Di bandingin si sherly tjoanda, bupati Siak ini lebih berbobot dan berisi tapi sayangnya tidak hobi ngonten saja. Beliau lebih memilih focus bekerja.
Berikut profilnya
Nama: Afni Zulkifli
Pendidikan Akademik: Meraih gelar doktor di bidang ilmu administrasi publik, serta aktif mengajar sebagai dosen dan akademisi sebelum menjabat
Karier Jurnalis: Memulai karier profesionalnya sebagai wartawan (jurnalis) dan memiliki rekam jejak panjang di industri media.
Birokrasi & Pemerintah: Berpengalaman sebagai birokrat yang menduduki posisi tenaga ahli, serta sangat vokal menyuarakan isu-isu lingkungan hidup
Niatnya biar awet, eh rasanya malah berubah dan teksturnya rusak.
Faktanya, nggak semua bahan makanan cocok disimpan di suhu dingin. Ada yang justru lebih “bahagia” di suhu ruang. Ini yang sering salah tempat 👇 Tomat Suhu dingin merusak struktur selnya. Rasanya jadi hambar, teksturnya benyek. Madu – Di kulkas bisa mengkristal dan mengeras.
Bukan rusak, tapi jadi nggak nyaman dipakai. Kentang, Dingin mengubah pati jadi gula. Selain rasa berubah, kalau digoreng bisa memicu senyawa berbahaya. Bawang & jahe, Lingkungan kulkas yang lembap bikin cepat lembek, busuk, dan jamuran. Roti – Kulkas justru bikin roti lebih cepat kering dan keras.
⚠️ Catatan penting: Berbeda dengan bahan di atas, nasi matang justru harus masuk kulkas kalau tidak langsung habis. Di suhu ruang, bakteri bisa berkembang cepat dan bikin keracunan makanan. Simpan di wadah tertutup dan segera habiskan.
👉 Intinya: Salah simpan bukan cuma buang rasa, tapi juga buang nutrisi dan bisa berdampak ke kesehatan.
Save postingan ini & share ke yang masih suka asal masukin semua ke kulkas
𝗥𝗮𝗸𝘆𝗮𝘁 𝗗𝗶𝗽𝗮𝗸𝘀𝗮 𝗧𝗲𝗹𝗮𝗻 𝗥𝘂𝗺𝘂𝘀 𝗞𝗲𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸𝘄𝗮𝗿𝗮𝘀𝗮𝗻, 𝗟𝗶𝗺𝗮 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝗩𝗲𝗿𝘀𝘂𝘀 𝗦𝗲𝘂𝗺𝘂𝗿 𝗛𝗶𝗱𝘂𝗽.
Ada sebuah keajaiban hitung-hitungan di negeri ini yg tidak akan pernah bisa dijawab oleh guru matematika mana pun, bahkan oleh mereka yg telah mengabdi puluhan tahun hingga rambutnya memutih dimakan kapur tulis.
Rumusnya sederhana namun menyayat hati, “Lima tahun duduk equivalent seumur hidup kenyang.”
Teori formulasi yg ditemukan oleh sekumpulan manusia terpilih yg menyebut diri mereka “Wakil Rakyat” itu bahkan tak mampu dipecahkan otak sejenius Albert Einstein sekalipun.
Masa kerja mereka singkat, hanya satu periode jari tangan, 5 tahun. Yang disebut kerja itu pun adalah duduk di ruang berpendingin udara yg sejuk, di atas kursi empuk yg harganya mungkin setara gaji setahun 10 orang buruh pabrik. Di sanalah mereka duduk rapat, atau terkadang juga terlelap.
Tugas mereka mulia di atas kertas, namun ajaib di rekening. Hanya dengan modal lima tahun “bersuara”(atau diam), negara dengan sukarela mengikatkan diri untuk menanggung hajat mereka sampai liang lahat.
Seolah-olah keringat lima tahun mereka adalah elixir suci yg nilainya tak terhingga. Pensiun seumur hidup untuk kerja seumur jagung. Sebuah warisan feodal yg dibungkus rapi dengan pita demokrasi.
Di sisi lain, lihatlah ke bangunan sekolah yg atapnya bocor itu.
Di sana ada seorang guru honorer. Gajinya sering dirapel tiga bulan sekali, nominalnya pun seringkali lebih kecil dari struk satu kali makan siang sang "Wakil Rakyat" tadi.
Ia tidak duduk lima tahun, tapi berdiri dua puluh hingga tiga puluh tahun. Kakinya bengkak menahan lelah, suaranya serak mendidik anak-anak bangsa agar tidak bodoh, agar kelak bisa memilih wakil yg benar.
Apakah ia mendapat pensiun…?
Jangankan pensiun, bermimpi untuk diangkat menjadi pegawai tetap saja seringkali dilarang. Komplain sedikit soal MBG saja bisa dipecat.
Ketika masa baktinya habis dan tubuhnya renta, negara memberinya ucapan terima kasih berupa selembar piagam kertas, lalu membiarkannya mati perlahan dalam kemiskinan.
Tidak ada tunjangan hari tua, tidak ada jaminan kesehatan VIP. Pengabdian mencerdaskan kehidupan bangsa puluhan tahun ternyata harganya jauh lebih murah dibandingkan keahlian mengangkat jari tangan (yg lebih sering dipakai buat ngupil dari pada kunjungan ke dapil) dalam sidang paripurna.
Sungguh sebuah komedi tragis. Kita dicekoki dan dipaksa menelan mentah-mentah “Undang-Undang” yg isinya membuat kaya raya si pembuatnya, membiayai hari tua mereka yg bekerja hanya sekejap, sementara kita membiarkan pahlawan yg membangun fondasi negara ini mengais remah-remah di masa senjanya.
Hati nurani macam apa yg dipakai untuk mengetuk palu aturan itu..?Bagaimana mungkin kalian bisa menikmati uang pensiun itu dengan tenang, sementara guru yg dulu mengajari kalian mengeja kata “KEADILAN” itu kini sedang bingung mencari uang untuk makan..?
Di negeri ini, “Pengabdian” rupanya diukur bukan dari seberapa besar jasamu pada bangsa dan negara, melainkan seberapa dekat pantat busuk mu dengan kursi kekuasaan.
Bajingan kalian semua…!!!