Angel terlelap dengan posisi memeluk mikrofon. Suara musik dari speaker dan rentetan lirik di layar besar masih berputar. Sama seperti saat ia bangun tadi.
Putri keluarga Tjandra menaiki sofa, melangkahkan kakinya menuju sisi paling ujung, kembali ke posisi awal. (19)
berderet dengan gelas-gelas kotor lain yang sebelumnya digunakan oleh teman-temannya.
Langkahnya menuju home theatre lambat dan berat. Michelle melihat Jason yang masih sibuk memeluk bantal, kali ini dengan posisi telentang di lantai. (18)
berusaha mengatur napas. Suara air yang turun dari shower dan kran yang terbuka menemani Michelle selama beberapa saat sebelum ia duduk tegap.
“It was an accident. It was an accident.” Michelle menggumam kata yang sama berulang-ulang seperti mantra. (15)
Ia mengambil plakat dari wastafel dan memasukkannya ke dalam tangki toilet. Keringat dingin membasahi wajah sang puan saat ia mengepaskan posisi plakat di dalam tangki. (13)
“It’s not 𝘺𝘰𝘶𝘳 fault, Michelle. Sekarang pakai otak lo. Di mana plakatnya Kevin bisa disembunyiin?” Gadis itu berbicara dengan dirinya sendiri di antara suara air dari shower dan wastafel. (10)
Gadis itu menarik napas, menyedot ingus yang sepertinya ingin keluar karena rasa frustasi.
Ditatapnya guci dan kaos bergantian sebelum memasukkan kaos ke dalam guci dengan gerakan ragu-ragu. Ia kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi. (8)
Alir merah mulai ikut dalam pertengkaran. Mengalir dari pelipis, terus ke pipi, kemudian mengusap dagu sebelum berceceran ke leher, baju, juga lantai pijakan. Semakin meriah lagi merahnya karena ada yang merembes dari kening.
(2)
@chamyskid Tawa Michael seketika berhenti. Badannya tersentak dan kepalanya terombang-ambing di udara karena kena hantam berulang. Beberapa kali tangannya ikut menghadang ayunan plakat, tetapi berakhir kena hantam juga.
(1)