Klo somehow ada klub Menteng FC yang lebih kaya dari Sassuolo dan Jay Idzes lebih milih main di situ daripada di Serie A, baru sah kita ngamuk-ngamuk.
Klo skrg, ada diaspora yg di Serie A, ada yg di Bundesliga, ada yg di Liga Satu, ya berarti sesuai kemampuan-masing-masing aja.
agree. If we look at Persib's title-winning campaigns, they were never built on absolute domination or overwhelming financial superiority. Every championship came through fierce competition, pressure, setbacks, and genuine title races.
Kalau three in a row adalah lampu kuning, dan (jika dapat meraih) four in a row adalah preseden buruk, lantas apa poin dari berkompetisi, kalau berprestasi dianggap tidak baik? 🙂🙁☹️
STEP 1:
Beli kapal 1,9T.
tapi gk ada duit gimana dong?
investor A,B,C dateng ngasih primary note
"debt-to-asset acquisition"
kapal kebeli, non-cash trx.
kapalnya beli dari siapa?
tentu saja dari investor yg ngasih primary note.
STEP 2:
gk lama kemudian mau right issue.
tentu saja RInya buat bayar kapal tadi.
investor lama gk ikut RInya, dialihin ke investor A,B,C.
loh bukanya dia yg ngasih primary note?
betul
artinya koversinya dilakuin disini,
A,B,C gk perlu keluar duit buat ikut RInya.
bisa dibilang yg akan setor cash "hanya" ritel yg ikut RI.
mas dojjunn, bukanya ini cuma muter2 asset doang?
knp gk right issue aja langsung.
YAA DISITULAH KENAPA INI ADA.
saya yakin sedikit yg paham dan tentu aja gk ada yg peduli soal yg ribet2 beginian.
masih gk paham juga?
forget it, don't buy it.
Berikut catatan kontribusi poin koefisien wakil Indonesia di Kompetisi Asia tiap musimnya (sejak 2017)
** Kompetisi Kasta Kedua
*** Kompetisi Kasta Ketiga
📄 via Footy Rankings
“Trading is gambling” sounds bold, but it’s an oversimplification. Gambling is structurally designed so that players lose in the long run because there’s a built-in house edge. Trading doesn’t operate that way. Prices move based on supply and demand, information, expectations, and participant behavior. Some people speculate blindly, sure—but others use structured strategies, risk management, and probability-based systems.
It’s true that many people treat trading like gambling—overleveraged, emotional, chasing quick wins. But that’s about behavior, not the structure of the activity itself. Saying all trading is gambling is a false equivalence: because many fail, the whole system gets labeled as a casino. The mechanisms are fundamentally different.
CHECK VIDEO TERBARU FERRY IRWANDI, DIA BILANG TRADING ADALAH JUDI, LO GAK AKAN KAYA RAYA DARI TRADING.
FERRY PUNYA GELAR FINANCIAL LULUSAN STAND DAN KERJA DI MENTRI KEUANGAN 10 TAHUN, KALO MASIH NANYA DARIMANA LANDASAN TEORI DIA MENGATAKAN TRADING ITU JUDI, FIX KALIAN TOLOL BIN BEGO MEMBELA TRADING SAMPE TERLIHAT TOLOL!
Evil netizens are a public problem, not automatically the writer’s fault. Blaming a piece of writing for netizens’ threats is a false causality. The cause–effect logic jumps way too far 😬
Dunia digital ini tidak salah, tetapi cara kita menggunakannya sering kali melukai. Media sosial seharusnya menjadi alat, bukan cermin yang memenjarakan kita dalam bayangan. Saat kita melepaskan diri dari kebutuhan untuk dicintai oleh semua orang, mungkin saat itulah kita benar-benar menemukan cinta sejati — bukan dari luar, tetapi dari dalam.
Why Seeking Validation is Slowly Killing You
Mengutip dari kalimat yang diucapkan oleh kaisar Romawi yang dianggap paling bijaksana dan juga seorang Stoik, Marcus Aurelius:
In this world, we recognize that there are things we can control and things we cannot control. Focusing on what we cannot control will lead to sadness and disappointment. Our thoughts and actions are things we can control. Outcomes, other people’s feelings, and so on are things we cannot fully control.
Kutipan tersebut saya rasa masih sangat relevan hingga saat ini. Kita sering merasa ketika terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan bagi kita, lantas kita langsung merasa rendah dan kecewa hingga tak jarang berakhir dengan menyalahkan diri sendiri. Padahal, sebenarnya hal tersebut sudah diingatkan sejak ratusan masehi yang lalu, bahwa tidak segala hal yang terjadi dalam hidup ini bisa kita kendalikan, dan sebagai manusia, baiknya kita dapat memahami hal tersebut.
Apabila kita coba tuliskan hal-hal yang menjadi penyebab kita merasa tidak senang terhadap sesuatu, tentu tidak akan ada habisnya. Ada banyak alasan untuk kita merasa tidak senang terhadap sesuatu. Tapi saya ingin memfokuskan pada hal yang begitu dekat dengan kita dan tanpa sadar bisa menjadi sumber dari perasaan tidak menyenangkan setiap harinya.
ocial Media. Di era yang sudah sangat maju ini, hampir pasti setiap orang menjadikan media sosial sebagai media pelampiasan pergi dari realitas kehidupan. Mudahnya mengakses media sosial menjadi salah satu alasannya. Kita hanya tinggal membuka ponsel, lalu berselancar sampai berjam-jam di depan layar hanya untuk melihat apa yang kita sukai. Perasaan bosan dan jenuh sudah pasti menjadi alasan orang sering mengakses media sosial, bahkan mungkin sudah merasa jadi kewajiban!
Namun, di balik kemudahan dan hiburannya, media sosial membawa efek samping yang sangat besar, salah satunya adalah Cravings for validation. Tanpa kita sadari, banyak dari kita yang mengunggah sesuatu dengan harapan mendapatkan “like,” komentar, atau pengakuan dari orang lain. Hal ini menciptakan lingkaran setan, di mana kita menjadi terlalu bergantung pada apresiasi dari orang lain untuk merasa bahagia atau merasa cukup.
Dampaknya tidak hanya berhenti di situ. Ketika validasi yang diharapkan tidak tercapai, muncul perasaan kecewa, rendah diri, atau bahkan cemas. Kita mulai membandingkan diri dengan orang lain yang terlihat lebih sukses, lebih bahagia, atau lebih menarik di media sosial. Padahal, apa yang kita lihat di media sosial sering kali hanya sebagian kecil dari kenyataan, bahkan mungkin sesuatu yang direkayasa untuk terlihat sempurna.
Cravings for validation ini juga bisa jadi membahayakan. Kita mulai mengukur nilai diri berdasarkan angka-angka kosong. Ketika validasi tidak datang sesuai harapan, rasa kecewa meresap, menyelinap ke dalam kesadaran kita seperti bayangan yang tak bisa diusir. Kita merasa gagal, meski sebenarnya, kita hanya terjebak dalam permainan yang aturan dan tujuannya tidak pernah benar-benar kita pahami.
Namun, yang paling menyedihkan adalah bagaimana media sosial memengaruhi cara kita melihat diri sendiri. Kita tidak lagi menjadi pusat dari narasi hidup kita. Sebaliknya, kita menjadi karakter pendukung dalam cerita yang ditulis oleh orang lain. Kita membandingkan kehidupan nyata kita yang penuh kekurangan dengan potongan-potongan sempurna kehidupan orang lain. Dan dari sana, tumbuhlah rasa iri, cemas, bahkan rasa tidak cukup yang mengakar.
Tapi mari kita berhenti sejenak dan bertanya: apa yang sebenarnya kita cari? Apakah benar kebahagiaan bisa ditemukan dalam bentuk komentar atau pengakuan? Atau mungkin, kebahagiaan itu ada di tempat yang lebih sederhana — di dalam diri kita sendiri, di momen-momen kecil yang tak membutuhkan penonton, di keheningan yang bebas dari penilaian.