guys lu pada tau gk
ini berita paling lawak sih hari ini
ada cerita pembangunan jembatan di Karanganyar hasil gotong royong gabungan Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Harusnya kabar bagus dong.
Tapi yang bikin warga geleng-geleng justru pas momen peresmiannya.
Katanya warga sampai nyeletuk:
โini biaya bangun jembatannya jangan-jangan lebih murah daripada biaya seremoni peresmiannya.โ
Karena peresmiannya disebut ramai banget:
ada potong pita, acara formal, penyambutan, konsumsi, perlengkapan acara, sampai urusan akomodasi tamu.
Belum lagi kalau yang datang banyak pejabat atau rombongan:
transportasi, pengamanan, dokumentasi, konsumsi, dan kebutuhan teknis lainnya.
Dan ini yang sering bikin rakyat sensitif.
Bukan karena gak mau ada apresiasi.
Tapi kadang yang dibutuhkan warga itu jembatannya berfungsi dengan baikโฆ selesai.
Bukan seremoni berlebihan yang kesannya lebih mahal dari manfaat simboliknya.
Rakyat tuh simpel:
jalannya bagus โ senang
jembatan jadi โ senang
akses lancar โ senang
Yang bikin kesel itu kalau substansi kecil, pencitraan besar.
Kalau memang proyeknya untuk rakyat, fokusnya harus di hasil yang benar-benar dipakai warga tiap hari.
Bukan bikin acara megah cuma buat foto lalu upload caption โdemi masyarakat.โ
Warga sekarang makin kritis.
Mereka bisa bedain mana pembangunan beneran, mana yang terlalu sibuk sama seremoni.
Aku pernah nemu pembahasan tentang kondisi mental laki-laki dewasa, dan isinya cukup bikin mikir.
Banyak dari mereka hidup di mode โbertahanโ setiap hari, capek, penuh tekanan, overthinking, tapi tetap jalan seolah semuanya baik-baik saja. Bukan karena mereka nggak punya masalah, tapi karena sejak lama mereka diajarin buat kuat, diam, dan nggak banyak mengeluh. Akhirnya, banyak perasaan yang dipendam sendirian, tanpa tempat pulang untuk cerita.
Saya pernah baca buku judulnya Lost Connections, penulisnya Johann Hari. Kamu udah baca?
Premisnya: Sekarang ini meski punya keluarga, temen, gampang hubungin pake hp, suasana rameโฆ tapi banyak orang merasa kesepian, sampe depresi.
Dan merasa rumah nggak lagi terasa sebagai rumah.
Sekarang manusia makin terpolarisasi, terfragmentasi, lingkarannya jadi sesempit cuma per individu, โakuโ.
Nonton kayak live marapthon gini mungkin bikin orang merasa punya temen, dengerin obrolan ringan, merasa jadi bagian dalam kelompok dan merasa ikut di dalam rumah itu.