"DPR Tak Mungkin Mewakili Anda"
Percayalah, meski ribuan orang berdemo, DPR RI dan juga DPRD tetap tidak akan mewakili kepentingan Anda sebagai rakyat. Mereka merasa tak punya kewajiban mewakili Anda karena bebanyakan dari mereka itu terpilih bukan karena Anda pilih, tapi karena telah "membeli" suara Anda.
Ngaku saja deh buat Anda yang kemarin milih calegnya karena dibayar. Ngaku saja. Dan berapa banyak orang di sekitar Anda yang memilih karena dikasih uang seperti itu?
Lalu setelah Anda memilih mereka karena uang, Anda sekarang berharap diwakili oleh mereka? Anda pasti bercanda.
Kemudian setelah Anda menjual suara Anda dan tidak memilih mereka dengan hati nurani, Anda sekarang berharap mereka mau bekerja untuk Anda? Anda pasti sedang melucu.
Dengan sudah menerima uang saat pemilu, berarti suara Anda sudah dibeli. Dan mereka yang terpilih, tak lagi merasa bahwa mereka harus mewakili Anda. Mereka sekarang mewakili diri sendiri untuk mengembalikan modal mereka yang buat beli suara Anda itu. Plus cari untung tentunya.
Sekarang hasilnya bagaimana? Sudah setahun anggota dewan yang terhormat itu bekerja, apa yang telah mereka lakukan untuk Anda? Coba perhatikan caleg yang Anda pilih kemarin, dia sudah melakukan apa terkait nasib Anda?
Saya punya keyakinan, mereka tak akan peduli sama Anda. Yang mereka pedulikan adalah mendapatkan income sebesar-besarnya. Yang legal dimaksimalkan, yang ilegal pun akan mereka upayakan. Karena tujuannya cuma satu: uang.
Baru nanti ketika pemilu lagi, baru mereka kembali memikirkan Anda dan kasih uang Anda lagi. Dan celakanya, Anda nanti akan tetap pilih mereka lagi karena mereka kasih uang lagi. Anda seperti keledai yang terus terperosok di lubang yang itu-itu saja.
Pandji Pragiwaksono pernah bilang bahwa sumber masalah demokrasi di negara kita adalah pemilih yang tolol. Itulah kenapa kebodohan rakyat terus "dijaga" supaya mereka tetap bodoh dan mudah dikelabui.
Sekarang, Anda mau berharap apa dari pilihan Anda yang maju caleg karena mereka nggak punya kerjaan selain jadi anggota dewan? Mereka jadi caleg memang cari kerjaan. Sama sekali bukan pengabdian.
Percayalah, mereka tak akan mewakili penderitaan rakyat kecil seperti Anda.
Mojokerto, 29 Agustus 2025
Hasyim Muhammad
#serbaserbi
Aku lagi baca Future of Jobs Report untuk 5tahun kedepan buatan World Economic Forum. Isinya insightfull bgttttt.
Bukan centang biru tapi aku pengen share ringkasan isinya pake bahasa bayi ๐๐ป
A thread
"Negara Kita Belum Baik-baik Saja"
Jika kita bertanya pada masyarakat Indonesia di zaman "yang kita sebut dijajah Belanda selama 350 tahun" dulu, saya yakin banyak masyarakat saat itu yang bilang: kita tidak dijajah.
Kehidupan saat itu ya berjalan seperti biasa. Normal.
Petani ya bertani. Pedagang ya berdagang. Buruh ya bekerja. Pengusaha ya sama saja.
Tak jauh beda sama sekarang.
Jadi, jika saat itu ada beberapa tokoh yang sekarang kita sebut Pahlawan Nasional mengajak masyarakat mengusir Belanda, ya pasti BANYAK YANG TIDAK MAU.
Masyarakat umum selalu merasa nyaman dengan status quo. Meski hidup mereka sulit. Atau meski hidup mereka diperlakukan tidak adil. Kebanyakan masyarakat akan memilih untuk diam.
Tokoh agama, pegawai pemerintah Belanda, pegawai badan usaha milik Belanda, pegawai rumah sakit, pengusaha, dan semua orang-orang yang tergolong "pintar" zaman itu, sering kali memilih "aman" untuk menyelamatkan pekerjaannya.
Istilah PENJAJAHAN saat itu, tidaklah sehitam-putih seperti yang kita bicarakan ketika kita sudah merdeka. Saat itu, penjajahan itu kehidupan "normal".
Contoh lain: Orde Baru. Di zaman orba, kita dibungkam. Soeharto adalah presiden yang tak boleh dikritik dan putusannya bersifat mutlak. Namun, jika saat itu kita ajak orang untuk melawan Soeharto, ya pasti banyak yang tidak mau.
Mengajak orang untuk melakukan perjuangan melawan pemerintah otoriter saat itu juga sulit. Lebih banyak orang yang memilih "cari aman".
Saat ini... Sekarang ini... mungkin banyak yang memandang reformasi adalah "perjuangan terakhir" karena keadaan saat ini sudah "normal".
Tidak. Keadaan sekarang pun belum saatnya kita sebut "normal". Masih banyak sekali yang seharusnya kita perbaiki. Dan itu perlu perjuangan dari diri kita semua.
Dari hal yang terkecil, kondisi di mana orang masih buang sampah sembarangan, tidak mau antri, hingga perilaku korupsi yang masif termasuk di kalangan penegak hukum. Semua menunjukkan kondisi negara kita belum baik-baik saja.
Masih banyak yang harus kita perjuangkan. Saya dan Anda. Iya, Anda.
Meski saya tahu, kebanyakan dari Anda akan merasa mau berjuang apa lagi, kita sudah merdeka...
Saya sadar, mengajak orang lain untuk berjuang memperbaiki keadaan itu selalu sulit. Baik dulu maupun sekarang.
Perubahan Consumer Behavior
-utas-
Salah satu perubahan perilaku konsumen ritel yang tidak pernah disangka adalah: "orang bosan dengan hipermarket".
Fyi, ada 3 konsep toko swalayan yaitu: awalnya supermarket, disusul hipermarket, lalu kemudian muncul "wabah" minimarket.
Malam ini saya coba scroll2 TikTok. Dengan akun yang masih fresh, baru bikin kemarin.
Ternyata banyak konten kreator yang kritis2, isinya bagus, logis, mencerahkan. Dengan audio, video, dan teks bikin paham isu yg diangkat dg cepat. Contoh dua konten kreator ini. Dan ada banyak yg lain.
Mungkin karena saya ndak suka yang joget2, sukanya dg isu2 terkini di negeri ini, jadinya dapat spt ini.
So, saya pikir kalau TikTok terus memberi apresiasi dg memberi weighting lebih ke konten edukasi, dan lebih rendah ke konten joget2, TikTok jadi tempat yang bagus user.
1. Putusan MK final dan mengikat, wajin diikuti semua LN, urusan enforcement emg jd isu, tp kaidah utamanya ttp final dan binding. Sumber: UU MK
2. Udah ga ada istilah lembaga tinggi negara pasca amandemen UUD 1945. Ini dibahas mata kuliah LNI
3. Penafsir utama konstitusi itu MK
Susah ngumpulin dana darurat?
Ga pernah bisa nabung, karena gaji selalu abis
Atau baru 50% terkumpul, ada aja pengeluarannya
Kali ini gue mau bahas dana darurat, berapa yang perlu disiapkan, dan sebaiknya simpan di mana
Mudah menyebut 'Ngeri Ngeri Sedap' sebagai salah satu film Indonesia terbaik. Kisahkan sepasang orang tua yg pura-pura akan bercerai agar anak mereka yg merantau mau pulang, film ini terasa personal, hangat & menusuk. Hati-hati, 30 menit terakhirnya akan membuat air matamu habis!
Selamat!
Piala Citra Festival Film Indonesia 2021, kategori Film Panjang Terbaik diberikan kepada Penyalin Cahaya
produksi Rekata Studios & Kaninga Pictures.
Selamat! Terima kasih sudah berpartisipasi dalam Festival Film Indonesia 2021.
#MalamAnugerahPialaCitra2021