Reminder jika kalian lupa kalau di tahun 2020 ada seorang youtuber bernama Ferdian Paleka, bikin konten prank sembako isi sampah ke transgender/boti/waria, u name it.
Dia jadi bahan hujatan netizen, jadi buron polisi, ditangkap, dibully, diplonco saat di dalam sel penjara.
Tapi coba lihat sekarang, seolah membenarkan diskriminasi terhadap minoritas. Kemana perginya akal sehat kalian 6 tahun lalu?
Benar untuk menerima perbedaan dan bukan penyimpangan, tapi apa yang membenarkan tindakan kekerasan yang kalian para "boti hunter" lakukan?
Gua yakin kalau Ferdian melakukan prank sampah hari ini, tidak ada dari kalian yang akan menyalahkannya, mungkin justru akan didukung.
Padahal ada isu yang lebih besar sedang terjadi dan butuh perhatian.
Kolonialisme Belanda di Jawa meninggalkan banyak luka. Tapi ada satu yang jarang dibicarakan — dan Nicholas Kuipers @KuipersNicholas (2022, World Politics) berhasil mengukurnya secara empiris.
Sistem konsesi opium abad ke-19 membagi masyarakat Jawa secara struktural. Belanda melelang hak monopoli penjualan opium per lokasi.
Hasilnya menciptakan ketimpangan yang tajam. Satu kelompok menjadi kaya dari perdagangan candu, sementara mayoritas pribumi yang miskin dan rentan justru menjadi konsumennya. Mereka terjebak dalam adiksi yang perlahan menghancurkan kapasitas ekonomi dan sosial mereka.
Kemiskinan dan sifat adiktif opium bekerja bersama-sama menciptakan perangkap yang hampir mustahil untuk keluar sendirian.
Yang membuat studi @KuipersNicholas begitu kuat, ia tidak berhenti di dampak ekonomi. Ia membuktikan bahwa desa-desa di Jawa yang dulu terekspos sistem konsesi opium, hingga hari ini, melaporkan tingkat intoleransi terhadap kelompok luar yang lebih tinggi secara statistik dibanding desa tetangganya yang tidak terekspos.
Animositas antar etnis yang kita lihat kadang bukan lahir dari budaya atau agama. Ia bisa lahir dari struktur ekonomi yang sengaja diciptakan untuk memecah belah. Celakanya, efek ini bertahan jauh melampaui masa kolonial itu sendiri.
Kami dulu pernah disebut orang gila krn menanami lahan pasir tailing timah di belitung timur.
Lahan yg dihadapi sungguh ekstrim. Menurut ahli tanah, mungkin 20 tahunan rumput baru mau tumbuh lahan itu. Tapi gapapa. "orang gila" kan bebas. Tanam aja lah.
Tp sebenarnya, apakah kami yg berjasa?
Bukan. Nek Inah ini salah satunya yang berjasa.
Nenek berusia sekitar 74 tahun bersepeda menempuh jarak 10 km (pulang-pergi) dari rumahnya ke lahan bekas tambang untuk membantu menanam.
Orang Indo kalau kehilangan motor itu akan langsung sedih dan terpukul, karena kita tau kalau lapor polisi pun percuma. Motornya ga bakal dicariin
Di sini semua serba sendiri. Cr uang sendiri dan cr maling sendiri. Negara tinggal nagih pajak, itupun kita jg yg hrs laporan.
Gambar 1. Teror Kepala Anjing di Rumah Orang Tua Saya pagi ini.
Gambar 2 dan 3. Teror Kepala Babi dan Tikus Kepala Dipenggal Untuk Bocor Alus Tempo.
Gambar 4. Ayam dipotong Kepala di rumah DJ Donny.
Kenapa kritik selalu direspon dengan teror?!
Bahkan ga ada catatan sejarah tokoh perjuangan kemerdekaan yang disiram air keras, dibuat cacat permanen oleh kolonial. Tindakan paling jauh ya diasingkan. Lah ini dibuat cacat. Dan bentar lagi bakal ada mobilisasi buzzer yang ngebunuh karakter korban. Literally iblis!
"Pak, ampun Pak, ampun Pak, ampun Pak, jangan Pak, jangan..."
Kejadian sekian detik ini juga sempat terekam kamera BBC. Dan walaupun laman resmi Stanmeyer menulis tanggalnya 1 Mei 1998, ada kemungkinan ini malah terjadi mendekati pertengahan bulan.
This child is most likely having sleep terrors.
Understanding Sleep Terrors in Children
1. The Midnight Scream
It is 11 PM. Your child suddenly sits up, screams at the top of their lungs, and looks terrified. They are not responding to you, and they seem to be looking right through you. This is likely a Sleep Terror (Night Terror), a common NREM sleep parasomnia in children aged 3–12.
2: How to Spot a Sleep Terror
Unlike a bad dream, a sleep terror happens in deep sleep (Stage N3).
🔸Sudden Arousal: Abrupt sitting up/screaming.
🔸Physical Signs: Fast heart rate, sweating, and dilated pupils.
🔸Unresponsiveness: They won't recognize you or be "consoled."
🔸Amnesia: In the morning, they won't remember a thing!
3. What should parents do?
The most important rule: Don't try to wake them. It can make the child more agitated and prolong the episode.
🔸Stay Calm: They are not in pain; it just looks that way.
🔸Safety First: Gently guide them back to bed if they wander. Clear the floor of toys or sharp edges.
🔸Prioritize Sleep: Overtiredness is the #1 trigger. Stick to a firm bedtime.
4. The "Scheduled Awakening" Trick
If your child has terrors at the same time every night, try waking them 15–30 minutes BEFORE the usual episode for a few nights. This resets the sleep cycle and often stops the terrors entirely. Most kids outgrow this naturally. If episodes are violent or very frequent, consult a specialist.
Dr Sudhir Kumar
@hyderabaddoctor