Gak sengaja liat video Helmy Yahya ttg penyesalannya yg blm sempet ngebahagiain orang tuanya.
Langsung ngebayangin kalo orang tua udah meninggal.
Ada 10 pembelajaran yg ia bagikan;
1. Rekam suara mereka sebagai kenangan di masa depan kalau rindu
2. Foto tangan mereka, untuk mengapresiasi kerja keras yg dilakukan
3. Simpan tulisan tangan mereka sebagai benda berharga
4. Rekam suara tawa mereka, untuk menjaga semangat dan kebahagiaan mereka
5. Ajak mereka bercerita tentang perjuangan hidup dan masa lalu mereka
6. Tanyakan mimpi mereka yg belum tercapai dan cobalah untuk melanjutkannya
7. Tanyakan penyesalan terbesar mereka sebagai pelajaran hidup bagi kita
8. Ajak jalan-jalan secara periodik tanpa gangguan handphone untuk membangun kedekatan
9. Masak bersama sebagai momen yang hangat dan romantis
10. Nonton film bersama untuk menikmati waktu berkualitas bersama.
Ia menekankan bahwa pada akhirnya, bukan seberapa banyak harta yg kita miliki, melainkan waktu dan kasih sayang yg kita berikan kepada orang tua itu yg paling berarti.
Jangan sampai penyesalan datang saat kesempatan itu sudah tidak ada lagi.
Banyak banget, dan justru yang sering kelupaan malah topik yang paling penting 😭. Sebelum menikah, menurutku minimal ngobrolin:
Keuangan: penghasilan, utang/cicilan, tabungan, gaya hidup, rekening bersama, dan siapa yang menanggung apa.
Anak: mau punya anak atau tidak, jumlah, pola asuh, pendidikan, sampai pembagian tanggung jawab.
Tempat tinggal: tinggal sendiri, dekat orang tua, atau kemungkinan pindah kota/negara.
Karier: apakah dua-duanya tetap bekerja, bagaimana kalau salah satu harus pindah kerja, dan bagaimana mendukung karier pasangan.
Keluarga besar: batasan dengan mertua, seberapa sering berkunjung, bantuan finansial untuk keluarga, dan privasi rumah tangga.
Pembagian pekerjaan rumah: jangan cuma “nanti dibicarakan” bahas konkret siapa melakukan apa.
Konflik: kalau marah biasanya seperti apa, apa yang dianggap tidak bisa ditoleransi, dan bagaimana cara menyelesaikan masalah tanpa saling mengancam pisah.
Nilai dan prinsip hidup: agama, pendidikan, cara memandang kesetiaan, pergaulan, dan keputusan besar.
Komunikasi & kebutuhan emosional: butuh ruang seperti apa, cara menunjukkan kasih sayang, dan apa yang membuat masing-masing merasa aman.
Batasan dalam hubungan: teman lawan jenis, media sosial, privasi HP, flirting, dan hal-hal yang dianggap sebagai perselingkuhan.
Kesehatan dan kehidupan seksual: ekspektasi, batasan, kenyamanan, dan hal-hal yang perlu diketahui pasangan.
Rencana masa depan: target 5–10 tahun, gaya hidup yang diinginkan, rumah, perjalanan, karier, dan prioritas hidup.
Dan satu hal penting: jangan cuma bahas “kita mau punya kehidupan seperti apa”, tapi juga “kalau hidup kita gak berjalan sesuai rencana, kita akan menghadapi itu seperti apa?”
Karena menikah bukan cuma soal cocok saat semuanya baik-baik aja. Justru cara kalian menghadapi uang, konflik, keluarga, kegagalan, dan perubahan bakal jauh lebih menentukan.
cakep ih kalimatnya:
“ngga semua konflik itu masalahnya di komunikasi. Kadang masalahnya di kapasitas intelektual dan emosional, mau sebanyak dan sejelas apa kita menjelaskan, kalo kemampuan berpikir dan kematangan emosionalnya ga setara, dia tidak akan mengerti dan memahami substansi masalahnya apa”
bener juga sii.., ngejelasin hal kompleks ke orang yg belum mature emosinya cuma menguras energi. Protect your sanity, pahami boundaries dan mending save ur time buat hal yg worth it yah! 🤍🫶🏻
gue baru 30 hari nikah, tapi rasanya pengen balik ke kosan lama dan pura-pura nggak pernah kenal dia 😭 ternyata musuh terbesar dalam pernikahan itu bukan mertua atau cicilan, tapi suami yang kalau disuruh nyuci piring aja pura-pura bego biar gue yang beresin.
semalem puncaknya waktu gue lembur ngejar deadline kantor, dia malah minta dibikinin kopi sambil rebahan main ps. pas gue bilang, “ambil sendiri ya, mas, tangan gue lagi ngetik,” dia cuma hela napas panjang seolah-olah gue istri paling tega sedunia 😭
padahal seharian gue juga kerja di scbd, ikut meeting sampai kepala pusing, ngejar target. tapi pas sampai rumah status gue otomatis berubah jadi asisten rumah tangga tak bergaji. giliran piring kotor dibiarin numpuk sampai besok dengan dalih “nanti juga dicuci.”
pas piring itu akhirnya gue diemin sehari penuh karena gue capek banget, dia malah ngomel-ngomel bilang rumah kita udah kayak kapal pecah. dia lupa atau pura-pura amnesia kalau yang numpukin piring dari kemarin malam ya dia sendiri 😭
gue natap dia lama banget semalem, ngerasa asing sama cowok yang dulu pas pacaran kelihatan mandiri dan bisa diandelin. ternyata itu semua cuma topeng, karena begitu sah, dia pengen punya “ibu” baru yang bisa ngurusin baju, makan, sampai beresin kotorannya.
pernikahan ini baru sebulan, tapi pundak gue udah remuk rasanya. bukan karena kurang cinta, tapi karena sadar kalau gue lagi merelakan kewarasan demi maklumin ketidakdewasaan orang lain.
ada perempuan yang memang bukan tipe yang mudah welcome ke semua laki-laki. bahkan, banyak yang menganggap dia cuek. jadi, kalau kamu merasa dia “gampang” didekati, bisa jadi sebenarnya dia sedang memberikan kamu kesempatan, bukan berarti dia “gampangan”.
jadi, tolong jangan seenaknya ketika sudah diberi akses untuk masuk ke dalam kehidupannya.
cewek2 cobain deh pacaran sama cowok yang klo berantem ga ada niatan untuk nyelesain masalah atau minta maaf, tapi dia malah ngediemin dan besoknya menyapa seperti tidak terjadi apa-apa.