Sekali lagi
gelap bersiasat
saat bulan menadah rintik
dalam tirakat
Ah, kau sudah menutup salam
di ganjil rakaat
Sebelum genap hujan menggenangkan sujud.
#TemaSS@SelarikSyair
@PelangiPuisi Sesudah menyelami salam
bayang-bayang bertambah hitam
tadah buana pekat disulam gerhana
seribu bulan berkaca
pada matanya yang berkaca-kaca
menyiasati malam
#puisipendek
@PelangiPuisi Dari kotamu, Dik
musim telah berhasil meresapi asin laut
saat kau benamkan seribu makam di sekat pasang
maka telah kuserahkan takdir yang melandai di garis batas rembang penyair
Ambillah!
#SeninPelangi
@PelangiPuisi@bungkusn Dari kotamu, tersiar kabar
Tanah yang dijarah
muara arus yang serakah
Sajak-sajakku gagu menukil amsal warta angin yang disekap zirah
hingga dunia berdebat
Ikhwal salah dan benar yang dibungkam.
#SeninPelangi
@PelangiPuisi Aku mulai menilik mimpi
harap yang memaku meja kayu
;ujung kemudi waktu
riak musim yang ketinggalan
tak akan mengurung metafora
sebab dedaun telah menulis mekarnya sendiri
#puisikangambar
@PelangiPuisi Berhias dalam lilitan vas
kembang-kembang kertas
mekar setaman
Tandas sudah suram helai-helai suram
mari menulis mimpi, Cintaku
di atas ranggas yang tak jadi
#puisikangambar
@PelangiPuisi Telah matang, sembilan musim yang mukim membuahi segala mukim
di gersang tanah jiwa
tak ditemui lagi sesal, saat mekar mengekalkan pilihan bunga
pada muasal segala suka
#puisikangambar
Tanpa diketuk
denyaran akan membuka pintu
Siapa yang masuk, Sayangku?
Karena kantuk
menjadi halaman terkhir buku
sebelum selimut dibajukan
@PelangiPuisi#puisipendek
@PelangiPuisi Setelah ketakjuban ini
Kau akan mulai menguji
asin laut di renda jilbab
dan aku mulai mengundi
sedepa demi sedepa
hingga sehasta rahasia
urung tersingkap
#SeninPelangi
@PelangiPuisi Setelah ketakjuban merasuki Qais
dunia seolah lupa warna cuaca
lalu bagaimana mungkin ia tahu cara menangis
Sebab duka telah mendermakan hidup bagi cinta
#SeninPelangi
Rona mega, raguragu mengarak engkau, rapuh lagit, masih entah akan runtuh di mata siapa?
Mari berduka dalamdalam
Sedalam igau dan ceracau hujan malam
yang lirih menggorogoti telinga kota
Hingga tak mampu lagi kita dengar bising suara lampu taman.
@PelangiPuisi
ditaksir bibir pisau,
aku cemas
ini kesedihan bagiku.
sebab seringkali,
buah kehilangan kulitnya
meski dirasa lebih manis.
kecuali, kau tumpulkan
keinginanmu
untuk mengupasnya
dalam-dalam. - @diperjelas
Di jazirah Cinta
Hitam putih butir pasir
masih diamini iman
Hingga sampai cahaya
mengubak getir
sebelum panas jatuh di kaki musafir
9999 tabir
muasal paham bermalam
tak termaknai sebelum kudengar
Letup yang pecah di bibir mufasir
@PelangiPuisi
@PelangiPuisi
Kau terpetik dari mantra malam
Betapapun bulir dipeluk desau Desember
Januari tak pernah kekeringan rayu
Jatuhlah jadi sehelai putik kembang
#puisipendek