✔️ Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT) dipakai secara luas dibanyak negara muslim dunia Sehingga penentuan puasa atau apapun tak akan ada perbedaan.
Btw, pemerintah 🇮🇩 Agak Laen, cuma disuruh bilang: "hormati perbedaan" 😚
ROY SURYO Cs SEMAKIN MENYALA 💥
Laksamana Pertama TNI (Purn), Moeryono Aladin mengungkapkan dukungan Forum Purnawirawan Prajurit TNI (FPP TNI) kepada Roy Suryo Cs dalam kasus ijazah Joko Widodo pada Senin (16/2/2026).
Artikel yang berani dr mz. Moh. Ainun Rizqi.
• Kurikulum Gonta-Ganti Terus: Tiap ada perubahan kurikulum, bahasanya selalu keren: "progresif" atau "visioner". Tapi kenyataannya, guru di sekolah sering bingung karena aturan mainnya berubah terus dari pusat.
• Suara Guru Nggak Didengar: Penulis pakai istilah keren epistemic injustice. alias Negara nggak percaya kalau guru itu pinter. Guru cuma dianggap sebagai "petugas" yang tinggal jalanin perintah, bukan ahli yang paham kondisi murid di lapangan.
• Regulasi "Sok Tahu" dari Pusat: Kebijakan pendidikan kita itu sifatnya top-down (dari atas ke bawah). Orang-orang di kantor pusat yang mungkin jarang masuk kelas, bikin aturan yang harus diikuti semua guru, tanpa nanya dulu ke gurunya: "Eh, ini cocok gak buat murid kalian?"
• Guru Jadi Korban, Di satu sisi harus nurut sama aturan administrasi yang ribet, tapi di sisi lain mereka yang paling tahu kalau murid-muridnya punya kebutuhan yang beda-beda. Akhirnya guru kayak robot yang dipaksa kerja pakai remote control dari jauh.
• Efeknya? Pendidikan Jadi berantakan. Kalau pemerintah terus-terusan merasa paling tahu dan mengabaikan pengalaman nyata guru di kelas, ya pendidikan kita nggak bakal maju-maju. Antara teori di kertas sama kenyataan di kelas bakal selalu nggak nyambung.
Gila Rakyat Jateng, Gubernurnya Dilawan dgn Menyepikan Kantor Samsat
Kita lanjutkan perlawanan sunyi rakyat Jawa Tengah pada gubernurnya. Mereka tdk demo, tapi cukup menyepikan kantor samsat alias menunda bayar pajak. Gile bener, berani ya.. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Jawa Tengah, negeri lumpia! Siapa bilang perlawanan harus berisik? Di tanah yg melahirkan tahu gimbal dan soto bangkong, revolusi justru dimasak pelan2, pakai api kecil, tapi bikin dapur birokrasi gosong. Caranya? Sederhana. Jangan datang ke Samsat. Biarkan kursi tunggu kosong seperti piring setelah diserbu penggemar bandeng presto.
Lihatlah fenomena epik ini. Samsat Sukoharjo mendadak sepi setelah seruan “stop bayar pajak” viral. Biasanya jam 11 siang antrean sudah seperti ular naga panjangnya, kini lengang seperti warung gudeg koyor yg kehabisan santan. Samsat Semarang II di Banyumanik pun sunyi. Bahkan Samsat Hanoman ikut terasa dampaknya, warga datang, lihat nominal, kaget seperti digigit cabai rawit, lalu pulang tanpa bayar.
Kenapa? Karena angka2 itu tdk lagi selembut wingko babat. Kenaikan terasa 48–66% akibat opsen. Motor naik ratusan ribu. Mobil yg tadinya Rp3 jutaan bisa jadi Rp6 jutaan. Eko bayar Rp4,37 juta dari sebelumnya Rp3 jutaan. Sinta naik Rp20–25 ribu jadi Rp209.500. Ini bukan sekadar naik, ini melompat seperti udang dlm tahu gimbal yg terlalu lama digoreng, meletup dan bikin kaget.
Lalu pemerintah bilang, “Tidak ada kenaikan PKB 2026 dibanding 2025, malah diskon 5%.” Diskon 5%! Tahun lalu diskon 13,94% PKB dan 24,70% BBNKB. Sekarang 5% disebut relaksasi. Ini seperti soto bangkong tanpa daging, lalu dikasih sejumput bawang goreng dan disebut “kado manis”. Rakyat disuruh tersenyum sambil menghitung ulang isi dompet.
Gubernur Ahmad Luthfi menegaskan lonjakan itu dampak regulasi nasional, yakni Undang2 Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. Opsen 16,6% PKB dan 32% BBNKB sudah sejak 2025. Bukan keputusan sepihak, katanya. Pajak adalah sumber utama PAD, katanya lagi. Target PKB 2025 Rp4,15 triliun, realisasi Rp3,96 triliun. Triliunan rupiah berputar seperti adonan lumpia yg digulung rapi, tapi rakyat tetap bertanya, kenapa jalan masih berlubang seperti tahu gimbal yg kebanyakan kol?
Tahun 2025 Kejati selamatkan Rp56 miliar, ada OTT bupati, dana desa dikorup. Lalu kita diminta percaya bahwa semuanya aman? Tidak ada pernyataan eksplisit jaminan anti-korupsi atas PAD pajak kendaraan. Ada komitmen umum. Ada diskon 5% sampai akhir 2026. Ada ajakan jangan terprovokasi. Tapi jaminan tegas? Tidak setegas bandeng presto yang tulangnya saja bisa dimakan.
Di sinilah rakyat menemukan resep rahasia. Tidak perlu demo besar. Tidak perlu bakar ban. Cukup masak perlawanan seperti gudeg koyor, pelan, sabar, meresap. Tunda bayar. Biarkan kantor Samsat sepi seperti dapur tanpa pelanggan. Karena ketika loket kosong, grafik penerimaan turun, target bergetar. Diskon tiba-tiba muncul. Sosialisasi mendadak digencarkan. Panik itu terasa, walau tak diakui.
Ini bukan makar. Ini bukan anarki. Ini strategi kuliner, kalau rasa tidak cocok, jangan habiskan. Kalau harga tidak masuk akal, simpan uangnya. Rakyat Jateng sedang belajar, kekuatan ada di keputusan kecil yang dilakukan bersama-sama. Menunda adalah bahasa paling sopan untuk berkata, “Kami tidak setuju.”
Nuan bayangkan, jika sepinya Samsat menyebar seperti aroma lumpia goreng di Pasar Johar. Bayangkan jika kursi-kursi kosong itu menjadi metafora bahwa rakyat tak lagi mau jadi lauk pendamping dalam pesta anggaran. Ini bukan soal pelit bayar pajak. Ini soal keadilan rasa. Pajak boleh, tapi transparansi harus lebih gurih dari tahu gimbal, lebih jujur dari soto bangkong, lebih kokoh dari bandeng presto.
Untuk rakyat Jateng, lanjutkan dengan kepala dingin dan perhitungan matang. Karena kadang, revolusi paling kejam bukan yang berteriak paling keras, melainkan yang membuat dapur kekuasaan kehilangan selera.
Sumber foto: RMOL Jateng
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
335 T untuk MBG
9.638 T total utang pemerintah 2025
Normalisasi hubungan dg israel
Keracunan MBG hanya 0,0006 %
16,8 T untuk gabung BOP
Hutang Whoosh pakai APBN
19 juta lapangan kerja tipu2
Aksi tolak program MBG di Papua terus berlanjut.
“Kami pelajar, siswa dan siswi di Kabupaten Deiyai tidak membutuhkan makanan gratis, yang kami butuhkan adalah pendidikan yang memadai dan gratis" (Yohanis Kotouki)
27/2/2025
#MBGKorupsiMassal#MBGKorupsiMassal
KALO TIDAK VIRAL KASIHAN BAPAK INI.
Seorang pemilik tanah di Kota
Bogor justru harus menghadapi laporan hukum atas tanah yang ia klaim sebagai miliknya sendiri. Sejak 2021, sertifikat kepemilikan tanah tersebut dipersoalkan dan dituding palsu. Ironisnya, hingga kini belum ada kepastian hukum yang jelas terkait status lahan tersebut.
@atr_bpn@NusronWahid1