keluar di beberapa titik kayak Sidangoli, Minahasa Utara, sampai Belang itu air lautnya beneran naik.
Artinya ini bukan sekadar gempa biasa, tapi udah masuk kategori situasi rawan yang harusnya bikin semua orang fokus ke keselamatan dulu.
Nah, yang bikin orang naik darah…
ada info murid-murid udah dipulangin karena gempa (which is bener, itu langkah aman), TAPI habis itu malah dikasih info tambahan di grup WA buat balik lagi ke sekolah cuma buat ambil MBG.
Serius nanya:
Emang MBG sepenting itu sampai harus ambil risiko balik ke lokasi yang tadi dianggap gak aman?
Ini bukan soal lebay atau panik ya… ini soal logika dasar keselamatan.
Kalau satu tempat udah dinilai berbahaya sampai semua orang disuruh pulang, ya harusnya konsisten:
jangan suruh balik lagi, titik.
Kadang kita terlalu ngeremehin situasi bencana, seolah-olah masih bisa ditunda atau diatur ulang.
Padahal kenyataannya:
alam itu gak nunggu kita siap.
Sumber: X ophyy
Gw punya temen yang kalau libur panjang atau weekend dia menghilang total.
Bukan pergi ke mana-mana.
Tapi literally tidak kemana-mana.
Di kos.
Sendiri.
Kasur + Netflix+ GoFood Dan jadi combo hibernasi buat dia.
Tidak ada interaksi sama siapa pun.
Tidak ada chat yang dibalas kecuali yang penting. Tidak ada nongkrong.
Tidak ada janjian.
Bahkan untuk makan dia tidak mau kelur GoFood saja supaya tidak perlu ketemu orang.
Gw tanya lu tidak kesepian?
Dia bilang tidak.
Ini justru yang gw tunggu-tunggu seharian kerja.
Dan gw mulai paham.
Dia bukan pendiam.
Di kantor dia normal.
Diajak ngobrol nyambung.
Diajak nongkrong mau.
Tidak ada yang curiga dia tipe yang suka menyendiri.
Tapi ternyata semua interaksi sosial itu buat dia ada harganya.
Setiap meeting.
Setiap small talk di pantry.
Setiap zoom call.
Setiap 'eh lu sudah makan belum' dari rekan kerja itu semua menguras energi dia secara diam-diam.
Dan weekend adalah waktu dia bayar semua utang energi itu kembali.
Kata dia kalau Senin gw belum rebahan cukup di weekend, gw masuk kantor pasti susah fokus.
Ini yang psikologi menyebutnya introvert bukan dalam artian pemalu atau antisosial.
Tapi orang yang recharge energinya bukan dari keramaian tapi justru dari kesendirian.
Dan yang menarik dia tidak merasa ada yang salah dengan dirinya.
Tidak merasa harus diperbaiki.
Tidak merasa harus dipaksa lebih sosial.
Dia tahu persis cara kerjanya sendiri dan dia desain hidupnya sesuai itu.
Gw rasa banyak orang yang sebenarnya sama kayak dia tapi selama ini merasa bersalah karena tidak mau keluar di weekend.
Merasa ada yang aneh karena lebih pilih kasur daripada cafe.
Tidak ada yang aneh.
Lu mungkin cuma belum sadar bahwa diam itu bukan kesepian.
Kadang itu justru cara paling efisien untuk jadi manusia yang berfungsi normal keesokan harinya.
Lu pernah gak nge-layout buku 280 halaman dalam waktu sehari? Enggak sempat tidur, enggak mandi, makan di depan laptop, udah kayak dikejar setan. Anak lu demam tapi lu cuma bisa ngasih obat dan membiarkan dia tidur di kamar karena lu harus kerja.
Belum?
Nah, jangan ngomong soal "halal" membajak buku dengan dalih kapitalisme. Enggak usah sok anti-kapitalis kalau lu enggak pernah mikir tentang nasib para buruh, kaum proletar di industri buku.
Dengan membajak buku, lu cuma ingin mengeruk keuntungan sebesar mungkin dengan modal sekecil mungkin. Bahkan lebih parah dari kaum kapitalis karena lu MENCURI.
Artikel yang berani dr mz. Moh. Ainun Rizqi.
• Kurikulum Gonta-Ganti Terus: Tiap ada perubahan kurikulum, bahasanya selalu keren: "progresif" atau "visioner". Tapi kenyataannya, guru di sekolah sering bingung karena aturan mainnya berubah terus dari pusat.
• Suara Guru Nggak Didengar: Penulis pakai istilah keren epistemic injustice. alias Negara nggak percaya kalau guru itu pinter. Guru cuma dianggap sebagai "petugas" yang tinggal jalanin perintah, bukan ahli yang paham kondisi murid di lapangan.
• Regulasi "Sok Tahu" dari Pusat: Kebijakan pendidikan kita itu sifatnya top-down (dari atas ke bawah). Orang-orang di kantor pusat yang mungkin jarang masuk kelas, bikin aturan yang harus diikuti semua guru, tanpa nanya dulu ke gurunya: "Eh, ini cocok gak buat murid kalian?"
• Guru Jadi Korban, Di satu sisi harus nurut sama aturan administrasi yang ribet, tapi di sisi lain mereka yang paling tahu kalau murid-muridnya punya kebutuhan yang beda-beda. Akhirnya guru kayak robot yang dipaksa kerja pakai remote control dari jauh.
• Efeknya? Pendidikan Jadi berantakan. Kalau pemerintah terus-terusan merasa paling tahu dan mengabaikan pengalaman nyata guru di kelas, ya pendidikan kita nggak bakal maju-maju. Antara teori di kertas sama kenyataan di kelas bakal selalu nggak nyambung.
@direktoridosen@pppkguru @Guru_PNS @AbubakarId22586 Dan org² dg kedok "Pakar Pendidikan" akan bersuara paling lantang, menolak perubahan yg diinginkan para guru karna menurut mereka ide² tersebut adalah "kemunduran". Mereka² inilah yg selalu didengar pemerintah, bukan para guru yg setiap hari ada di kelas.
@KemenperinRI Udh hal umum sih kak. Di penerbit tempat aku dlu kerja jg beberapa penulis "minta" ghost writer, apalagi yg penulisnya dari background artis, kayak sekadar numpang nama si artis biar bukunya booming. Ya gak semua sih, tp ada.
Murid videokan MBG, langsung dilarang. Guru parodikan MBG, langsung dilarang. Kemudian muncul larangan-larangan memposting MBG di sekolah. Orang tua, guru dan sekolah ditekan agar ikut bertanggung jawab jika MBG bermasalah.
Sampai ketika guru dan siswa keracunan. Rumah sakit yang memberitakan, kebenaran tidak bisa dibungkam.
Orang tua/ masyarakat selalu menemukan solusi dalam situasi buruk.
Buka MBG, masukan kembali dalam tempat bekal, buang setelah pulang sekolah. Semata-mata menyelamatkan anaknya dari keracunan tanpa harus menyinggung pemerintah yang punya program.
Mestinya sadar, malah ceramah jangan lelah mencintai Indonesia, ceunah.
@powderypixie Meskipun dg kecepatan cahaya sekalipun, di alam semesta yg super luas ini, kecepatan cahaya itu sangat lambat. Jd diperlukan 'jalan pintas' untuk mempersingkat perjalanan.
@powderypixie Dalam konteks msh bisa melihat waktu berjalan, berarti belum mencapai kecepatan cahaya, yg artinya waktu akan terus berjalan maju. Ketika kembali pun waktu jg msh berjalan maju. Teori yg paling mungkin sih lewat wormhole, tp sampai skrg blm bisa dibuktikan keberadaannya.
💯"Treat people the way you want to be treated. Talk to people the way you want to be talked to. Respect is earned, not given."
- Hussein Nishah
#Quote#Share#Respect
Being a civil servant in this country means our rights to criticize the government are stripped away as we are threatened that we'll lose our job if we are to do so.
What a democracy!