Temen gw kerja di PLN.
Dia bilang ada satu pertanyaan yang tiap hari bikin dia dimaki, dan dia capek ngejelasinnya.
Pertanyaannya: "kok beli token 100 ribu, dapet listriknya kurang? Sisanya ke mana?"
Dia cerita ke gw sambil geleng-geleng. "Yang motong duit itu bukan PLN. Tapi yang dimaki tetep kita."
Gw ngerutin dahi. Kalo bukan PLN, terus siapa yang ngambil?
Malem itu gw cek struk token gw sendiri. Ada satu baris kecil yang selama ini gak pernah gw baca.
Meluangkan sabtu minggu buat nonton malah terhibur sama permainan haiti walaupun harus kalah dengan gol deflect. Menarik apakah mereka bisa mempertahankan permainan seperti ini dengan lawan yang lebih kuat nantinya, Maroko sama Brazil.
Masalahnya, Pasal 24 UU ASN sudah menyebutkan bahwa ASN harus setia dan taat kepada pemerintahan yang sah, berbarengan dengan Pancasila, UUD 1945, dan NKRI.
Kalau ga patuh? ya kena sanksi disiplin.
Frasa setia dan taat kepada pemerintahan yang sah ini sering diinterpretasikan sebagai kepatuhan mutlak.
Ditambah lagi, budaya birokrasi kita sudah feodalistik sejak zaman Belanda dan militeristik sejak zaman Orba.
Walhasil, ASN ga mampu mengkritik pemerintah terang-terangan. Karena tidak didukung secara legal (dengan ketentuan UU ASN itu) dan tidak pula didukung secara kultural.
Kalau mau itu semua berubah, mulailah dengan:
1. Revisi pasal 24 UU ASN dengan mencopot frasa setia dan taat kepada pemerintahan yang sah
2. Massivkan regenerasi ASN dengan memperbanyak porsi tes CAT dalam CPNS
3. Mulai perbaiki dan awasi seleksi eselon supaya lebih meritokratis sekaligus bersih-bersih budaya toksik dari pimpinan ASN.
4. Tingkatkan kesejahteraan ASN, khususnya di bidang pendidikan, kesehatan dan pengawasan. Supaya yang masuk ke sana bibit-bibit unggul. Ini penting untuk menyehatkan birokrasi.
ASN=Aparatur Sipil NEGARA, mengabdi ke negara, bukan ke pemerintah, apalagi presiden. Stop berpikir negara = pemerintah. Stop feodalisme. Presiden bukan raja, tidak perlu disembah, sangat boleh dikritik, tmsk oleh ASN. Indonesia republik.
Laut Bercerita dibikinin sekuelnya dong, Mbak Leila. Ceritanya, di masa depan, teman-teman Laut sudah pada jadi wakil menteri untuk rezim yang dulu menculik mereka. Kerjanya nggak ada yang becus, tapi somehow masih dianggap progresip.