(File 1: Analisis Makroekonomi Indonesia 2026)
Gw mulai dari yang paling berat, Analisis Makroekonomi Indonesia 2026. Biar adil, gw akuin duluan: datanya beneran. Krisis yang dia ceritain emang kejadian.
Rupiah memang jeblok ke kisaran Rp17.900 per dolar di Mei 2026, terlemah sepanjang sejarah (sebelum menjadi lebih lemah lagi bulan juni udah tembus 18.000), dari awal tahun yang masih sekitar Rp16.675. Konflik Iran-Amerika, harga minyak naik, duit asing kabur, semua ada beritanya. Jadi kalau ada yang bilang dia ngarang krisis, itu ngawur.
Yang gw permasalahin bukan datanya, tapi cara dia narik kesimpulan dari data itu. Contohnya kalimat penutup yang buat gw kontroversial: "setiap satu rupiah belanja pemerintah membutuhkan satu rupiah utang baru" (hal. 38). Kalau dibaca apa adanya, kalimat ini artinya tiap rupiah yang dibelanjain negara itu seluruhnya hasil ngutang, seolah pendapatan negara nggak ada perannya sama sekali.
Padahal di paragraf yang sama dia juga nulis defisit kuartal satu Rp240,1 triliun, atau 29,5% dari total belanja Rp815 triliun (hal. 38). Defisit itu selisih belanja dikurangi pendapatan, alias bagian belanja yang ditambal utang.
Kalau cuma 29,5% yang ditambal utang, berarti tiap Rp1 belanja itu sekitar 30 sen yang dari utang, 70 sennya dari pendapatan negara kayak pajak. Bukan satu rupiah penuh. Tetap gede, tetap ngeri, tapi beda jauh sama yang dia bilang. Dan gw yakin ini bukan kelupaan, dia sengaja milih kalimat yang lebih ngegas dari angkanya sendiri.
Dan ini bukan gw lagi belain pemerintah. Utang kita emang numpuk dan beban bunganya nyata, itu masalah serius. Tapi justru karena masalahnya beneran ada, sayang banget kalau dijelasin pakai angka yang dilebih-lebihin. Begitu ada yang ngecek, klaim "satu lawan satu" ini gampang dipatahin, dan kritik yang sebenernya penting ikut kebawa jatuh.
Ngapain lah futars futurs susah sendiri
Spot ajalah trading tu
Nih caranya:
Step 01
Setiap sekitar jam 7 pagi WIB, buka Coinmarketcap, lalu filter biar yang di-display top 200.
Lalu sortir berdasarkan top gainers di 24 jam (lihat gambar)
Step 02
Screening satu-satu. Maksimal 10. Buka tradingview. Cek apakah si aset tersebut di timeframe 1 hari membuat candle bullish dengan volume besar
Definisi candle bullish:
- Hijau. Body besar
- Wick ke atas minim atau tidak ada
- Close-nya lebih tinggi daripada high sebelumnya
Definisi volume besar: Lebih besar dari rata-rata 5 bar sebelumnya
Step 03
Masuk posisi beli dengan stop loss di bawah low candle tersebut. Masuk dengan resiko yang terukur (ukur sendiri). Lalu tunggu beberapa hari
Step 04
Exit jika (pilih):
- Sudah mencapai 2R atau cuan sebesar 2 kali resiko
- Membentuk candle bearish (kebalikannya candle bullish)
- Trailing atau pindahin stop loss setiap dia membentuk low baru
Kalau saat screening tidak menemukan sesuai kriteria step 02 sampai 10 kali, lupakan. Screening lagi besok
Ilustrasi ada di gambar semua. Cari aja yang kayak gini
GM!
Sekalian jangan lupa join membership Volubit buat dapet ilmu dan sinyal berkualitas.
Murah bang gak kayak yang lain
join sini:
https://t.co/mgJ3Z37pdL
Suatu hari saat stase anak, guru saya memberi instruksi, “Gia, ada tugas buat kamu.”
“Siap, Dok.”
“Ada pasien ranap,” lalu beliau menyebut nama, “anak enam tahun, diare dan dehidrasi. Tolong catat input dan output cairannya, pastikan balans cairannya pas.”
“Oke, Dok.”
Saya menuju bangsal. Ada empat kasur di sana, semuanya terisi anak-anak. Saat saya memanggil nama pasien, ibunya langsung mengangkat tangan.
“Halo, salim dulu sama Om Dokter.”
Anaknya menurut. Tangannya kecil, hangat, lalu segera bersembunyi lagi di balik tubuh ibunya.
“Susah banget tadi diinfus, Dok,” kata ibunya. “Katanya pembuluh darahnya sudah susah. Baru berhasil setelah minum oralit beberapa kali.”
“Iya, Bu,” jawab saya pelan. “Matanya masih cekung, kulitnya kering, denyut jantungnya juga cepat. Dia masih dehidrasi. Hari ini saya pantau, ya.”
Memantau cairan yang masuk itu mudah. Tinggal lihat tetesan infus, jumlah gelas air minum, hitung, lalu catat. Yang sering merepotkan justru cairan yang keluar, apalagi kalau pasiennya anak kecil dan sedang rewel.
“Dok, dia nahan pipis,” kata ibunya.
“Pasang selang aja, Dok,” usul perawat.
Saya menggeleng. “Enggak bisa. Dia pasti merapatkan pahanya. Kita coba cara normal dulu.”
Saya mendekat ke sisi tempat tidurnya. “Dek, kenapa nahan pipis? Enggak enak lho kalau ditahan,” kata saya sambil mengusap-usap kepalanya.
Anak itu cemberut. Bibirnya mengatup rapat. Tidak ada jawaban.
“Om pakaikan pampers, ya? Biar nanti pipisnya di situ saja.”
Ia tetap diam.
Anak itu menunduk, lalu menjawab lirih, “Maunya pipis normal, tapi takut.”
“Takut kenapa?”
Tangannya yang kecil terangkat, menunjuk ke arah toilet di ujung ruangan.
“Di sana ada orang rambut panjang nongkrong di dalam bak mandi.”
Saya terdiam.
Ruangan mendadak ikut diam. Sunyi menyebar pelan. Saya bisa merasakan mata beberapa orang mulai menatap ke arah toilet yang pintunya tertutup itu.
Saya menarik napas, lalu berusaha tetap tenang. “Oke,” kata saya. “Kalau begitu, kamu pipis normal aja di tempat tidur, ya?”
“Iya.”
Belum sempat saya memikirkan langkah berikutnya, perawat di samping saya berbisik, “Dok, pispotnya rusak.”
Saya menoleh. “Rusak?”
Perawat itu mengangguk.
Ampun, batin saya. Ini kurang apa lagi.
Saya keluar cepat menuju nurse station, membongkar apa saja yang ada di sana sampai akhirnya menemukan plastik bekas gula ukuran satu liter. Bukan alat yang ideal, jelas, tapi malam itu kami tidak sedang hidup di dunia yang ideal.
Saya kembali ke ruangan.
“Ayo berdiri, jongkok sedikit, ya.”
Ibunya membantu memegangi tubuh anak itu. Saya jongkok di bawah, memegang plastik dengan dua tangan. Jas putih saya yang tadi masih tampak rapi kini berubah fungsi.
Seorang koas, tengah malam, di bangsal anak, bersiap menampung pipis seorang pasien kecil.
Lalu terdengarlah suara yang saya tunggu.
Cuuurrr...
Akhirnya mengalir juga.
Belum sempat saya merasa menang, tiba-tiba posisi kaki si anak berubah. Aliran urinenya meleset. Tangan saya hangat seketika.
“Yaaah, Om Dokter kena pipis kamu.”
Begitu mendengar kalimat itu, anak itu malah tertawa geli. Tawa kecilnya pecah, lalu setiap letupan tawanya membuat arah pipisnya ikut berubah.
Muncrat ke sana, muncrat ke sini, liar seperti air mancur yang kehilangan akal.
“Uwwooou!”
Saya panik setengah mati, menggeser tangan ke kanan dan ke kiri, berusaha menangkap setiap tetes yang meleset. Rasanya seperti sedang mengejar puluhan rambutan yang tiba-tiba rontok bersamaan dari pohon, jatuh ke segala arah, dan menolak ditangkap.
Semakin saya tampak kerepotan, semakin keras ia tertawa.
Akhirnya, setelah perjuangan yang absurd itu, terkumpullah ratusan cc urin di kantong plastik, puluhan cc di sprei, dan entah berapa cc lagi menempel di tangan saya.
Saya membawa hasil tangkapan malam itu ke nurse station, lalu mencatat jumlahnya di rekam medis dan buku pemantauan, menyesuaikannya dengan cairan infus yang masuk.
Setengah jam kemudian, saya kembali ke kamar.
Lalu pandangan saya bergeser ke kanan.
BREAKING: AI can now analyze stocks like Wall Street analysts (for free).
Here are 10 insane Claude prompts that replace $2,000/month Bloomberg terminals (Save for later)
BREAKING: US strikes on Iran used Anthropic's Claude, just hours after it was banned by President Trump, per WSJ.
Details include:
1. US Central Command in the Middle East used Claude for intel purposes
2. Claude was used for intelligence assessments, target identification, and simulating battle scenarios
3. US government says phasing out a Claude will take 6 months
4. Similar intelligence usage was seen in President Maduro’s capture
AI warfare is rapidly accelerating.
Imbas invasi israel & AS ke Iran, panglima TNI memerintahkan jajarannya untuk bersiap.
"Cat seluruh pagar kodim, cabuti rumput koramil. Jangan lupa jemput anak danrem pulang les kumon," pungkasnya
Suatu hari di indomaret setiabudi, ada mba2 depan kasir mau bayar. Pas dia narik duit, koin 500 peraknya jatoh & menggelinding mayan jauh. Out of kind gesture, karena gue ngantri di belakangnya, gue kejarin lah tuh duit koin terus nyamperin mba nya dan bilang "mba ini tadi jatoh.."
Dan dengan senyum simpul mba nya angkat satu tangannya gini 🙂✋️ dan bilang
"Gapapa buat mas aja"
This photo was taken in 1946. This girl is Susan.
She is 45 years old. Has 2 children.
Susan never exercises. Sleeps late.
Eats whatever she wants. Even drinks beer instead of water.
What does Susan do?
Susan has no secret.
Susan is the woman in the upper right corner of the photo...…
Detik-detik maling anjing ketahuan sama pemiliknya, lalu dikejar oleh anjing lainnya , Pencuri panik hingga terjun ke sungai.
Gagah bener itu Anjing Coklat, ada yang tau anjing jenis apa?
Kasus Terra Drone, 22 karyawan tewas.
Kasus Ponpes Sidoarjo, 67 anak2 tewas.
Dua2nya kasus kelalaian.
Bos Terra Drone ditangkap, jadi tersangka.
Bos Pesantren dapet MILYARAN dana APBN.
~ini pelajaran baru: agama jadi kasta.
CRAZY FOOTAGE 🔴
Full 10 minutes of the terror attack on a Hanukkah celebration in Sydney, where more than 1,000 people were in attendance.
Tell me all the observations you’ve observed.
aceh tamiang, pangkalan susu:
mayat dikumpulkan satu truk dan tidak sempat terdata lagi, maka langsung dikebumikan (tanom/tanam) oleh penduduk yg ada, cukup sedih, hujan masih gerimis, ini lebih parah dari tsunami kami teringat tsunami.
"Coba liat mana" is giving me the biggest most unpleasant flashback of when islamic school teachers would force their female students to show them their pads inside their pants, like they really be looking down at the students' ass. Gua benci org² ini