@yellowpiicture Menurut gue menyalahkan pendukung 02 atas bobroknya pemerintahan saat ini itu valid, karena ada hubungan sebab akibat di sana. Dan, pendukung 02 ini pada ndableg dikasih tau lewat cara yang akademis dibilang kepintaran lah, dikasih tau faktanya tapi mereka nolak.
@yellowpiicture contoh org egois, emg 02 voters tu egois bgt mana tolol lagi. lu bikin kesalahan gede trus lo skrg playin a drama like "plissss jangan serang gue, ini bukan salah gue kok" trs salah siapa ngenttttt????!!!
@Metro_TV woi kalian harus tanggung jawab, banyak muka orang kena tagline yang bakal jadi fitnahan mereka kurang aja ya. gataunya set up semua dari antek-antek rezim
Gue malu Presiden RI yang sudah berumur 73 tahun berpidato menggunakan gestur ala bocah “nye…nye…nye” (“terlalu besar”) dan ngomong, “ndasmu”.
Di ruangan itu reaksinya banyak yang ketawa pula 😓
Prabowo dalam penampilan pidatonya belakangan ini tak hanya meremehkan kritik netizen dan masyarakat, tapi juga meremehkan pendapat para akademisi, dan para profesor yang dia sebutkan. Prabowo melakukan fallacy of relevance, menyerang pendapat atau pemikiran yg tidak relevan dengan argumen asli dari para pengritiknya.
Kritikan terhadap kabinet Gendut Prabowo itu terkait kebijakan keterpaksaan pemerintahnya yg harus melakukan efisiensi anggaran karena keadaan keuangan negara yg mengharuskan itu. Maka perbandingan yg relevan adalah dengan Kabinet Kabinet Pemerintah Indonesia sebelumnya. Misal dibandingkan dengan struktur Kabinetnya Presiden Jokowi, SBY hingga Soeharto atau Sukarno. Bukan malah dibandingkan dengan Uni Eropa yg merupakan kumpulan negara negara maju di Eropa.
Walau luas negara kita memang sebanding dengan Uni Eropa tapi kita itu satu negara, sedang UE terdiri 27 negara, dengan kekuatan ekonomi, sejarah dan kondisi rakyatnya sangat kontras dan tidak bisa dibandingkan dengan Indonesia dan provinsi2nya. Kenapa Kabinet Prabowo tidak dibandingkan dengan Kabinetnya Donald Trump, atau Xi Jinping, atau Narendra Modi? Dibandingkan dengan negara2 besar lain di dunia.
Itulah teknik retorika Strawman Fallacy, sebuah cara argumentasi tanpa kehadiran lawan debat di panggung dengan menciptakan versi lemah yang diindentikkan sebagai argumen lawan yang seolah olah itu argumen atau logika asli dari para pengritiknya.
Apa yang dilakukan Prabowo justru mengalihkan perhatian pada isu perdebatan yang sebenarnya, yaitu keharusan efisiensi. Prabowo justru nampak tidak fair. Tidak adil dan tidak relevan karena memutarbalikkan argumen pengritiknya.
Apa yang dilakukan Prabowo
Justru memperburuk miskomunikasi dan polarisasi dalam diskusi publik di negeri ini. Rakyat makin terbelah dan bisa menciptakan ketidaksukaan dan amarah.
@gojekindonesia abis top up saldo dari bank ke gopay, kenapa belum masuk ke akun gojek saya ya saldo nya? padahal nomor udah bener, tolong dong gojek ini gimana?
nggak. kamu bukan lagi anak kecil yang sok tau politik. kamu HARUS tau politik.
ini bukan tentang siapa, tapi ini tetang kita. negara kita diobrak abrik oleh keserakahan. lets put an end to this madness.
#KawalPutusanMK#TolakPilkadaAkal2an#TolakPolitikDinasti