Se você é um homem que nunca assobiou, estuprou, tocou e/ou assediou uma mulher, você é um homem normal.
Você não é bom, você não é ótimo, você não é perfeito, você não é um cara legal. Você é normal.
Isso é como pessoas normais se comportam, você não merece um parabéns.
“Rakyat kita bermimpi untuk hidup layak.”
Orang mah mimpi tuh keliling dunia, sekolah tinggi sampai S3 atau jadi profesor, punya penghasilan 3 digit perbulan… untuk hidup layak DOANG kok harus BERMIMPI tuh berarti negaranya gagal wok
Gausa jauh2 bahas soal Habibie yang pinter,
Lha kemarin dapet calon presiden lulusan Ekonomi & Kebijakan Publik, sama lulusan Hukum & Politik, pada gamau 😭
Let alone ada cawapres yang lulusan doktor Hukum Tata Negara, pernah ngerasain semua posisi Trias Politika. Langka banget loh itu.
Belom 2 tahun yang lalu pula loh WKWKWK
kalian tau gak sih?
1. Negara dengan mata uang terendah ke-5 di dunia
2. Bekasi jadi kota paling beracun ke-2 di dunia
3. Rupiah di angka 17.377
4. Total 33.626 pelajar keracunan MBG
and the list still go on.. we're not angry enough
Sebagai alumni LPDP, berikut daftar pelatihan yang kami butuhkan agar gak culture shock:
- Academic writing
- Ikut International Conference & jurnal internasional
- Strategi cari funding buat riset, paper dan conference
- Pelatihan memasak (real wkwk)
- Self management, terutama menghadapi stress kuliah dan tugas yang numpuk
- Persiapan paska kampus, either sebagai dosen, karyawan, pebisnis, atau stafsus wkwk
etc etc
Intinya butuh pelatihan dari orang2 yang pernah menjalani itu semua.
Tiga pertanyaan untuk Mendikti soal LPDP digembleng TNI:
1. Sejak kapan warga sipil yang lolos IELTS, esai, dan wawancara LPDP dianggap kurang disiplin?
Mereka bahkan menghitung sendiri pajaknya tiap tahun di SPT, sesuatu yang (mungkin) prajurit tidak diwajibkan lakukan dengan kerumitan yang sama.
2. Sejak kapan warga yang pajaknya dikorupsi bertahun-tahun tapi tetap bayar PPN setiap belanja dianggap kurang berkebangsaan?
3. Kalau tujuannya supaya awardee balik ke Indonesia, kenapa solusinya pelatihan baris-berbaris dan bukan perbaikan ekosistem riset, gaji dosen, dan kepastian karier akademik di dalam negeri?
Yang bikin doktor enggan pulang itu bukan kurang nasionalisme. Tapi karena kurang lab, kurang dana riset, dan kurang penghargaan.
Kalau pemerintah serius ingin awardee pulang dan berkontribusi, cobah perbaiki ekosistem akademik dalam negeri.
Itu jauh lebih sulit, dan jauh lebih dibutuhkan.
Menurut saya, mengirim calon master dan doktor ke barak untuk diajari “kebangsaan” itu membalik logika.
Yang lazim di banyak negara: kadet militer yang dikirim ke kampus, bukan sebaliknya.
Jangan remehkan warga sipil yang duitnya bocor terus tapi masih setia bayar pajak.
Lagian, tokoh-tokoh kebangsaan terbesar republik ini sebagian besar sipil. Hatta, Sjahrir, Sukarno muda, Kartini, Tan Malaka, Agus Salim.
Tidak satu pun dari mereka yang nasionalismenya dibentuk di barak.
Mereka jadi nasionalis karena membaca, berdebat, hidup di pengasingan, dan berhadapan dengan ketidakadilan kolonial.
Bukan karena baris-berbaris.
😬
@screamerdiva@sampahfhui Klo punya anak cowok enak banget ya bisa ngetik gitu 🤣 penasaran, klo anak perempuannya dilecehin di grup, beliau apa jg dengan lempengnya ngetik "diingatkan/dinasehatkan" ? 🤣🤣🤣 sekelas notaris tapi ngakuin anak salah aja susah bener
Everyone felt sad for the penguin walking alone and the monkey rejected by his mother. But this video is far more heartbreaking, yet it didn’t receive the same attention.
@emeralowyn ada benernya.
dulu gw idealis bgt berpikir “belajar bisa di mana aja, tergantung pribadinya”,
ternyata zonk, lingkungan itu PASTI membentuk, makanya perlu pemerataan.
@ultraenergies@sadbichis@aparatur_spill aku mikir lama bgt kyk knp sekolah2 inter/top, itu mahal ga masuk akal, tapi knp tetep BUANYAK org yg mati2an masukin anaknya ke sekolah top? bahkan sampe ada kuota.
setelah ngobrol banyak, jawabannya ga jauh2 dari alasan koneksi (termasuk exposure), baru kurikulum.
@ultraenergies@sadbichis@aparatur_spill —kalo dari SD-SMA udah sekolah bagus, coba apply2 beasiswa aja sekalian (sampe ke PTN kota besar, ke luar negeri jg gas).
don’t settle for less, kalau sanggup, usahain mati2an, karena tanggungan masa depan itu berat. mending repot di masa muda daripada repot sampe tua.
@sadbichis@aparatur_spill —lingkungan pertemanan, pendidikan, yg sampai nantinya ngelink ke karir, itu ada “tier”nya. harsh truth.
kita2 yg ga masuk dalam tier top2an harus usaha EXTRA krn kita ga punya banyak privilege utama, garis startnya beda. kita harus jadi anomali dan mendobrak “pola umum” tsb.
@sadbichis@aparatur_spill —yang ga hanya membentuk kehidupan kampus, namun jg sampai ke pekerjaan nantinya. semuanya keliatan, dari interaksi2 biasa sehari2 pun keliatan, your personal character is linked to your professional development.
ini bukan maksudnya swasta = jelek.
tapi suka ga suka, setuju/ga—