Sejak belajar crochet & knit di usia 20 akhir dan 30 awal, aku berani bilang bahwa semua hobi bisa dipelajari asal kita menerima bahwa di awal-awal akan sulit dan banyak gagalnya.
Pelajaran hidup yang sering diajarkan di Chinese family:
- Kalau punya banyak mau, harus punya banyak bisa.
- Kalau nggak mau belajar, jangan banyak mau.
- Jangan cuma ingin dihargai, jadilah orang yang pantas dihargai.
- Uang bisa habis, tapi kemampuan bisa menghasilkan uang lagi.
- Sekolah bukan cuma buat dapat nilai, tapi buat melatih cara berpikir.
- Jangan takut mulai dari bawah, yang penting tahu cara naik.
- Kalau bisa dikerjakan sendiri, jangan selalu bergantung pada orang lain.
- Jangan gengsi hidup sederhana, gengsilah kalau nggak punya kemampuan.
- Nabung dulu, beli nanti. Keinginan nggak harus langsung dituruti.
- Jangan mengejar kelihatan kaya, kejar kemampuan supaya benar-benar berkecukupan.
- Kerja keras penting, tapi kerja pintar lebih penting.
- Punya banyak pilihan hidup berarti harus punya banyak kemampuan.
- Jangan sibuk membuktikan diri kepada orang lain, buktikan kepada diri sendiri.
- Orang mungkin lupa apa yang kamu punya, tapi mereka akan ingat apa yang bisa kamu lakukan.
- Warisan terbaik orang tua bukan cuma harta, tapi kemampuan untuk berdiri dengan kaki sendiri.
Sering gak sih ngerasa udah produktif cuma dari baca buku atau nonton video pengembangan diri?
Nah fenomena itu bisa terjadi karena dopamin di sel saraf kita bisa merespon penambahan informasi dari baca buku dan nonton video itu sebagai hadiah, sehingga kita merasa senang dan puas. Otak kita memperlakukan "lebih tahu" atau "lebih banyak informasi" itu sebagai hadiah.
Sayangnya, dunia tidak dijalankan oleh orang yang paling lengkap informasinya. Dunia dijalankan oleh orang-orang yang mau bertindak.
Seringkali kita terperangkap di lingkaran setan dimana setiap informasi baru memunculkan pertanyaan dan keraguan baru yang berujung pada kita terus menerus mencari informasi baru. Hingga lupa untuk melakukan tindakan nyata.
Semoga bermanfaat!
Sumber Ilmiah:
Midbrain dopamine neurons signal preference for advance information about upcoming rewards
Gue Penasaran Mau Detoks Media Sosial Setelah Baca Jurnal Ini
Ternyata membatasi penggunaan media sosial selama maksimal 30 menit per hari selama 2 minggu, bisa menurunkan tingkat stress sekaligus menurunkan adiksi terhadap smartphone.
Selain itu penelitian ini juga menunjukkan detoks media sosial bisa meningkatkan kualitas tidur dan kepuasan terhadap hidup.
Jadi berani coba detoks media sosial gak?
Gua Jadi Termotivasi Belajar Banyak Bahasa Asing Setelah Baca Jurnal Ini
Di studi raksasa yang gue bahas di slide, lebih dari 86.000 orang dari 27 negara Eropa dilihat kebiasaannya dalam berbahasa.
Hasilnya adalah orang yang pakai lebih dari 1 bahasa dalam keseharian (multilingual) punya risiko percepatan penuaan yang 30% LEBIH RENDAH.
Semakin banyak bahasa yang dipakai, grafik risikonya makin turun.
Sebaliknya, mereka yang hanya pakai 1 bahasa justru keliatan punya risiko percepatan penuaan lebih tinggi di data cross-sectional dan longitudinal.
Penuaan yang dimaksud di sini meliputi kemampuan kognitif, kemampuan fisik, dan kondisi lain yang terkait usia.
Kenapa bisa gitu?
Hipotesisnya adalah karena tiap kali kita ganti bahasa, otak dipaksa untuk milih kosakata, switch aturan tata bahasa, dan adaptasi konteks sosial.
Itu semua ibarat “gym” buat memori kerja, dan fungsi eksekutif yaitu area yang paling rentan menurun saat menua.
Jadi apakah kalian tertarik untuk menguasai banyak bahasa?
Saudara kandung gw seorang psikolog yg sehari-hari kerjaannya dengerin dan beresin isi kepala orang lain yg berantakan. Pas kita lg kumpul kemarin, dia buka obrolan.
Dia bilang, "lo tau nggak paradoks paling lucu dari profesi gw?"
Dia cerita, pernah nanganin pasien yg semuanya punya pola masalah yang sama. Mereka gak ada yang bener2 sakit secara fisik, tapi badannya rontok karena pikirannya selalu merantau ke masa lalu atau masa depan.
Siksaan batin yg dijelasin saudara gw ini namanya Mental Time Travel.
Kondisi dimana otak kita terlalu canggih sampe bisa loncat ke masa lalu buat nyeselin hal yg udah lewat, atau loncat ke masa depan buat nyemasin hal yg belum tentu terjadi.
Efeknya? Lo kehilangan masa kini. Lo lagi makan makanan enak tapi nggak ngerasain rasanya, lo lagi jalan sama anak-istri tapi pikiran lo lagi sibuk mikirin cicilan 5 taun ke depan, atau sibuk nyeselin blunder kerjaan minggu lalu.
Dia cerita, banyak pasiennya yg kalau malem sebelum tidur, otaknya kayak muter kaset rusak. Mereka selalu terjebak di zona "Regret & What if"
"Kenapa ya dulu gw gak ambil kesempatan itu?"
"Gimana kalau nanti umur 40 gw mendadak di PHK dan gak punya tabungan?"
Siksaan batinnya adalah masa lalu udah jadi abu, masa depan masih jadi kabut, tapi lo ngorbanin satu2nya hal nyata yg lo punya sekarang, yaitu detik ini. Lo dapet capeknya, tapi gk dapet solusinya.
Gw tanya ke dia, "Kenapa otak kita secara psikologis bisa se terjebak itu?"
Dia jelasin kalau secara evolusi, otak manusia itu emg didesain buat bertahan hidup dg cara mengantisipasi bahaya (masa depan) dan belajar dari kesalahan (masa lalu).
Tapi di jaman sekarang, insting itu malah jadi bumerang. Tiap hari kita liat pencapaian orang lain di medsos yg bikin kita cemas ama masa depan kita sendiri.
Kita dipaksa buat selalu berlari ngejar target, sampe lupa caranya berhenti sebentar buat napas.
Ada satu istilah psikologi yg ngena banget buat kondisi ini:
"The Illusion of Control"
Kita mikir dg merenungkan masa lalu berulang kali, kita bisa mengubah rasa bersalah kita. Atau dengan mencemaskan masa depan, kita bisa mengendalikan hasil akhirnya.
Padahal itu semua cuma ilusi. Satu2nya momen dimana lo punya kekuatan penuh buat bertindak dan mengubah sesuatu itu cuma ada di masa kini.
Gimana cara kita buat lepas dari penjara waktu ini?
Saudara gw kasih terapi simpel yg biasa dia kasih ke pasiennya:
Grounding Technique (5-4-3-2-1)
Pas pikiran lo mulai melayang entah ke taun berapa, paksa mata dan tubuh lo buat fokus ama sekitar.
Sebutin 5 benda yg lo liat sekarang, 4 hal yg bisa lo sentuh, 3 suara yg lo denger, 2 bau yang lo cium, dan 1 rasa di lidah lo.
Cara ini bakal menyeret paksa kesadaran emosional lo kembali ke realita tempat lo berdiri.
Langkah kedua adalah bergaul sama kenyataan, bukan asumsi.
Kurangi bikin skenario terburuk didalam kepala. Kalau emg ada hal yg perlu disiapin buat masa depan, tulis di kertas jadi action plan yg nyata, after itu tutup bukunya.
Belajarlah buat menikmati hal-hal kecil yang gratis.
Dinginnya air pas lo wudhu atau cuci muka, angetnya obrolan ama pasangan sebelum tidur, atau rasa pahit manisnya kopi yg lagi lo seruput.
Pesan dari saudara gw ini:
Masa lalu itu udh selesai tugasnya, dan masa depan itu bukan urusan lo sekarang.
Satu2nya tanggung jawab lo adalah menjalani hari ini dengan sebaik-baiknya.
Jgn biarin hidup lo lewat begitu aja cuma karena lo terlalu sibuk jadi penjelajah waktu di dalam kepala lo sendiri. Rebut kembali kendali pikiran lo mulai hari ini.
tulisan by ryn pedia
cc: istory selebriti (facebook)
Robert Sapolsky, neurosaintis Stanford, ngebuktiin satu hal yang dokter lo ga pernah bilang: stress kronis itu silent killer.
Dia kasih bocoran 10 kebiasaan harian yang diem-diem motong umur lo.
1) Muter ulang percakapan di kepala
After getting married, there will always be someone prettier than your wife, someone richer than your husband, that's why you better marry your spouse for their soul. So you'll realize that no one on earth could ever be them. So you'll stop searching and stay beside them.
Anak saya suka sekali main lego dan belakangan suka nonton content creator lego. One day dia bilang kalau besar mau jd content creator lego.
Lalu saya coba lihatkan video dan foto bangunan arsitek dan mesin2 aeorspace, saya bilang ini the real life lego.
Sejak itu tiap anak saya lihat bangunan yg estetik atau mesin besar dia suka bertanya itu bikinnya gimana, bahannya dari apa aja, gambar awalnya gimana ya.
Memang bener sih, dulu kita sering ditanya kalau gede cita2nya mau jadi apa. Saya baru mulai biasakan ke anak saya, suka dan maunya bikin apa. Bikin nggak sekedar bikin tapi apa yg kelak bisa bermanfaat buat banyak orang.
Rajin baca buku juga berasosiasi dengan penurunan risiko kematian
Iya bener, risiko kematian
Cukup 30 menit per hari aja
Penelitian di jurnal Social Science & Medicine melibatkan 3.635 orang dewasa, menemukan bahwa mereka yang rutin membaca buku minimal 30 menit per hari punya risiko kematian 20% lebih rendah dibanding yang tidak membaca buku.
🚨Kabar baik buat kamu yang mageran!
Cukup 4 menit "ngos-ngosan" bisa menurunkan risiko cancer sampai 32!
Studi ini melibatkan 22.398 orang yang MENGAKU TIDAK PERNAH OLAHRAGA di waktu senggang mereka. Peneliti memantau mereka menggunakan wearable device selama 7 tahun untuk melakukan VILPA.
VILPA (Vigorous Intermittent Lifestyle Physical Activity) ini bukan lari di treadmill atau angkat beban di gym. VILPA adalah lonjakan aktivitas intens selama 1-2 menit saat kita menjalani aktivitas harian.
Contoh VILPA dalam kehidupan nyata:
- Jalan cepat/setengah lari mengejar bus/kereta.
- Naik tangga dengan langkah cepat daripada pakai lift.
- Membawa belanjaan berat sambil berjalan cepat.
- Main kejar-kejaran sama anak dengan intens.
Apa temuan utamanya?
📊 Hanya dengan total 4,5 menit VILPA sehari (yang dibagi-bagi dalam durasi 1 menit per sesi), risiko kanker secara keseluruhan turun sebesar 18%.
Lebih dahsyat lagi untuk kanker yang berkaitan langsung dengan aktivitas fisik (seperti kanker payudara, usus besar, dan paru-paru), risikonya turun drastis hingga 32%!
Kok bisa?
Jadi, lonjakan intensitas fisik yang singkat namun kuat dapat meningkatkan kebugaran kardiorespirasi dengan cepat dan menurunkan peradangan kronis serta resistensi insulin dan faktor-faktor yang selama ini jadi "makanan" bagi sel kanker.
Menariknya, mayoritas peserta (92%) melakukan VILPA ini hanya dalam durasi singkat, maksimal 1 menit per sesi. Jadi, manteman gak butuh sesi 1 jam di gym untuk mulai melindungi tubuh teman teman.
Strategi ini cocok banget buat manteman mahasiswa atau yang kerja kantoran atau merasa gak punya motivasi olahraga rutin.
Make your daily chores intense! 💪🔥
Gua Jadi Berusaha Selalu Olahraga 10-20 Menit Setiap Hari di Bulan Ramadhan Setelah Baca Jurnal Ini
Pernah kepikiran kalau olahraga sebentar tiap hari bisa bikin hidup lebih panjang?
Sebuah penelitian cohort skala besar melibatkan 416.175 orang dewasa menunjukkan bahwa bahkan olahraga ringan selama 10–20 menit sehari saja sudah mampu menurunkan risiko kematian sebesar 14%.
Kalau bisa lebih lama, misalnya 30–40 menit sehari, penurunan risiko bisa mencapai 20%.
Artinya, kita nggak perlu nunggu punya waktu 1–2 jam buat olahraga.
Konsistensi jauh lebih penting daripada durasi panjang sekali-sekali. Jalan cepat, stretching, skipping, atau workout singkat di rumah tetap punya dampak luar biasa buat kesehatan.
Jadi, daripada selama puasa dan bulan Ramadhan lebih banyak rebahan, yuk luangkan waktu sebentar setiap hari untuk gerakin badan, 10-20 menit setiap hari aja udah cukup kok