ini salah satu statement dari bang Raditya Dika yang menurutku kena banget
“aku tidak mau berhubungan lagi dengan orang itu selama lamanya, dengan cara aku menganggap dia tidak ada. jadi yang lebih parah dari membenci orang adalah dengan menganggap dia tidak pernah ada wujudnya. ini lebih menyakitkan daripada dibenci, untuk dianggap tidak ada”
Semoga yang baca ini, diberi jalan keluar, untuk masalah kecil maupun besar ruwet sulit. Yang sepertinya sudah mentok. Diberi secercah cahaya. Untuk bisa diselesaikan. Amin.
Bapakku cuma pedagang alat pancing di pasar. Tangannya kasar karena tiap hari gulung senar pancing, bajunya sampe tipis karena sering keringatan di pasar. Tapi dari tangan itulah, kami tiga saudara tumbuh.
Tiga anak dari pedagang pasar bisa sampai kuliah tinggi S1, bahkan S2 di kampus PTN yang bagus. Kami dapat beasiswa prestasi. Kata bapak pantang dapat beasiswa kurang mampu, karena bapak masih sanggup pun kuliahin S1 kalau ga dapat beasiswa.
Banyak orang bilang, “Wah enak ya bapakmu, ga perlu keluar biaya buat kuliah anak-anaknya.”
Setiap dengar itu, aku cuma senyum aja hihi. Seneng dikid.
Karena menurutku, bukan bapakku yang beruntung punya anak yang kuliah dengan beasiswa.
Justru kami yang beruntung.
Kami yang dapat privilege paling besar krn dari kecil ngelihat langsung gmn bapak kerja keras. Rezeki dan ilmu itu dijemput bukan ditunggu, berusaha sejak pagi buta saat orang lain masih tertidur.
Bahwa lelah itu biasa.
Bahwa pendidikan adalah satu-satunya jalan untuk mengubah nasib.
Sesulit apa pun keadaan keluarga kami, orang tua kami ga pernah menawar pendidikan. Dan pendidikanlah yang jadi titik balik keluarga kami.
Menurutku bukan karena kami lebih pintar dari orang lain, tapi karena kami tumbuh dengan kerja keras, ketekunan, dan KEYAKINAN bahwa mimpi itu layak dan HARUS diperjuangkan.
Bahwa GADA sesuatu yang ga mungkin, dan GADA kesuksesan yang MUDAH.
Hari ini, kalau ada yang bertanya siapa yang paling berjasa, jawabanku tetap sama:
Bukan kami yang hebat karena berhasil sekolah tinggi.
Tapi bapaklah yang hebat.
Mampirlah yang di Bekasi ke toko bapakku biar rame dia seneng😍😋
Tapi adikku belum lulus kuliah, masih semester 8 di unchdeeep. Doain semoga lancar yah🤍
Pedagang mobil bekas itu punya insting.
Mereka bisa bedain mana pembeli yang polos, mana yang ngerti barang. Dalam 30 detik pertama.
Lo dateng, elus-elus bodi, duduk di jok, terus nanya "AC-nya dingin gak mas?"
Dalem hati mereka udah senyum. Mangsa empuk. Mark up Rp 15 juta.
Tapi coba lo dateng langsung jongkok di depan mobil, raba celah antar panel, buka kap mesin, cabut dipstick, senter kolong.
Pedagangnya langsung keringat dingin.
Soal copyright:
Di dunia akademis, ada perusahaan mafia raksasa bernama Elsevier.
Grup pemilik Elsevier merampok £3.3 miliar per tahun.
Mafia Jurnal Elsevier menguasai distribusi jurnal akademis di planet.
Padahal, mereka tidak berkontribusi terhadap pengecekan kualitas jurnal.
Dosen dan peneliti yang mengecek keabsahan jurnal yang dipublikasi tidak menerima royalti apapun dari Elsevier.
Untuk mempublikasikan paper ke jurnal milik Elsevier, harus bayar.
Untuk mendownload paper dari jurnal milik Elsevier, juga harus bayar.
Elsevier sendiri hanya gabut saja. Mereka tidak melakukan apapun kecuali merampok dan memalak.
Akibat biaya random dan mencekik yang dipalak oleh Elsevier, hingga ratusan dollar per access paper, universitas-universitas di negara miskin menjerit.
Perkembangan riset di negara-negara miskin itu pun terhambat bahkan mati.
Bukan hanya negara-negara miskin, universitas di negara-negara kaya juga menjerit dan sempat mengadakan boikot.
Budaya publikasi preprint ke Arxiv salah satunya berasal dari sini. Jika paper dipublikasi gratis sebelum dipublish, kita tinggal download preprintnya saja.
Sekelompok peneliti di Kazakhstan pun membuat alternatif bernama Sci-Hub yang dengan berani membajak sebanyak-banyaknya paper dari Elsevier dan menguploadnya secara gratis