Sehidup Semati-nya @upirocks adalah film thriller yang intens dengan elemen horor yang tidak kalah horor dibanding film horor, berhasil mencairkan batas2 antara realitas & imajinasi
Mahasiswa yg cuman bikin ajakan demo di medsos, ditangkap, dipukuli & dipenjara berbulan2 sampai kuliahnya berantakan. Sementara yg melakukan percobaan pembunuhan dgn melalukan penyiraman air keras ke wajah Andire, tidak mendapat hukuman yg memadai. Negara ini sdh rusak kawan2.
21 mei adalah tanggal berakhirnya otoritarianisme di negeri ini, dan mulainya reformasi. tapi setelah 28 tahun reformasi, otoritarianisme hidup lagi ditandai terutama oleh kembali menguatnya militerisasi di wilayah sipil, rusaknya demokrasi, munculnya bayang2 krisis ekonomi, dan ancaman ekonomi komando. harus dihentikan setback ini. https://t.co/U1F9dJWU1L
Mengapa filosofi pendidikan “sesuai industri” itu problematis?
Saya agak gelisah baca wacana menutup prodi yang dianggap “tidak relevan dengan industri”, yang disampaikan Sekjen Kemendikti, Prof Bakri Munir Sukoco.
Bukan karena saya anti industri.
Tapi… industri yang mana?
Yang hari ini?
Atau yang bahkan belum ada 10 tahun lagi?
Masalahnya sederhana: industri sendiri sering belum tahu arah masa depannya.
Laporan World Economic Forum dan McKinsey & Company berulang kali bilang hal yang sama: banyak pekerjaan masa depan belum eksis hari ini.
Jadi kalau kampus sibuk “menyesuaikan diri” dengan kebutuhan sekarang, kita mungkin sedang menyiapkan lulusan… untuk dunia yang sudah lewat.
Dan biasanya, yang pertama dikorbankan itu selalu sama:
Filsafat.
Sejarah.
Sastra.
Yang dianggap tidak praktis.
Padahal banyak pemimpin, pembuat kebijakan, bahkan inovator yang lahir dari sana.
Sekarang bahkan keguruan dan kedokteran ikut disorot oleh Sekjen Kemendikti. Keduanya dibutuhkan masyarakat tapi katanya terlalu “market-driven”, harus jadi “market-driving”.
Tapi jujur saja kedua istilah ini masih dalam logika yang sama: pasar sebagai penentu. Bedanya hanya soal siapa yang lebih pandai meramal pasar.
Padahal masalah utamanya bukan di situ.
Masalah pendidikan di Indonesia itu ada di tata kelola.
Prodi dibuka karena tren. Karena peminat. Karena pemasukan. Bukan karena visi pendidikan.
Kalau akarnya di situ, menutup prodi dari atas itu cuma seperti memotong daun, tanpa menyentuh akar.
Yang kita butuhkan bukan sekadar menutup prodi, tapi membenahi cara kita menilai dan membiayai pendidikan. Quality control dan akreditasi tetap penting, tapi ukurannya harus nyata: kualitas belajar, daya pikir lulusan, dan dampaknya bagi masyarakat, bukan sekadar dokumentasi.
Yang dibutuhkan adalah pendanaan berbasis kualitas, kurikulum yang lentur, dan keberanian menjaga ilmu yang tidak selalu “laku”.
Karena saat industri jadi satu-satunya ukuran, dunia kampus menjelma hanya melatih tenaga kerja bukan melahirkan manusia yang mampu berpikir, menilai, dan membentuk zamannya sendiri.
Tabik,
Nadirsyah Hosen
@Deeptrench88 @keboyoranbaru Ngelantur tu beruntung karena sebagian netizen punya asumsi kalau review film yg jujur harus disampaikan secara kasar/vulgar. Cinecrib pas masih ada razak juga kan kurang lebih begitu
Nonton La La Land untuk yg kedua kali. Film ini sebenarnya ga sehoror yg dibilang orang. Biarpun Mia & Seb gagal dalam cinta mereka, tapi mereka berhasil meraih impian masingmasing. And that's life!
Sehidup Semati-nya @upirocks adalah film thriller yang intens dengan elemen horor yang tidak kalah horor dibanding film horor, berhasil mencairkan batas2 antara realitas & imajinasi
Ghost in the Cell adalah salah satu film Joko Anwar yg paling aksesibel buat penonton kebanyakan karena ceritanya tdk terlalu rumit dan punya bnyk momen komedi biarpun tetap berdarahdarah, absurd dan berlumuran kritik sosial!