Saya mendukung paslon AMIN pada Pilpres 2024 ini,
Bukan karena saya pendukung militan Pak @aniesbaswedan ,
Bukan karena saya pendukung militan @PKSejahtera .
Tapi karena saya sedih dengan kehidupan rakyat Indonesia yg semakin tidak baik-baik saja,
Tapi karena saya muak dengan penguasa dan kroninya yg semakin semau-maunya saja.
Saya berharap pemimpin Indonesia selanjutnya,
Bisa merubah nasib bangsa dan negara ini menjadi lebih baik,
Bisa membawa bangsa ini bangkit dari keterpurukan,
Bisa menghentikan hutang-hutang yg terus meningkat demi nasib anak-cucu kita,
Bisa mempersatukan anak bangsa yg selama sepuluh tahun ini terus berpecah,
Bisa mengangkat harkat dan martabat bangsa.
Saat ini hanya Paslon AMIN yang mempunyai janji visi-misi perubahan, tidak akan melanjutkan program & kebijakan yg tidak pro rakyat produk rezim ini.
Ini point utama mengapa saya mendukung paslon AMIN.
Saya mendukung AMIN dan PKS bukan cinta mati, tapi menggunakan akal sehat dan hati nurani, berdasar fakta yg terjadi pada bangsa dan negara saat ini.
"Indonesia darurat kepemimpinan".
Apakah AMIN menang atau kalah, posisi saya tetap bersama rakyat, menyuarakan aspirasi rakyat, demi perubahan nasib rakyat menjadi lebih baik.
Karena sekali lagi, tujuan perjuangan ini adalah demi perubahan nasib rakyat, kemenangan rakyat, bukan kemenangan AMIN, Pak Anies atau PKS dan partai pendukung lainnya.
Karena itu, jika akhirnya pelanggar konstitusi yg dimenangkan, @PKSejahtera harus istiqamah berjuang bersama rakyat, sebagai "Oposisi'...
Karena PKS adalah Partai Rakyat, dipilih rakyat dengan hati dan penuh harapan...bukan partai Wong licik
Tidak akan berbaur antara yang Haq dan yang Bathil !!
Kita semua ingin negara ini terus membangun kematangan politik, bukan malah mundur mendekati masa pra reformasi. Maka dari itu, kami tegaskan, bahwa penyimpangan demokrasi ini tak akan dibiarkan berlalu tanpa catatan dan menjadi preseden buruk bagi semua penyelenggaran pemilihan ke depan.
Mari kita terus jalankan perjuangan ini dengan menjunjung tinggi etika, menjaga kedamaian dan persatuan. Kita dukung langkah tim hukum, dan biarlah segala temuan yang disampaikan nanti menjadi rekam sejarah yang tercatat secara resmi dalam lembaran risalah-risalah Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia.
Rabu, 13 Maret 2024.
3 fakta omongan Pak Anies jadi kenyataan, tamparan bagi genzi pengen banget cemooh saat itu akhirnya terjawab.
Semoga Allah SWT menjaga Indonesia ini dan kebenaran akan terungkap.
Gedung Kantor Pos Cikini yang sudah berdiri sejak zaman Belanda, kini bisa kita kagumi kembali tanpa terhalang kabel. Pembersihan kabel udara ini adalah bagian dari upaya menghormati kembali ruas Cikini Raya sebagai koridor bersejarah.
https://t.co/3mXb1pNXzi
Keuntungan orang menengah ke atas pakai layanan kesehatan BPJS :
1. Bisa dirawat di ruang VIP, hanya tambah selisih bayar kamar saja sudah bisa nikmati fasilitas VIP
2. Pengobatan bisa lebih cepat, karena diagnosis diketahui lebih cepat
Mereka biasanya begitu sakit langsung ke dokter spesialis dgn biaya mandiri.
Pemeriksaan-pemeriksaan dgn biaya mandiri dulu.
Begitu tahu penyakitnya, misal kanker atau penyakit lain yg berbiaya besar, maka mereka baru gunakan fasilitas layanan BPJS.
Mereka ke Faskes 1, bisa minta langsung rujukan utk ke RS tipe C karena sudah tahu penyakitnya (ada faskes 1 yg bisa lgsg ke RS tipe B).
Lanjut ke RS tipe C, untuk minta rujukan ke RS tipe B.
Dari RS tipe B dibuatkan rujukan utk ke RS tipe A, krn biasanya di RS tipe B walau dokter spesialisnya ada, sering belum bisa terapi.
Alasannya ; klaim BPJS nya tidak cukup shg lebih baik dirujuk ke RS tipe A yg klaimnya lebih tinggi utk penyakit yg sama, kadang juga krn alasan alat atau fasilitas tidak lengkap
Begitu ke RS tipe A, ketika ketemu dokter, pasien sudah bisa langsung ke tahap rencana pengobatan, karena penyakitnya sudah jelas.
Jadi lama tahap yg dilalui bisa lebih singkat.
Kalau Rakyat kecil pakai fasilitas kesehatan BPJS,
Jika sakit berobat ke Faskes 1, maka akan diobati dulu gejalanya, mungkin butuh beberapa hari bahkan kadang sampai 2 bulan baru dirujuk ke RS tipe C atau B, suai jenjang rujukan faskesnya.
Sampai di RS tipe C, disini biasanya sudah ada dokter spesialis shg biasanya diobati dulu, minimal satu minggu proses disini.
Karena pasien baru bisa kontrol balik seminggu kemudian.
Kecuali dokternya sudah curiga penyakit berat, mungkin bisa lgsg buat rujukan ke RS tipe B.
Sampai di RS tipe B, biasanya diobati dulu, harus periksa ini itu dulu, misal CT scans atau bronkoskopi atau Biopsi, periksa patologi anatomi dulu, tidak boleh langsung rujuk.
Disini butuh waktu yg tidak bisa hanya seminggu dua minggu, karena utk tindakan-tindakan tadi harus antri lama dulu,
misal untuk CT Scans saja ada pasien yg antri harus satu bulan bahkan lebih tergantung banyaknya pasien yg harus diperiksa.
Setelah diketahui penyakitnya, atau sudah bisa dibuat dugaan diagnosa penyakitnya, yg hanya bisa diobati di RS tipe A, baru pasien bisa di rujuk ke RS tipe A.
Untuk jadwal konsul ketemu dokter spesialis di RS tipe A, biasanya lebih lama dibanding di RS tipe B, walaupun kompetensi dokter spesialisnya sama, hanya beda tipe RS bekerja.
Ada pasien yg baru bisa dapat jadwal ketemu dokter spesialisnya satu bulan kemudian.
Semua bukan kehendak dokternya, tapi memang jumlah pasiennya yg banyak.
Semua pasien RS tipe B, bahkan rujukan dari luar daerah tertumpu ke RS tipe A.
Jumlah pasien yg bisa dilayani perhari sesuai jumlah dokter yg praktek & lama jam pelayanan.
Bisa dikira kan berapa lama bedanya proses yg dilalui orang menengah ke atas dibanding rakyat kecil ? 😭
Banyak pasien & teman yg curhat, mereka sudah tidak tahan lagi dengan sakit yg di derita, tapi jadwal operasinya harus tunggu dalam hitungan bulan 😭
Tidak jarang akhirnya mereka menyerah, bahkan ada yg meninggal sebelum pengobatan 😭
Saran saya :
Kembalikan sistemnya seperti dulu, jangan lagi ada rujukan berjenjang seperti sekarang.
Agar tidak terjadi penumpukan banyak pasien di RS tipe A.
Toh dokternya punya kompetensi yg sama. Asal klaimnya mencukupi, alat & fasilitas dilengkapi, maka pasien bisa dilayani dibanyak RS.
Ditambahpun jumlah dokter spesialisnya di semua tipe RS di Indonesia, jika klaimnya tetap masih kecil, alat & fasilitas belum lengkap, akhirnya lagi-lagi pasien menumpuk di RS tipe A.
Btw, sekali lagi kebijakan Kesehatan ini wewenang Presiden,
BPJS kesehatan hanya operator yg menjalankan, berada langsung dibawah Presiden
Jadi harapan kami, siapapun Presiden terpilih, terketuk hatinya untuk memperbaiki dunia kesehatan, agar lebih Pro Rakyat, terutama Rakyat kecil
Rakyat Sehat, Negara Kuat ✊️
Ada jamaah curhat ; “Ustadz, saya test CPNS berkali2 gagal (padahal dia salah satu lulusan terbaik di kampusnya dgn IPK Cumlaude), apa saya harus nyalon jadi Kepala Daerah atau Kepala Negara sekalian yg ga perlu tes macem2 ? (curhatnya setengah putus asa)
Saya jadi bingung jawabnya…ya sudah jawaban standar ustadz saja “Insya Allah semua ada hikmahnya, Allah tau yg terbaik buat kamu bukan kerja di pemerintahan”
Setelahnya saya mikir keras. Kalau utk pegawai saja seleksinya begitu ketat, ada TWK, TIU, TKP dgn passing grade tertentu utk lolos, kenapa utk orang2 yg mau nyalon jadi atasannya ga dites yg sama ?! Biar ada standar kompetensi yg jelas. Bukan cuma populer apalagi sekedar keluarga pejabat 🤔