Matematika simpel soal pikap Kopdes Merah Putih, versi ICW:
Harga beli PT Bumi Indo Gemilang (BIG) dari Mahindra India: Rp 168,8 juta/unit.
Harga jual BIG ke Agrinas Pangan (BUMN): Rp 255 juta/unit.
Selisih wajar buat untung perantara (10-15%): cuma Rp 17-25 juta.
Selisih beneran yang kejadian: Rp 86 juta/unit.
Dikali 80.000 unit pikap = potensi rente Rp 4,86–5,54 triliun.
Ini bukan angka ngarang, ini hasil analisis ICW dari data ekspor-impor resmi.
Yang bikin makin ganjil: PT BIG selaku perantara "penting" ini baru resmi urus izin dagang mobil baru per November 2025, gak sampe setahun sebelum ditunjuk nanganin proyek nasional 80 ribu unit.
Sebelumnya gak ada rekam jejak impor kendaraan sama sekali.
ICW udah minta KPK turun tangan dan proyeknya disetop dulu sampai transparan.
Kalo margin "jasa perantara" segede itu, sebenernya siapa yang lagi dibantu, koperasi desa, atau perantaranya?
Perlu diluruskan sejak awal: dalam fikih Sunni, orang mati bunuh diri tetap dimandikan, dikafani, disalati, dan dikubur di pemakaman muslim.
Dia tidak dihukumi kafir hanya karena bunuh diri, karena bunuh diri adalah dosa besar (kabirah), bukan kekufuran yang mengeluarkan dari Islam.
Jadi, tidak ada satu pun mazhab yang mengatakan jenazahnya sama sekali tidak boleh disalati oleh siapa pun.
Ia dituduh sesat oleh ulama, diancam oleh penghulu, dan dijauhi oleh tetangganya sendiri. Semua itu terjadi hanya karena ia memasang meja dan kursi di dalam kelasnya.
Ini bukan kisah orang kafir yang menyerang Islam. Ini kisah seorang kiai dari Kauman yang mengubah cara kita belajar sampai hari ini.
Di awal abad ke-20, Indonesia hidup dalam dua sistem pendidikan yang saling melecehkan satu sama lain. Pesantren melahirkan ulama yang hafal kitab namun tidak mengenal matematika, sementara sekolah kolonial Belanda mencetak intelek yang lancar berhitung namun terputus dari akar spiritualnya sendiri.
Dari dua kutub inteligensia inilah lahir jurang yang dalam: lulusan pesantren menguasai agama tapi tidak menguasai ilmu umum, sementara lulusan sekolah Belanda menguasai ilmu umum tapi tidak menguasai ilmu agama. K.H. Ahmad Dahlan menyaksikan tragedi ini dari dekat, dan ia tidak bisa tinggal diam.
Dahlan menolak untuk memilih salah satu. Ia justru menggabungkan keduanya dalam satu kurikulum yang dianggap mustahil oleh kalangan kolot maupun kalangan radikal sekaligus. Di ruang tamu berukuran 2,5 x 6 meter, dengan perabotan yang sudah ia jual dan harta yang sudah ia lelang, ia memulai revolusi pendidikan dari nol.
Langkah itu bukan nekat tanpa pijakan. Dahlan memiliki landasan filosofis yang kuat: bahwa Al-Qur’an tidak hanya berbicara soal ritual ibadah, tetapi secara konsisten mendorong manusia untuk menggunakan akal dan mempelajari alam semesta. Ilmu agama dan ilmu umum, dalam pandangannya, adalah dua sayap dari satu burung yang sama.
Visi Ahmad Dahlan bukan sekadar memadukan mata pelajaran, melainkan membentuk manusia yang memiliki empat kecerdasan secara utuh: intelektual, spiritual, emosional, dan profesional. Inilah yang membedakan filsafat pendidikannya dari sekadar reformasi kurikulum biasa. Ia tidak sedang mereformasi sekolah, ia sedang mereformasi manusia.
Tujuan pendidikan menurut Dahlan adalah membentuk manusia yang alim dalam ilmu agama, berpandangan luas dengan memiliki pengetahuan umum, sekaligus siap berjuang mengabdi untuk menyantuni nilai-nilai keagamaan di tengah masyarakat. Ukuran keberhasilan bukan nilai ujian, melainkan kemanfaatan nyata bagi orang-orang di sekitarnya.
Satu prinsip Dahlan yang paling mengguncang adalah penolakannya terhadap ilmu yang berhenti di kepala. Bagi Dahlan, materi pendidikan bukanlah sekadar teks yang dihafal, melainkan instrumen untuk transformasi. Ia menekankan pendidikan yang fungsional dan aplikatif, di mana ilmu harus menjelma menjadi amal perbuatan nyata.
Inilah yang membuat Muhammadiyah lahir bukan sebagai organisasi ceramah, melainkan organisasi yang langsung mendirikan rumah sakit, sekolah, dan panti asuhan. Dahlan tidak pernah percaya pada perubahan yang hanya terjadi di mimbar. Ia percaya pada perubahan yang terjadi di lantai rumah sakit dan di bangku sekolah.
Dahlan melihat bahwa dikotomi antara ilmu Islam dan ilmu umum bukan kebetulan sejarah, melainkan bagian dari strategi kolonial untuk memecah belah, agar masyarakat pribumi tetap bodoh dan terbelakang. Menyadari ini bukan sekedar pelajaran sejarah, ini adalah cermin yang membuat kita bertanya: seberapa jauh kita sudah benar-benar merdeka dari cara berpikir itu?
Hari ini, ketika dunia kerja menuntut profesional yang berintegritas dan sistem pendidikan kita masih sibuk memperdebatkan jam pelajaran agama versus mata pelajaran STEM, filsafat Dahlan terasa bukan sebagai masa lalu yang kita kenang, melainkan sebagai masa depan yang belum juga kita capai.
Ulasan Buku: Filsafat Pendidikan KH. Ahmad Dahlan - Utami Pratiwi
Training Manajer Koperasi Desa Merah Putih buat ngurus minimarket
Yang gak diajarin:
- Manajemen stok dan inventaris ❌
- Pengelolaan uang tunai ❌
- Pertanggungjawaban keuangan ❌
- Penerimaan barang dan hubungan dengan supplier❌
- Pencegahan kehilangan barang❌
- Penataan produk di rak❌
- Penjadwalan staf dan manajemen tim❌
- Standar pelayanan pelanggan❌
- Keamanan dan kebersihan produk❌
- Pembacaan laporan penjualan dan data dasar❌
- Regulasi penjualan dan barang❌
- Perizinan usaha❌
Yang diajarin:
- Kicau mania ✅
- Huu haaa ✅
- Teroreroteroret ✅
PIUTANG PLN KE PEMERINTAH NAIK 156%.
ARTINYA PEMERINTAH NUNGGAK BAYAR KE PLN SEHINGGA PLN TIDAK PUNYA DUIT.
TIDAK PUNYA DUIT SEHINGGA TIDAK BISA BEKI BATUBARA
TIDAK BISA BELI BATUBARA, SUPLAI LISTRIK BERKURANG.
SIAP2 MENYALA BERGILIR
BUKAN PEMADAMAN BERGILIR
Dari foto laporan keuangan PLN yang beredar, ada satu angka yang langsung mencolok begitu kamu lihat.
Piutang dari Pemerintah tercatat Rp 110,738 triliun di periode terbaru, naik drastis dari sebelumnya Rp 43,290 triliun. Kenaikannya lebih dari 156% dalam satu periode.
Bukan naik tipis. Ini lonjakan yang sangat besar dan perlu dijelaskan.
PLN adalah perusahaan negara yang menjual listrik ke rakyat dengan tarif yang tidak selalu mencerminkan biaya produksi sebenarnya.
Untuk pelanggan rumah tangga 450 VA dan 900 VA bersubsidi, PLN menjual listrik jauh di bawah harga pokok produksinya.
Selisihnya ditanggung pemerintah dalam bentuk subsidi dan kompensasi.
Tapi pemerintah tidak selalu bayar langsung.
PLN dulu bayar dulu ke produsen energi, ke kontraktor, ke supplier batu bara dan gas, lalu nagih ke pemerintah belakangan. Tagihan yang belum dibayar pemerintah ini yang dicatat sebagai "piutang dari pemerintah" di neraca PLN.
Sederhana:
PLN sudah keluar uang, tapi pemerintah belum bayar.
KENAPA ANGKANYA BISA MELEDAK SEGITU?
Ada beberapa faktor yang menjelaskan lonjakan ini.
pertama adalah program diskon listrik 50% Januari-Februari 2025. Pemerintah mengumumkan diskon tarif listrik untuk seluruh pelanggan di bawah 2.200 VA selama dua bulan. Biayanya ditanggung negara tapi dibayar PLN dulu. Total tagihannya saja sudah Rp 13,61 triliun hanya dari program dua bulan itu.
kedua adalah mekanisme pembayaran yang lambat. Selama ini pemerintah membayar kompensasi ke PLN per tiga bulan atau bahkan per enam bulan sekali. Artinya PLN harus talang dulu berbulan-bulan sebelum uangnya balik. Semakin lama jeda bayar, semakin besar piutang yang menumpuk.
ketiga adalah subsidi dan kompensasi yang terus membengkak. Pada 2025, realisasi subsidi dan kompensasi listrik sudah menyentuh lebih dari Rp 210 triliun. Sementara tarif dasar listrik tidak naik karena alasan politik. Selisih antara biaya produksi dan tarif yang dibayar rakyat inilah yang jadi beban yang terus menumpuk.
DARI MANA PEMERINTAH BAYARNYA?
Sumber pembayarannya ada di APBN, tepatnya dari pos Belanja Subsidi dan Kompensasi Energi. Pada 2024 saja, total subsidi dan kompensasi energi (BBM, gas, listrik, pupuk) mencapai Rp 434,3 triliun. Khusus listrik yang dikompensasi, salah satu contohnya adalah pelanggan 900 VA non-subsidi yang mendapat kompensasi Rp 400 per kWh, artinya dari harga seharusnya Rp 1.800 per kWh, mereka hanya bayar Rp 1.400 per kWh. Selisih Rp 400 itu ditanggung APBN, dan ada 50,6 juta pelanggan yang masuk kategori ini.
Masalahnya bukan soal ada atau tidak anggarannya.
Masalahnya adalah timing pencairannya.
Komisi XI DPR sempat melaporkan bahwa kompensasi kuartal I-2025 untuk PLN senilai Rp 27,6 triliun belum dibayarkan.
Bahkan ada tagihan 2024 yang dibebankan ke APBN 2025. Jadi tagihan lama belum lunas, tagihan baru sudah datang.
PLN yang punya piutang besar tapi belum cair ini berdampak ke kemampuan perusahaan membayar supplier dan produsen listrik swasta tepat waktu.
Kalau pembayaran ke IPP terlambat, ada risiko gangguan pasokan.
Dalam jangka panjang, ini juga mempengaruhi rating kredit PLN dan kemampuan pinjam untuk investasi infrastruktur.
Untuk kita sebagai pelanggan, selama tarif listrik tidak disesuaikan dengan harga pokok produksi, maka subsidi dan kompensasi akan terus menggelembung, piutang PLN ke pemerintah akan terus naik, dan beban APBN akan semakin berat.
Ada wacana perbaikan skema pembayaran menjadi bulanan agar piutang tidak menumpuk terlalu lama.
Tapi selama tidak ada reformasi tarif dan pembenahan kontrak IPP, akar masalahnya tetap ada.
Rakyat bayar murah.
PLN tombok dulu.
APBN yang bayar belakangan
Dan siklusnya terus berulang setiap tahun
APAKAH KEDEPANNYA BENERAN GELAP?
Kalau kamu pernah ikut demo, pulang dengan perasaan "ini akan mengubah sesuatu", lalu tiga bulan kemudian semuanya kembali seperti semula, seolah tidak terjadi apa-apa — 𝐔𝐓𝐀𝐒 𝐈𝐍𝐈 𝐔𝐍𝐓𝐔𝐊 𝐊𝐀𝐌𝐔.
Hal itu dijawab tuntas oleh Zen RS di Diskusi & Peluncuran Buku: Infrastruktur Impunitas (Karya Elizabet F. Draxler).
Ini agak panjang. Tapi setiap bagiannya saling mengunci, dan di akhir, ada satu pertanyaan yang mungkin akan terus mengganggumu setelah selesai membaca.
𝗦𝗘𝗕𝗨𝗔𝗛 𝗨𝗧𝗔𝗦.
"Pak TU Kampus"
"Iya gimana?"
"Ini kok saya dapet UKT tertinggi? Penghasilan Orang Tua saya gak segede itu?"
"Coba saya cek, kasih nama sama NIM?"
"Debi Pak, ini NIM saya."
"..."
"Ini ibu kamu PNS? Dosen?"
"Iya, cuma Ibu saya lagi tugas belajar, cuma terima gaji pokok doang, UMR juga gak sampai. Bapak juga udah gak ada."
"Waduh, kalau PNS emang biasanya UKT tertinggi, memang gitu aturannya di kampus ini."
"Hah? Terus gimana Pak?"
"Coba kamu apply KIPK. Ini dicek ya syaratnya."
***
"Bu Dinas Sosial."
"Iya gimana?"
"Saya mau cek orang tua saya di desil berapa di DTSEN, saya mau daftar KIPK."
"Minta NIK orang tua ya."
"Ini Bu, tolong dicek"
"Sebentar ya"
"..."
"Ini ibu kamu PNS? Dosen?"
"Iya, cuma Ibu saya lagi tugas belajar, cuma terima gaji pokok doang, UMR juga gak sampai. Bapak juga udah gak ada."
"Waduh, kalau PNS pasti kehapus dari DTSEN. Dari jaman DTKS juga rutin diapus. Perintah menteri sosial. Memang aturannya gitu."
"Hah? Terus gimana Bu?"
"Coba kamu pakai surat keterangan tidak mampu atau slip gaji ortu buat daftar KIPK."
***
"Pak Lurah, saya mau minta SKTM buat daftar KIPK"
"Kamu bukannya Debi, anaknya Bu Lala, dosen di kampus itu?"
"Iya Pak"
"Lah, penghasilannya bukannya lumayan?"
"Iya, cuma Ibu saya lagi tugas belajar, cuma terima gaji pokok doang, UMR juga gak sampai. Bapak juga udah gak ada."
"Bentar saya cek dulu aturannya, Ibu PNS kan ya?"
"Iya Pak"
"Saya kemarin dapet instruksi dari Pemda sini, katanya kalau PNS gak boleh dapet SKTM. Jadi saya gak berani keluarin."
"Hah? Terus gimana Pak?"
"Coba langsung pakai slip gaji Ibu ke Dikbud."
***
"Bu Dikbud."
"Iya gimana?"
"Saya mau daftar KIPK, cuma data ortu saya gak ada di DTSEN sama Pak Lurah gak bisa ngeluarin SKTM. Jadi pakai slip gaji."
"Sebentar saya cek ya."
"Ini slip gaji ibu kamu? PNS? Dosen?"
"Iya, cuma Ibu saya lagi tugas belajar, cuma terima gaji pokok doang, UMR juga gak sampai. Bapak juga udah gak ada."
"Waduh, kalau PNS emang gak bisa daftar KIPK. Kemarin pejabat tim teknis KIPK udah bilang kalau PNS gak boleh sama sekali."
"Sama sekali Bu? Gaji Ibu saya cuma segini?"
"Iya. Bahkan Golongan I juga gak boleh. Memang aturannya begitu."
"Hah? Terus gimana Bu?"
"Coba ke bank aja sama Ibu, siapa tahu bisa ada pinjaman"
***
"Bu CS Bank"
"Iya gimana?"
"Saya mau ajukan pinjaman buat bayar UKT anak saya"
"Baik Bu, saya cek dulu"
"..."
"Bu Lala, setelah kita cek penghasilan dan riwayat finansial, kita gak bisa kasih pinjaman."
"Kenapa Bu?"
"Mohon maaf Pak, resiko gagal bayarnya tinggi. Saya gak berani Bu, nanti saya yang kena."
"Waduh, terus gimana ini Bu?"
***
"Pak TU kampus, saya gak bisa dapet KIPK Pak"
"Udah coba pinjam bank?"
"Gak bisa Pak, penghasilan Ibu saya gak cukup."
"Coba ini, perusahaan fintech yang kerjasama sama kampus"
***
"Mas fintech, kalau saya pinjam 12.5 juta buat UKT, saya mesti nyicil berapa?"
"Sekitar 1.3 juta per bulan selama setahun"
"Wah jatuhnya 15.5 juta dong? Bunganya 3 juta sendiri?"
"Iya Mbak"
"Waduh, itu segede biaya hidup saya euy. Gak mampu bayarnya"
"Memang aturannya segitu pinjaman kita."
***
"Pak TU Kampus"
"Iya gimana?"
"Misalkan saya mau nunda kuliah jadi tahun depan, buat ngumpulin duit dulu, bisa gak?"
"Jadi gak daftar ulang pertama?"
"Iya."
"Gak bisa, kalau udah lulus ujian tahun ini, kamu diblacklist dari ikut ujian lagi tahun depan."
"Hah?"
12 tahun
Habis cari kayu bakar
Laki-laki
RIP adek Martinus Yobee 😭💔
"Aparat buang senjata kiri-kanan, tidak memandang apakah ada orang atau tidak di sekitar itu. Maka itu Martinus kena di bagian perut," kata Yulianus Goo (paman).
Martinus anak bungsu di keluarganya, punya 4 saudara kandung.
"Setelah membantu orang tua, dia turun ke jalan raya untuk main-main, tapi ternyata baku dapat dengan kejadian perang," kata Yulianus. "Oleh sebab itu dia mencari perlindungan dari aparat di belakang Dukcapil."
Martinus tertembak di belakang kantor Dukcapil Dogiyai, sekitar 350 meter dari SD Negeri Moanemani, tempatnya pernah mengenyam pendidikan.
"Dia membantu bapak punya pekerjaan, seperti mencari kayu atau membuat pagar. Dia juga tidak lupa terhadap mama, kerja kebun seperti mengangkat bedeng atau ubi ke rumah," ujar Yulianus.
USUT TUNTAS PENEMBAKAN 5 WARGA (TEWAS) & 3 WARGA (LUKA PARAH) DI DOGIYAI, PAPUA TENGAH!!
Sumber: https://t.co/3JzT46iE5z
Menyebut Soekarno Muhammadiyah nya cuma formalitas KTA itu ahistoris. Beliau itu Ketua Majelis Pengajaran Muhammadiyah pas di Bengkulu (1938-1942).
Bukan cuma ikut-ikutan, tapi ikut mikirin kurikulum pendidikan. Bahkan beliau pernah bilang, 'Kalau saya mati, selimutilah saya dengan kain Muhammadiyah.' Itu level loyalitas kader, bukan cuma 'abang-abangan'.
Guys, update terbaru dari drama motor listrik BGN dan jawaban resminya justru bikin lebih banyak pertanyaan dari sebelumnya.
Kepala BGN Dadan Hindayana akhirnya bicara langsung ke Menkeu Purbaya.
Dan jawabannya cuma dua kata:
Sudah terlanjur.
Sekali lagi
Sudah terlanjut
Tunggu dulu.
Kita recap dulu dari awal.
BGN beli 21.801 unit motor listrik merek Emmo untuk program MBG. Tanpa laporan ke DPR.
Menkeu Purbaya sudah blokir anggaran ini di 2025.
Komisi IX DPR bilang tidak pernah dikonsultasi dan kalau dikonsultasi pasti ditolak.
Kantor distributor motornya bahkan belum selesai dibangun.
Dan sekarang penjelasan resminya adalah:
Itu anggaran tahun lalu.
Sudah terlanjur keluar.
Mari kita bedah satu per satu.
Pertama anggaran tahun lalu.
Purbaya sendiri mengakui dia sudah blokir pengadaan motor ini di tahun 2025.
Artinya secara resmi anggaran itu harusnya tidak bisa keluar.
Tapi ternyata keluar juga.
Sebagian.
Kalau anggaran sudah diblokir bagaimana bisa terlanjur keluar?
Siapa yang otorisasi pengeluarannya?
Mekanisme kontrolnya di mana?
Kedua sudah terlanjur
Ini bukan jawaban dari institusi negara yang mengelola uang rakyat senilai triliunan rupiah.
Ini jawaban orang yang lupa matiin kompor sebelum pergi.
Sudah terlanjur bukan penjelasan tata kelola.
Itu pengakuan bahwa ada proses yang berjalan tanpa kontrol yang memadai.
Ketiga merek Emmo.
Motor listrik yang dibeli adalah merek Emmo yang desain industrinya baru didaftarkan di 2025.
Merek baru.
Pengalaman di lapangan belum terbukti. Dan ini dipilih untuk program nasional skala 21.000 unit lebih.
Proses seleksinya seperti apa?
Siapa yang evaluasi kesiapan teknisnya?
Kenapa merek baru yang belum teruji?
Keempat motornya masih di gudang.
21.801 unit motor listrik.
Sudah dibeli.
Sudah dibayar atau dalam proses pembayaran.
Tapi semuanya masih parkir di gudang distributor menunggu proses administrasi BMN.
Artinya uang sudah keluar.
Motor sudah ada.
Tapi belum dipakai.
Dan program MBG berjalan tanpa motor-motor itu selama ini.
Lalu untuk apa beli sekarang kalau belum bisa dipakai?
Dan ini yang paling gue garisbawahi:
Narasi resmi sekarang adalah: Jumlah 70.000 unit itu tidak benar.
Realisasinya cuma 21.801 unit.
Oke. Tapi "cuma" 21.801 unit itu bukan angka kecil.
Itu ribuan unit motor dari merek baru yang dibeli tanpa persetujuan DPR, setelah Kemenkeu blokir, dengan distributor yang kantornya belum selesai dibangun.
Dan penjelasan resminya adalah sudah terlanjur.
DPR memanggil BGN hari Senin 13 April.
Dan gue harap Komisi IX tidak puas dengan jawaban sudah terlanjur di depan mereka.
Yang perlu dijawab dengan konkret:
siapa yang otorisasi pengeluaran anggaran yang sudah diblokir Kemenkeu?
Bagaimana proses seleksi merek Emmo dilakukan?
Berapa total nilai pengadaan ini?
Dan siapa yang bertanggung jawab kalau motor ini ternyata tidak bisa beroperasi dengan baik di lapangan?
Sumber: Tribun News
Doa yg dulu saya sering ucapkan, tp pada akhirnya saya koreksi lagi:
"Ya Allah, berilah saya rejeki yg lebih banyak supaya saya bisa terus menolong orang² ini..."
Kalau doa saya diizinkan terjawab oleh Allah, saya akan berdoa begini -
"Ya Allah, berilah rejeki yg banyak buat orang² ini sehingga mereka gak butuh lagi pertolongan dari saya"
---------
Dengan bahasa yang pertama tadi, berarti saya juga ikut mendoakan biar selalu ada orang yang berkekurangan & membutuhkan pertolongan saya 🥲
Yg bikin saya ngga enak hati juga adalah:
kenapa saya kemarin begitu sungkan sama Tuhan buat meminta rejeki untuk saya - sampai membawa embel² kesulitan orang lain dulu, biar seolah² saya minta buat kebaikan orang lain..
"Berilah rejeki yang lebih banyak biar saya bisa bantu orang lain. Biar bisa berbagi ke Panti Asuhan. Biar bisa berbagi ke orang miskin.."
Tp kemudian saya diingatkan lagi:
Ini semua bukan tentang berbagi ke panti asuhan, bukan tentang berbagi ke orang miskin, ngga.
Kita pengen Tuhan memberi rejeki yg lebih banyak buat kita dulu, bukan ke mereka² yg membutuhkan..... 🥹
-------
memang betul, kalau rejeki kita lebih banyak, akan lebih mudah kita buat berbagi dari kelebihannya...
Tapi, kalau kita memang betul² peduli sama poin berbagi buat orang lain, sebenernya ngga perlu nunggu rejeki yang lebih banyak.
Dengan apa yang kita bisa sekarang, dengan apa yang kita punya sekarang,
Kalau memang Allah me-Ridho-i, kalau memang Tuhan Berkenan dengan apa yang kita niatkan, dengan apa yang kita kerjakan, saya yakin pasti Tuhan terus menambah²kan Rejeki-Nya bagi kita -
ngga melulu tentang uang, tapi bisa juga kesehatan yg membaik, keluarga & teman² yg suportif, ketenangan & kedamaian hati dalam menghadapi segala sesuatu..
---------
saya yakin di-Mata Tuhan tidak ada yang terlalu kecil untuk diperhitungkan sebagai pertolongan bagi mereka yang membutuhkan & tidak ada yang Rejeki yang terlalu kecil untuk kita nikmati sebagi bahan bersyukur menjalani hari-hari ❤️❤️
KOMDIGI Strikes Again! Postingan isu Andre Yunus terbungkam
Setelah dikejutkan dengan berita rating IGRS yang melakukan rating asal-asalan, kini saya dikejutkan dengan salah satu postingan dari Eko Juniarto yang menunjukkan sebuah postingan instagram yang hanya bisa di akses dengan menggunakan VPN karena telah di blokir oleh pihak Instagram atas permintaan KOMDIGI. Saya coba membuka link tersebut tanpa menggunakan VPN dan hasilnya memang benar, saya tidak bisa melihat isi postingan dari link tersebut akibat di blokir oleh KOMDIGI (Komedi Digidaw). Namun setelah saya cek menggunakan VPN, ternyata isinya merupakan sebuah berita tentang kasus Terror Air Keras Andre Yunus yang meng-highlight ke-16 terduga tersangka lapangan yang melakukan terror tersebut.
Menurut saya, ini merupakan sebuah langkah komdigi untuk melakukan pengontrolan internet secara massif dengan cara membungkam kritik, fakta, dan juga opini yang membuat citra nama aparat menjadi jelek. Namun sejujurnya saya juga khawatir masalah seperti ini bisa saja terjadi pada sosial media lain seperti twitter, facebook, dan sosial media lainnya. Jadi untuk kedepannya berhati-hatilah dalam memposting sesuatu, karena sekarang pemerintah memiliki kekuatan untuk membungkam siapapun yang mencoba mengusik mereka.
Bagi yang mau mampir bisa klik link dibawah:
https://t.co/wWXbbzFWMg
Bagaimana menurut kalian?
Polisi Bunu 4 orang warga sipil di Dogiyai Papua pada 31/3/2026
Siprianus Tibakoto (19) terkena peluru di bagian kepala belakang, mama Ester Pigai (60) yang sejak lama lumpuh tertembak di dalam rumahnya, & Yoseph Yobee (18) tertembak di bagian perut hingga ususnya terburai.
Suatu malam, Budi ktemu orang merangkak di bawah lampu jalan
"Lagi apa Pak?"
"Dompet saya jatuh"
"Oh saya bantu mencari ya"
30 menit dicari gak ketemu2
"Bapak yakin jatuhnya di sini?"
"Kayaknya di jalanan gelap itu mas"
"Kok nyarinya di sini?"
"Ya gmn, Soalnya yg terang di sini"
Saya kali pertama tahu kutipan ini dari bahasa Arab, tapi enggak pernah tahu siapa penulis aslinya dan memang sangat romantis.
ثُمّ أتمنى أن تجد شخصًا يتحدث بلُغتك، لئلّا تُمضي عمرًا كاملًا في ترجمة روحك
(Tsum 'atamanaa 'an tajida syakhshan yatahadatsu bilughotik, li allatum di a umran kamilan fi tarjamati ruhik.)
May you find someone who speaks your language, so you don't have to spend a lifetime translating your soul.
Untuk verifikasi, saya unduh videonya, saya transkripsikan dan terjemahkan dengan bantuan AI.
Berikut isi video di bawah ini:
Putra Mahkota Arab Saudi, Muhammad bin Salman, mengakui bahwa penyebaran paham Wahabi yang keras oleh negaranya merupakan permintaan dari pihak sekutu, dalam rangka menghadapi meluasnya pengaruh dan penetrasi Uni Soviet pada masa Perang Dingin.
Dalam wawancaranya dengan The Washington Post, ia menyatakan bahwa pemerintah-pemerintah Saudi sebelumnya telah menempuh jalur penyebaran paham Wahabi yang ketat. Ia menegaskan bahwa kini saatnya untuk mengembalikan keadaan ke jalur yang semestinya.
Dalam pernyataan yang sarat pengakuan, Muhammad bin Salman menyebut bahwa penyebaran paham Wahabi oleh negaranya merupakan sebuah keniscayaan yang didorong oleh kepentingan serta tekanan Barat terhadap Riyadh, guna membendung ekspansi pengaruh Uni Soviet selama Perang Dingin.
Akar dari investasi Saudi dalam pembangunan sekolah dan masjid bermula pada periode Perang Dingin, ketika sekutu meminta Arab Saudi untuk memanfaatkan sumber dayanya demi mencegah Uni Soviet memperluas pengaruhnya di negara-negara Islam. Ia menambahkan, “Saya percaya bahwa Islam itu rasional dan sederhana, tetapi ada pihak-pihak yang mencoba membajaknya.”
Dengan demikian, Perang Dinginlah yang, menurut pernyataan Putra Mahkota, mendorong Riyadh melakukan kebijakan tersebut. Namun, saat ini Riyadh harus menanggung konsekuensi dari pemanfaatan dana-dananya oleh Barat dalam perang melawan ideologi komunis.
Di sisi lain, terdapat pengakuan terbuka dari sang pangeran muda bahwa berbagai tuduhan yang diarahkan kepada rezim Al Saud, terkait pendanaan kelompok ekstremis dan teroris secara ideologis, merupakan akibat dari arah kebijakan yang ditempuh oleh pemerintah-pemerintah Saudi sebelumnya.
Ia menegaskan bahwa saat ini perlu dilakukan upaya untuk mengembalikan keadaan ke jalur yang benar. Pendanaan terhadap paham Wahabi saat ini, menurutnya, sebagian besar berasal dari lembaga-lembaga swasta yang berbasis di kerajaan, bukan dari pemerintah. Ia juga menyebut bahwa dialog dengan institusi keagamaan telah berlangsung lama.
Yang mencolok dari pernyataan-pernyataan ini adalah adanya kontradiksi yang jelas dengan fondasi Wahabi yang menjadi dasar berdirinya Arab Saudi modern. Penafsiran-penafsiran fikih yang khas dari lingkungan Saudi, yang di masa lalu turut memicu konflik dan bahkan menyeret sejumlah negara ke dalam perang saudara multidimensi, seperti di Aljazair pada tahun 1990-an, kini kembali menjadi sorotan.
Hal ini memunculkan pertanyaan: apa dampak dari pernyataan Mohammed bin Salman terhadap masa depan arus Salafi, khususnya di Aljazair?
Muhammadiyah tidak pernah menyindir atau mengolok-olok organisasi atau kelompok lain.
Selama jadi warga Muhammadiyah pun guru saya gak pernah membanggakan kita bisa menetapkan tanggal puasa dan lebaran sambil menyendiri kelompok lain.
Entahlah beliau ini warga Muhammadiyah atau bukan, tapi saya gak pernah diajarkan untuk bicara seperti ini.
Guys Netanyahu baru saja slip of the tongue yang mungkin paling jujur sepanjang konflik ini.
Dia tidak sengaja ungkap alasan sebenarnya di balik perang Iran.
Dan itu bukan soal nuklir.
Netanyahu bilang rencana sesungguhnya adalah membangun pipa minyak dari Teluk langsung ke pelabuhan-pelabuhan Israel. Memotong sepenuhnya jalur yang dikontrol oleh Arab termasuk Selat Hormuz.
Berhenti sebentar dan pahami apa artinya itu.
Selama ini narasi resminya adalah Iran harus dihentikan karena program nuklir mereka mengancam keamanan kawasan. Itu justifikasi yang dijual ke publik Amerika. Ke Kongres. Ke sekutu NATO. Ke seluruh dunia.
Tapi Netanyahu sendiri yang bocorkan bahwa ini soal kontrol jalur energi.
Pipa minyak langsung ke pelabuhan Israel itu artinya Israel tidak perlu lagi bergantung pada jalur maritim yang dikontrol negara-negara Arab. Artinya Israel punya akses independen ke sumber energi Teluk. Dan artinya siapapun yang ingin akses ke minyak Teluk harus berurusan dengan Israel sebagai titik transit.
Itu bukan keamanan nasional. Itu dominasi geopolitik atas sumber energi paling strategis di planet ini.
Dan konteks ini menjelaskan banyak hal yang selama ini terasa tidak konsisten.
Kenapa Israel menyerang South Pars ladang gas terbesar di dunia tanpa koordinasi Amerika. Kenapa fasilitas-fasilitas energi terus jadi target utama. Kenapa Hormuz menjadi pusat dari seluruh konflik ini.
Ini bukan perang untuk menghancurkan nuklir Iran.
Ini perang untuk mengubah siapa yang mengontrol aliran energi dari Teluk ke seluruh dunia.
Dan yang menanggung biayanya Qatar yang LNG-nya rusak diserang. Saudi yang kilangnya diancam. Rakyat Iran yang hidup dalam hujan hitam beracun setelah depot minyaknya dibom. Petani India yang tidak bisa dapat pupuk karena Hormuz tutup. Rakyat Indonesia yang harga BBM-nya akan naik karena semua ini.
Semua menanggung biaya dari satu rencana yang baru saja tidak sengaja diakui oleh orang yang merancangnya sendiri.