Gue punya tetangga. Sebut aja Pak Hendra.
Dua tahun lalu dia masih naik motor beat butut ke warung.
Belinya eceran kopi sachet, rokok sebatang, mie instan satu bungkus.
Sekarang?
Alphard putih parkir di depan rumah.
Renovasi total.
Pagar besi custom.
Kamera CCTV empat titik.
Usahanya?
Katanya bisnis properti.
Yang gue tahu dia jual tanah warisan bapaknya di pinggir kota yang tiba-tiba nilainya meledak karena ada tol baru lewat sana.
Satu malam kaya.
Bukan proses panjang.
Bukan kerja keras bertahun-tahun.
Rejeki nomplok yang nyata.
Dan yang berubah bukan cuma mobilnya.
Cara dia nyapa orang berubah.
Dulu kalau papasan di gang senyum duluan, tanya kabar, kadang nawarin kopi.
Sekarang?
Jalan lurus.
Tatapan ke depan.
Senyum tipis yang terasa seperti basa-basi yang tidak dia nikmati.
Anaknya yang dulu main bareng anak-anak kampung sekarang sekolah di tempat lain.
Istrinya yang dulu arisan bareng ibu-ibu kompleks sekarang jarang kelihatan katanya sibuk
Bukan jahat.
Bukan sombong yang ngomong kasar.
Tapi ada jarak yang tumbuh perlahan, tanpa drama, tapi nyata.
Dan ini yang bikin gue mikir.
Komentar orang kaya lebih sopan dari orang miskin itu tidak sepenuhnya salah.
Tapi juga tidak sepenuhnya benar.
Yang lebih akurat mungkin ini:
Orang kaya punya lebih banyak ruang untuk terlihat sopan.
Mereka tidak dalam kondisi terdesak.
Tidak rebutan antrian.
Tidak stres soal tagihan yang jatuh tempo besok.
Tidak capek setelah 12 jam kerja berdiri.
Ketika kebutuhan dasar sudah terpenuhi otak punya lebih banyak kapasitas untuk berpikir tentang cara bicara, cara bersikap, cara memilih kata.
Itu bukan moral superiority.
Itu privilege dari rasa aman.
Dan yang terjadi pada Pak Hendra adalah pola yang gue lihat berulang pada OKB Orang Kaya Baru di Indonesia.
Kekayaan datang lebih cepat dari kesiapan mental untuk menghadapinya.
Tiba-tiba ada gap antara dia dan lingkungan lamanya. Dan gap itu tidak nyaman untuk kedua belah pihak. Tetangga lama mulai hitung-hitungan dulu dia biasa aja, sekarang sok.
Pak Hendra sendiri mungkin bingung mau tetap akrab tapi takut dimanfaatkan, mau jaga jarak tapi takut dibilang sombong.
Tidak ada pilihan yang benar.
Apapun yang dia lakukan akan disalahkan oleh satu pihak.
Dan ini yang paling jarang dibahas:
Sopan santun itu bukan produk dari kekayaan.
Tapi kekayaan memberikan kondisi yang lebih kondusif untuk menampilkan sopan santun itu.
Orang yang kelelahan, tertekan, dan tidak punya ruang bernafas secara psikologis memang lebih mudah tersulut.
Bukan karena karakternya buruk. Tapi karena resources mentalnya sudah habis sebelum hari berakhir.
Dan orang kaya yang kelihatan lebih sopan belum tentu lebih baik karakternya.
Mereka hanya punya lebih banyak energi sisa untuk menjaga penampilan sosial mereka.
Jadi kalau ada yang bilang orang kaya lebih sopan:
Mungkin. Tapi tanya dulu sopan karena memang baik karakternya?
Atau sopan karena hidupnya tidak sedang dalam mode survival?
Dua hal yang sangat berbeda.
Dan Pak Hendra?
Gue tidak judge dia.
Gue hanya berharap suatu hari dia sadar bahwa Alphard putih itu tidak akan pernah bisa menggantikan rasa nyaman yang dia punya waktu masih bisa senyum duluan di gang sempit itu.
Dear Gen Z,
Buat kamu yang sudah mati-matian nyelesain pendidikan, pontang-panting cari kerja, sampai rela ikut bootcamp dan magang gratisan buat nambah pengalaman, bahkan harus keluarin uang lagi cuma buat memoles CV supaya dilirik perusahaan.
Kamu yang berbulan-bulan berjuang, akhirnya diterima kerja.
Tapi ternyata tempat kerjanya toxic dan punya atasan yang bikin mental breakdown.
Setiap hari harus desak-desakan di transportasi umum, berangkat subuh, pulang malam, kamu tetap bertahan. Karena kamu tahu, cari kerja sekarang susahnya bukan main.
Semua dijalani demi gaji yang sebenarnya nggak seberapa, mengingat harga-harga sekarang semua serba mahal.
Kamu lalui hari-harimu sambil pura-pura kuat, meski kadang duduk di pojokan buat nenangin kepala yang rasanya mau pecah.
Saat terima gaji, kamu merasa senang tapi sedikit mengelus dada, karena nominalnya berkurang agak lumayan akibat potongan pajak.
Kamu coba ikhlas sambil berdoa, semoga pajakmu benar-benar terpakai untuk pembangunan. Kamu sedikit bangga karena ikut berkontribusi.
Sampai di bulan Januari 2026, kamu baca berita:
Indonesia memutuskan bergabung dengan Board of Peace, dan Indonesia ikut iuran Rp17,9 triliun, uang dari sebagian besar APBN untuk disetor ke Trump.
Ya, sebagian yang disetor itu adalah uang kamu.
Gimana perasaan kamu?
Pertama, saya bukan "profesor termuda di Indonesia", ataupun di luar Indonesia.
Kedua, poin yang saya sampaikan adalah bagaimana kontrol kualitas pendidikan seharusnya dilakukan, tergantung pada kerangka konseptual yang kita pilih: apakah pendidikan diperlakukan sebagai hak warga negara atau sebagai komoditas jasa. Saya tidak mendorong salah satunya, tetapi mempertanyakan konsistensi berpikirnya.
Jika pendidikan diperlakukan sebagai komoditas jasa, maka secara logis ia menuntut mekanisme perlindungan konsumen. Jika ia diperlakukan sebagai hak, maka ia menuntut regulator negara yang kompeten dan berwibawa. Pertanyaannya sederhana: kerangka mana yang sebenarnya kita pilih, dan apakah institusinya sudah disiapkan secara serius?
Ketiga, tidak ada seorang pun di sini yang berargumen untuk menyalin sistem asing. Yang sedang dibahas adalah koherensi prinsip dan desain kelembagaan, bukan imitasi kebijakan.
BUBARNYA NEGARA INDONESIA
Pernahkah Anda merasa bahwa, hidup di Indonesia seperti menonton sebuah film drama yang akhir ceritanya sudah bisa ditebak: kekacauan? Negara kita, yang dikenal kaya raya dengan lebih dari 17.000 pulau dan sumber daya alam yang melimpah, kini terasa semakin rapuh, seperti bangunan tua yang tiang-tiangnya mulai keropos. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023, Indonesia memiliki hutan seluas 94 juta hektar, tetapi setiap tahun ada sekitar 630.000 hektar yang lenyap akibat deforestasi. Ya, hilang begitu saja, digantikan ladang sawit atau lubang tambang yang tak kunjung ditutup.
Minyak, gas, nikel, dan emas digali tanpa henti oleh orang-orang serakah, tetapi yang tertinggal bagi kita hanyalah lubang besar, air keruh, dan tanah tandus yang tak lagi bisa ditanami. Kita pernah bangga disebut sebagai "macan Asia" di masa lalu, namun kini rasanya seperti macan yang giginya sudah tanggal, hanya mampu menggeram tanpa daya, sementara kekayaan kita terus dirampas di depan mata.
Coba perhatikan sekeliling kita dengan lebih jeli. Pengetahuan tentang apa yang benar-benar terjadi di negeri ini, seolah sengaja disembunyikan dari kita, atau lebih tepatnya, kita sendiri yang membiarkannya terabaikan. Pendidikan kita sibuk mengajarkan hafalan rumus dan tanggal bersejarah, tetapi lupa melatih anak-anak bangsa untuk berpikir kritis dan mempertanyakan keadaan. Data UNESCO tahun 2022 menyebutkan bahwa indeks literasi Indonesia hanya mencapai 0,54 dari skala 1, haha, sebuah angka yang menunjukkan betapa jauhnya kita dari kata "melek" informasi. Akibatnya, kita menjadi sasaran empuk.
-Sebuah Esai Reflektif- #IndonesiaGelap
Masuk SMP? Ospek.
Masuk SMA? Ospek.
Masuk kuliah? Ospek.
Jadi CPNS/CASN? Ospek.
Naik jabatan? Ospek.
PPDS? Main ospek-ospekan.
***
Hasil didikannya:
Pas jadi junior: "Siap.", "Izin ini, izin itu", yes man.
Soalnya kalau gak gitu karirnya terhambat.
Pas jadi senior: Kalau ada orang yang kritik, ditandain dan dihambat karirnya.
Kalau ada kasus: Denial, bilang kalau itu bukan bullying. Kalau lemah gak usah ke sini.
***
Di mana-mana sama aja. Semuanya sama aja.