Setelah merekonstruksi ulang diri, akhirnya sedikit paham tentang skenario yang semesta ciptakan.
Tentang mengikuti alur perjalanan yang sepenuhnya untuk disadari. Bahkan, kilasan-kilasan pun kian nampak. Hingga semua nampak terlihat jelas apapun hasil akhirnya.
Semesta memang unik. Sedari awal dibuat lupa, tapi akhirnya menemui titik temu dalam setiap kilasan yang membuat semakin teringat. Memang benar, bahwa serangkaian takdir itu akan menguji hubungan satu sama lain. Hingga keduanya memiliki rasa siap untuk dipertemukan kembali.
Pernah mencintai seseorang, namun sempat terlupakan oleh keadaan. Kini, waktu seolah sedang menuntun rasa agar dapat dipertemukan. Entah bisa terjadi kapan? Namun, perlahan tapi pasti.
Memang, setiap persoalan sudah ditetapkan bentuk dan kadarnya menurut tujuan yang ditentukan.
Bagi yang memahami, realitas kehidupan tidak lebih hanya sekedar menjalani peran sesuai rencana.
Beragam aktor, telah dipersiapkan sesuai peran dengan tema dan plot masing-masing.
Pencapaian tertinggi manusia, tidak dilihat dari apa yang melekat dalam dirinya. Melainkan, apa yang mampu mereka tempatkan pada sesuatu yang sudah seharusnya. Sebab, menikmati adalah proses rasa. Bukan rupa atau bahkan bentuk yang nampak.
Tidak semua hal perlu diketahui, dipelajari bahkan sampai diterapkan dalam hidup. Sebab, untuk menyikapi suatu perubahan, diperlukan sikap selektif dalam berbagai hal.
Mengingat, kendali atas hidup kita yang sangat terbatas dan tujuan daripada hidup kita itu sendiri.
Ternyata, disaat inilah kita akan tersadar, bahwa:
"Kekayaan, kemewahan dan kekuasaan kini mulai tidak berlaku. Termasuk uang yang secara perlahan, kini mulai pudar akan nilai kegunaannya."
Yang ada, kita lebih memprioritaskan kebutuhan yang berasal dari sumber daya alam seperti air, tanah beserta tumbuhan. Sebab, semua hal itu dapat menghantarkan kita untuk berada dalam kondisi 'bertahan' dan mampu menopang 'kelanjutan' atas sisa kehidupan yang sedang berjalan.
Benar memang, perhiasan dunia tidak dapat menjamin akan ketentraman, kenyamanan dan kebahagiaan hidup manusia.
Saat ini, kita disuguhkan oleh situasi dimana ketidakmampuan harta, tahta atau jabatan maupun pasangan dalam mencapai itu semua.
Sikap 'kendali diri' atas era sekarang ini merupakan gambaran diskresi yang tepat untuk melawan kuatnya arus dari berbagai pengaruh yang timbul atas ketidakseimbangan siklus kehidupan.
Kegentingan telah melanda, kekacauan telah merajalela. Lebih mendekatlah kepada Sang Pencipta.
Kehancuran itu nyata. Takkan ada yang mampu merubah semua, selain kehendak-Nya. Pilihlah sesuai jalan yang masing-masing kita yakini. Tak perlu berdebat atas apapun.
Jalani saja peran kita masing-masing. Tak perlu memelas, pun tak minta agar dikasihani. Sebab, keselamatan hidup ditentukan oleh tangan kita sendiri.
Pakailah hati dan kelima indera kita untuk dapat membaca situasi sekarang ini.
Yang terpenting dalam menjalani hidup di era "terbalik" ini adalah memahami diri untuk lebih mengenal sejatinya diri kita sebagai manusia.
Memiliki rasa, kemampuan dan kemauan. Tapi, jangan sampai salah dalam menggunakan.
Kenapa lebih memilih diam dari sebelumnya?
Bukan apa-apa, hanya saja.
Rasanya ada hal yang bahkan tidak dimengerti bahkan sulit untuk diungkapkan.
Terlebih, setiap perubahan menambah kapasitas beban tampung dalam diri.
Entah bagaimana menjelaskan sesuatu yang memang bukan ranah yang lumrah. Ketika kita cenderung berpikir untuk menilai, usahakan untuk tidak melihat pada konteks preferensi pribadi. Agar kita lebih memahami nilai yang memang belum dipahami.
Sejak pengalaman itu masuk dalam fase hidup. Banyak hal yang memang tak terduga. Beragam rasa kian dialami, bahkan klise pikiran juga turut menengahi. Namun, di situasi dan kondisi saat ini malah lebih disyukuri. Sebab, tak semua menjalani dan tak sekira mudah dalam mengilhami.