Bila ia masih hidup, 10 Juni 2026, Asrul Sani akan berumur seratus tahun. Angka yang bulat. Nyaris seperti penanda. Seolah waktu ingin memberi jeda, meminta kita berhenti sejenak, lalu menoleh ke belakang.
Bagi banyak orang, Asrul adalah penyair Angkatan ’45, penulis, penerjemah, dan salah satu penanda penting kebudayaan Indonesia pascakemerdekaan.
Bagi saya, ia adalah Pak Cun—adik kandung ayah saya, paman yang tinggal di rumah kami di Menteng ketika saya masih kecil, dan yang lewat percakapan-percakapan sederhana membentuk cara saya melihat dunia.
Dari sanalah saya berkenalan dengan Albert Camus dan Anton Chekhov. Dua nama yang, pada usia saya yang masih kecil saat itu, terasa jauh. Tidak sepenuhnya saya pahami. Tetapi buku-buku itu tidak hilang. Mereka menunggu.
Dan bertahun-tahun kemudian, ketika saya membacanya kembali dengan mata yang sudah lebih banyak melihat hidup, saya menyadari apa yang sebetulnya ingin Pak Cun sampaikan: bahwa hidup tidak selalu harus dijelaskan.
Camus menolak karena ia tahu penjelasan yang tersedia tidak memadai untuk menampung absurditas keberadaan.
Chekhov menolak karena ia tahu penjelasan akan mengkhianati tekstur sebenarnya dari pengalaman manusia. Dan Asrul, meski tidak pernah secara eksplisit berdialog dengan keduanya, sampai pada posisi yang serupa lewat jalannya sendiri.
Saya masih terlalu kecil untuk memahami cara pikirnya. Kata-katanya mungkin lewat begitu saja, tidak sempat tinggal.
Yang tersisa justru yang lain: potongan-potongan keseharian, hal-hal kecil yang tidak penting, tapi bertahan. Saya masih ingat, kamarnya yang remang. Bau rokok yang menyengat, bukan sekadar asap, tapi semacam jejak yang menetap di udara. Debu di sana sini, obat nyamuk bakar hijau melingkar di lantai, pelan-pelan habis, menyisakan abu yang rapuh. Buku-buku berserakan, seperti tak pernah selesai dibaca atau mungkin tak ingin disusun. Di atas meja kerja, ada sebuah mesin tik tua. Diam, tapi terasa hidup, seolah setiap saat bisa kembali berbunyi, memecah sunyi dengan ritme yang teratur.
Lalu tikus itu.
Ia tidak diusir. Tidak dijebak. Pak Cun justru memberinya makan sedikit, secukupnya. Seolah ada kesepakatan yang sederhana: tikus itu tidak mengganggu buku-bukunya, dan sebagai gantinya, ia diberi ruang untuk hidup. Dalam logika sehari-hari, ini mungkin tampak ganjil. Tapi di situ ada sesuatu yang lain: cara melihat dunia yang tidak selalu ingin mengalahkan.
Tetapi yang paling saya ingat adalah pertanyaan dan nasihat yang ia tinggalkan.
“Mengapa seseorang masuk universitas?”
Bertahun-tahun kemudian, ketika saya akan berangkat ke Australian National University untuk studi pascasarjana, ia berkata:
“Yang paling penting dalam sekolah bukanlah buku teks. Buku teks di setiap universitas akan sama saja. Yang penting adalah bagaimana kamu mengembangkan pemikiran, berdiskusi, bertukar gagasan, dan belajar dari lingkungan di sekitarmu.”
Pesan itu mengubah cara saya melihat pendidikan. Pendidikan bukan sekadar soal memperoleh pengetahuan atau gelar. Ia juga tentang memelihara rasa ingin tahu dan membuka diri terhadap gagasan-gagasan baru.
Puluhan tahun kemudian, saya masih memikirkan pertanyaan dan nasihat itu. Barangkali memang begitu cara seorang guru bertahan hidup: bukan dalam jawaban yang ia berikan, melainkan dalam pertanyaan yang terus menemani kita.
Disarikan dari tulisan saya untuk buku peringatan 100 tahun Asrul Sani.
Selain Kartini dan sebelum Kongres Perempuan dimulai, para perempuan peranakan Tionghoa telah merumuskan kesetaraan gender khususnya bagi kaum mereka.
Sebuah utas untuk merayakan solidaritas perempuan lintas zaman, lintas generasi, dan etnis!
Hari ini dalam sejarah, 21 Februari 1949, Tan Malaka meninggal dunia di Selopanggung, Kediri, Jawa Timur. Dia dieksekusi mati oleh Suradi Tekebek yang diperintahkan oleh Letda Soekotjo dari Batalyon Sikatan, Divisi Brawijaya.
Pada 1965, ketika menjabat Komandan Korem Surabaya, Soekotjo mengambil alih jabatan Walikota Surabaya dari Moerachman. Walikota Surabaya dari nonpartai ini dekat dengan PKI yang memperoleh suara terbanyak di Kota Surabaya pada Pemilu 1955. Setelah peristiwa G30S 1965, Moerachman ditahan, dihabisi, dan dihilangkan, sampai sekarang tidak diketahui makamnya.
Tan Malaka menjadi ketua PKI menggantikan Semaoen yang diasingkan ke Belanda. Pada gilirannya, Tan Malaka juga diasingkan ke Belanda. Dia sempat dicalonkan menjadi anggota parlemen oleh Partai Komunis Belanda.
Tan Malaka kemudian menghadiri kongres Komintern (Komunis Internasional) di Moskow, di mana dia mengusulkan agar komunisme dan Pan-Islamisme bekerjasama. Setelah itu, dia pergi ke Canton sebagai agen Biro Timur Komintern.
Sempat ingin pulang ke Indonesia karena sakit, Tan Malaka kemudian melanjutkan petualangannya. Karena diburu polisi kolonial, Tan Malaka menggunakan nama samaran berbeda-beda di setiap negara yang disinggahinya. Tan Malaka memutuskan keluar dari PKI karena tidak setuju dengan pemberontakan PKI pada 1926 karena akan gagal dan membuat PKI dilarang serta banyak anggotanya dibuang. Tan Malaka kemudian mendirikan Partai Republik Indonesia (Pari).
Tan Malaka baru kembali ke Indonesia setelah Belanda dikalahkan Jepang. Dengan menyamar, dia bekerja di tambang batu bara di Bayah, Banten Selatan di bagian administrasi dan mengurus romusha.
Tan Malaka muncul setelah Indonesia merdeka. Pada masa revolusi kemerdekaan, dia menggalang kekuatan Persatuan Perjuangan, yang menghimpun 141 organisasi, untuk menentang diplomasi pemerintah yang berunding dengan Belanda. Tan Malaka menuntut Indonesia harus merdeka penuh 100%. Akibatnya, dia ditahan selama 2,5 tahun.
Setelah dibebaskan pasca peristiwa Madiun 1948, Tan Malaka bersama pengikutnya mendirikan Partai Murba. Setelah itu, dia memutuskan bergerilya di Jawa Timur hingga berakhir dieksekusi anggota TNI.
Belakangan ini Tan Malaka mendapat perhatian dari generasi muda. Buku-buku karyanya, seperti Madilog, Dari Penjara ke Penjara, Massa Actie, dan terbaru Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia) diterbitkan ulang. Meski Tan Malaka telah mati, tetapi pemikirannya terus hidup.*
Baca👉https://t.co/Pydmwagcw3
📷Tan Malaka.
Alm. Kartono Ryadi, fotografer legendaris Kompas, jadi salah satu orang Indonesia yang berkesempatan memotret langsung Susy Susanti menangis ga lama setelah menerima medali Olimpiade.
Kisahnya menarik banget.
Setelah mengambil beberapa potret dan bersiap mengirimkannya ke Indonesia, kepada redaksi, dia bilang: "Susy nangis, dramatis banget. Kalau air mata tidak tampak, kuulangi pengirimannya. Penting nih."
Ternyata dalam proses penentuan foto yang akan tayang, keputusan akhir tidak sepenuhnya berada di tangan dia sebab emosinya sebagai fotografer bisa ikut masuk ke dalam pilihan.
Redaksi akhirnya memilih gambar yang menampilkan Susy tersenyum megah dan melambaikan tangan, karena menilai kegembiraan lebih dinantikan dan penting oleh mereka yang berada di Indonesia.
Kisah ini diabadikan Arbain Rambey dalam artikelnya di Kompas.
Dan @RujakRCUS sedang ada penelitian soal dekolonialisasi, rumah dan isu kesehatan bareng organisasi di US & Pakistan.
Ini salah satu “menambang” di Perpusnas dari banyak banget hidden gem di sana.
1979 akhir sempat ada flat dengan sistem precast. Desainnya pun mayan oke.
Antara tahun 70-an sampai 90-an, para eksil di Moskow rutin menerbitkan majalah bulanan bernama Tekad Rakyat. Ukuran majalahnya sekecil buku saku pramuka. Di beberapa edisi, ada puisi Agam Wispi.
Setahu saya belum ada yg menulis disertasi soal ini. Di Moskow ada ratusan edisi.
Kisah Perdjalanan si Apin karya S. Rukiah Kertapati mengisahkan perjalanan seorang anak bernama Apin meninggalkan kampung halamannya untuk belajar berdiri sendiri, menghadapi jarak, perpisahan, dan rasa asing dengan keberanian yang tumbuh perlahan.
https://t.co/JaZL8SNcd2
@dimenvroyal Sedikit tips: koran2 dan koleksi yang ada di Khastara itu bisa diakses dari katalog online https://t.co/w3Y1pvpQGu, bisa diurutin berdasarkan tahunnya karena penamaan filenya berdasarkan edisi. Sila juga cek https://t.co/Rzp45jz12P utk tau koran apa aja yg bisa diakses via OPAC.
Jadwal radio NIROM 17/03/1939, susunan acara di Hindia Belanda udah modern
1) Pengajian
2) Bincang2 “rumah tangga” by Nyonya Gandasoemantri
3) Lagu2 Arab by Sech Albar (ayah Achmad Albar)
4) Acara anak2
5) Macam2 lagu/seni Nusantara sampai Orkestra
6) Acara musik-budaya Tionghoa
Isi dan makna poster di saat Perang Kemerdekaan Indonesia di tahun 1949 ini masih kurang lebih sama dengan perjuangan rakyat Palestina hari ini
“Jangan percaya dongeng ceasefire”
Di buku "Science and Scientists in The Netherlands Indies" (1945), ada banyak artikel ringan tentang sejarah sains di Hindia Belanda.
Salah satunya tentang 'sains kedokteran': "Medical Contributions from The Netherlands Indies."
Bisa akses di sini, ya: https://t.co/YJwNZaN1KK
Introducing v1.1: Find What Matters
Exploring Indonesia’s visual history just got easier.
You can now search, filter, and sort artefacts — by keyword, decade, series, creator, or format.
Try the new features now, only at https://t.co/SnyKykTBHm
sudah bisa diunduh Rethinking Histories of Indonesia
Experiencing, Resisting and Renegotiating Coloniality
Edited by: Sadiah Boonstra, Bronwyn Anne Beech Jones , Katharine McGregor , Ken M.P. Setiawan, Abdul Wahid Asian Studies Series ANU Press
https://t.co/927L1FFiBg
@ruang_melamun Yang pernah saya baca, Persatoean Indonesia, Darmokondo, dan Sin Po memuat berita Kongres Pemuda 1928. Menurut Darmokondo, berita terkait juga dimuat di Java Bode dan De Courant.