dibilang antek-antek asing saya diam,
dibilang ndasmu saya diam,
dibilang warga desa tidak pakai dolar saya diam,
dibilang “tidak bermimpi kaya raya?”
SAYA AKAN LAWAN!!!
bisa hidup layak itu menurut gue bare minimum, kalau ‘mimpi’ ya harus setinggi-tingginya. kalau hidup ‘layak’ aja harus jadi ‘mimpi’ berarti emang lu gagal aja menata negara sebagai presiden
Bagi yang belum yakin tentang rapor merah Prabowo-Gibran:
1. Nilai tukar rupiah terendah sepanjang sejarah
2. Kabinet tergemuk sepanjang sejarah
3. Presiden paling sibuk ke luar negeri dan wapres paling tidak berguna sepanjang sejarah (51 kunjungan dalam 2 thn, sementara Jokowi 58 dalam 2 periode)
4. Nominal utang & suku bunga APBN terbesar sepanjang sejarah
5. Proyek Korupsi termahal sepanjang sejarah
6. Praktek Nepotisme terparah sepanjang sejarah
7. SDM generasi muda terendah sepanjang sejarah
Padahal yang mengkritisi itu fokusnya bukan menggulingkan. Cuma pengen programnya dikaji ulang karena lebih banyak mudarat daripada manfaatnya.
Tapi malah kaya nantang. Ayo coba saja gulingkan saya dengan mekanisme yang ada. Angel.
Pecat Kepala BGN 🔥
MBG Menbuat Bangsa (jadi) Gila
Kep dapur 7 jt
Akuntan 5 jt
Ahli gizi. 5 jt
Cuci piring 2,7 jt
Pengantar mkn 3 jt
Guru Honorer 223 RIBU
Pusing gak? Kita bahas perkosaan kelompok rentan, dibenturkan kasus perkosaan menyasar laki-laki, tapi giliran nanti laki-laki kena perkosaan, bahkan ketika dia juga marginal, responnya kaya gini. Dan yang marah-marah di diskursus yang pertama diam aja tuh sekarang, kek berhal.
Ga wajar menurutku. Reward dan punishment itu harus setara.
Kalo 1 menit dipotong Rp35.000, berarti kerja 8 jam/hari selama 24 hari, gajinya harusnya Rp403.200.000. Tapi apa iya gajinya segitu? wkwk
Kantor yang wajar itu motongnya proporsional. Misal gaji 8 juta, dipotong 1 menit berarti cuma Rp694. Beda jauh kan.
Dan kalau logika Rp35.000/menit itu konsisten, harusnya lembur juga dihitung sama. 1 menit overtime = nambah Rp35.000. Tapi apa iya kantor yang motong segitu mau bayar segitu juga? Ya jelas ga.
Satu hal lagi yang sering kelewat: peraturan ini "tidak tertulis." Itu bukan cuma masalah etika, tapi bermasalah secara hukum. Pemotongan gaji tanpa dasar kontrak atau kebijakan tertulis itu ga sesuai UU Ketenagakerjaan. Beda ceritanya kalau ada hitam di atas putih.
Dan berlaku ke anak magang? Itu bahkan lebih ga bisa dibenarkan. Status magang beda secara struktural, kontraknya beda, hak dan kewajibannya beda. Nyamain mereka dengan karyawan tetap dalam hal punishment itu logikanya ga nyambung.
Perspektif owner ya pasti ga mau rugi, itu wajar.
Tapi ingat, hubungan perusahaan dan karyawan itu transaksional. Ga boleh jomplang satu arah. Kalau standarnya ga ditegakkan, bukan "budaya disiplin" yang terbentuk, tapi normalisasi eksploitasi.
Jujur, gue kasihan sama orang miskin, mereka suka dinilai bodoh, malas, atau nggak bisa ngatur uang. Padahal kalau penghasilan mereka aja rendah gimana caranya mau dikelola? Buat hidup aja udah pas pasan.