satu-satunya sisi positif prabowo jadi presiden sejauh ini adalah kunjungannya ke Prancis.
presiden yg sangat visioner karena menyuruh kita belajar bahasa prancis untuk mengucapkan selamat kepada PSG telah berhasil back-to-back juara Champions League.
Félicitations au Paris Saint-Germain! 🏆🏆
#AllezParis
Champions League Final Scriptwriter:
- Early Arsenal goal
- 120 minutes of peak haramball torture
- Penalties go to sudden death
- Gabriel is the one who misses the decisive kick
- Arsenal remain trophyless in the UCL
🚨Patrice Evra on Roy Keane attacking Bruno Fernandes on IG:
Let’s be serious for one minute, my brother Roy. I see your Instagram post, you call Bruno a donkey... bro, come on!
I just watched the whole YouTube podcast because people told me, "
Roy, my legend, I love you, you know that. You were a monster on the pitch. But sometimes you wake up, you have your morning tea, and you just want to destroy someone’s life on Instagram! Why so grumpy, bro?
No other pundits for other teams trash their players? So why do you? Race it he called you out for misquoting him. What's wrong with that?
Bruno is the captain! We need to protect the players, not push them down the well.
Next time, before you make a post calling people donkeys, call me first! We eat some good food, we laugh, and I teach you how to love this game!
Penutup Eric Cantona
Mungkin Sir Alex Ferguson adalah orang yang paling tepat untuk menggambarkan betapa besar pengaruh Cantona.
Saat Erik datang ke Premier League, dia seperti seorang penyelamat,” katanya, para pemain mencintainya. Pemain muda memujanya, kehadirannya, kepercayaan dirinya, bahkan karismanya… dia mengubah kami.
Ferguson juga selalu mengingat satu momen kecil.
Saat debutnya sebagai pemain pengganti, Cantona memberikan umpan sederhana, hanya enam yard.
“Tapi itu umpan enam yard terbaik yang pernah kulihat sepanjang hidupku,” kata Ferguson.
“Hal seperti itu hanya bisa dilakukan oleh pemain hebat.”
Trofi pertama itu seperti membuka pintu.
Sejak saat itu, para pemain tidak pernah ingin berhenti menang. tim itu seperti bisa mencium aroma kemenangan di setiap pertandingan, tahun berganti tahun hingga pada akhirnya kita tau bahwa Manchester United telah menguasai suatu era.
Di mata Sir Alex, Cantona adalah pemainnya yang paling spesial. dia bahkan tak pernah memberinya herder treatment yang menakutkan itu.
Sir Alex benar-benar menjaga kepercayaan yang diberikan Cantona padanya dengan hati-hati.
Dia membiarkannya datang terlambat saat latihan. Tak peduli dengan aturan berpakaian dan bahkan Cantona tak ditegur meski malas bercukur.
Saat semua pemain harus menghadiri acara resmi dengan setelan rapi dan mewah, Sir Alex akan diam saja melihat Cantona yang datang dengan kaos dan sepatu berbeda.
Baginya Cantona adalah talenta yang langka. pemain pemberontak yang tahu betul bagaimana membawa timnya menjadi juara.
Jadi jika dia memperlakukan Cantona seperti bangsawan, Cantona akan tampil seperti raja.
Dan semua pemain lain akan paham bahwa raja mereka memang perlu diperlakukan secara berbeda.
Dan cara Sir Alex selalu berhasil. Semua rasa sayangnya bahkan tercermin dalam surat yang dikirimkannya pada Cantona.
Beberapa bulan setelah The King pensiun dan meninggalkan Old Trafford. Di dalam surat itu, Sir Alex menunjukkan kekaguman, rasa hormat, dan mengungkapkan bagaimana spesialnya Eric Kantona di matanya.
Dan baginya tak akan pernah ada lagi pemain seperti Eric.
Setelah melalui periode penuh kemenangan bersama Cantona, United memang menemukan lagi pahlawan-pahlawan mereka. Sebut saja David Beckham, Ryan Giggs, Wayne Rooney, Cristiano Ronaldo, bahkan hari ini ada Bruno Fernandes.
Namun tak ada satupun dari mereka yang memberikan inspirasi tentang dedikasi dan kegilaan lebih dari seperti yang Cantona berikan, karena
Hanya ada Satu Raja Di Manchester yaitu Eric Cantona.
Hingga pada akhirnya
1 Oktober 1995.
Old Trafford.
Lawan: Liverpool.
Hari yang ditunggu semua orang.
Banyak yang percaya, di bulan Januari sebelumnya, Cantona mungkin tak akan pernah bermain lagi di Inggris.
Namun hari itu, ia kembali, dan seperti biasa, ia langsung menunjukkan pengaruhnya.
Tenang menguasai bola.
Memberi assist.
Menghidupkan permainan.
Cantona kembali, dan magnetismenya tetap sama.
Memasuki awal musim 1995/96, wajah United berubah.
Setelah kepergian Paul Ince, Mark Hughes, dan Andrei Kanchelskis, para pemain muda mulai mengisi starting XI.
Namun awalnya tidak berjalan mulus.
Mereka kalah dari Aston Villa di laga pembuka musim.
Komentar pedas pun datang dari Alan Hansen:
“Kalian tidak akan memenangkan apa pun dengan anak-anak.”
United sempat tertinggal jauh hingga 12 poin, dari Newcastle United. Tapi kembalinya Cantona mengubah segalanya.
Ia memberi sesuatu yang tidak bisa diajarkan: kepemimpinan.
Bersama generasi muda yang kemudian dikenal sebagai Class of ’92, Cantona bukan hanya mencetak gol… ia menjadi pusat permainan, dan perlahan, United mulai mengejar.
Mengejar…
dan akhirnya menyalip.
Ia juga membawa Manchester United menjuarai Piala FA.
Di laga final itu, Eric Cantona dipercaya menjadi kapten, menggantikan Steve Bruce yang saat itu cedera.
Bruce kemudian mengenang momen tersebut dengan penuh emosi.
“Selama bertahun-tahun, sudah banyak kata digunakan untuk menggambarkan Erik,” katanya.
“Tapi aku ingin menambahkan dua kata: baik hati dan penuh perhatian.”
Baginya, apa yang dilakukan Cantona di final itu menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya, seorang pria sejati.
Setelah mencetak gol kemenangan, Cantona justru mendekatinya dan berkata:
“Ayo, kau yang harus mengangkat trofi ini.”
Bruce terdiam sejenak, lalu menjawab,
“Dengar, Erik… jika ada satu orang yang pantas mengangkat trofi itu, itu adalah kamu.”
“Aku sudah pernah melakukannya. Sekarang giliranmu.”
“Terima kasih atas tawaranmu… tapi momen ini milikmu.”
King Eric Cantona.
Buat sebagian orang, dia cuma pemain berbakat dengan temperamen buruk.
Buat yang lain… dia adalah alasan Manchester United kembali jadi raja dan penguasa di suatu era.
Tapi… kalau kita tarik dari awal, ceritanya jauh lebih gila dari itu.
Ini bukan cerita tentang pemain biasa.
Ini cerita tentang seorang pemberontak… yang menjadi raja.
dengan gaya arogan,
dan tingkah penuh kontroversi
kita akan melihat bagaimana seorang pemain yang sering tak diinginkan justru datang dan menguasai liga
bahkan mengubah sejarah karier seorang pelatih legendaris.
Cerita ini diawali pada tahun 1966
Di Marseille, kota di selatan Prancis.
lahir seorang anak laki-laki yang bernama Éric Daniel Pierre Cantona
Ayahnya seorang pelukis. Ibunya keturunan Spanyol yang keluarganya lari dari perang.
Dari kecil, Cantona udah berbeda.
dia hidup di dalam lingkungan seni dan disaat yang bersamaan juga, dia merasakan kerasnya hidup di perancis kala itu.
Saat cantona kecil, bermain sepakbola adalah tempat dia bermain dan mengeluarkan hasrat liar dalam dirinya.
Awalnya dia kiper.
Iya, kiper.
Tapi sesuatu di dalam dirinya bilang…
dia bukan untuk berdiri diam di bawah mistar.
lantas dia coba untuk berganti posisi menjadi gelandang dan seorang penyerang.
Dan di situlah semuanya berubah.
Bakatnya ditemukan oleh Guy Roux di Auxerre.
Sejak saat itu, semua orang tahu ini anak bukan pemain biasa.
Tapi ada satu masalah…...
@yappingfess Udah sepakat aja masih dibilang salah
Diem juga salah, ngelawan salah
Cowok cerita salah, cowok diem aja salah.
Cowok gaji 15jt sebulan di kasih 10 juta buat istri salah
Cowok gaji cuma umr salah katanya cuma buat pakan anjing
Terus yang bener apa?
@yappingfess difitnah misogini saya diam... di cap patriarki saya diam...dihujat hujat dihina-hina saya diam...
.
Tetapi hari ini di x saya sampaikan saya akan LAWAAANNN... sepakaattt
United 3-2 Liverpool
United dengan humble nolak buat bantai-bantai & justru ngasih 2 gol giveaway untuk tim tamu sekaligus rival terhormat, supaya match makin seru.
Ke-humble-an itu dibalas Arne Slot yg tetep memilih kalah ke tuan rumah. Mutual respect ❤️ #ArneStay