Liberals: โJoseph Stalin was a brutal dictator.โ
Meanwhile, a 1955 declassified CIA report stated:
โEven in Stalin's time there was collective leadership. The Western idea of a dictator within the Communist setup is exaggerated. Misunderstandings on that subject are caused by a lack of comprehension of the real nature and organization of the Communist's power structure. Stalin, although holding wide powers, was merely captain of a team (...)โ
New review just published online in the Marx and Philosophy Review of Books:
Gijs Brans on Bernardo Paci's A Materialist Conception of Knowledge: The Colonial Roots of Cognitive Capitalism
https://t.co/tLVbt1cy4B
Simplenya, suplai tanah terbatas, klw dimiliki oleh segilintir orang aja artinya segilintir orang ini memonopoli sesuatu yg terbatas. Kyai klw mau punya tanah luas di akhirat aja, jgn di sini, klw di sini jadi kaya lintah.
Bahas kaya begini tuh layered kalau ke leftist. Ngejelasin pake Engels, bisa jadi reduksionis ke private property, tp mesti paham konteksnya & tujuannya Engels & Marx wkt itu, yaitu utk ngejelasin kalau perubahan yang membebaskan manusia dari segala bentuk penindasan itu mungkin.
Kemaren aku ngobrol dikit bareng @dw_indonesia soal Perpres No 111/2025 sebagai bentuk sekuritisasi isu LGBTQ+ yg punya dampak yg nyata: Legitimasi negara atas kekerasan pada komunitas LGBTQ+.
https://t.co/YGRds8N5Rt
Catatan:
Kecuali yang teriak revolusinya masih cuman liat kelas doang, anggep bentuk penindasan lain itu cuman cerminan, gak nyata, pengalihan isu. Kalau begini sih bisa-bisa kesadaran sosial yang dibentuk setelah revolusi juga jadinya patriarkis, rasis, homofobik๐ฅฒ
Nah, dengan realita terkini yang kita miliki, seharusnya memungkinkan kita untuk menciptakan tatanan masyarakat dengan tanpa adanya penindasan di kemudian hari