;; halo, terima kasih telah menghampiri unggahan ini. mari berteman dan bagi yang ingin menjalin relasi plot bersama, silahkan ketuk DM, atau hanya ingin berinteraksi ringan. saya juga terbuka untuk diskusi ide multiverse yang menarik. akhir kata, selamat malam.
Theo mencengkeram lengan Winter tepat sebelum pria itu melewatinya, menahan langkahnya.
"Aturan pertama kalau kau ingin aku ikut, Winter," bisiknya dingin tanpa melepas cengkeramannya, "tatap mataku saat bicara dan bersikaplah sepantasnya"
Theo terkekeh dingin, mengabaikan dompet di tangan Selene demi mengunci tatapan tajam.
"Bawa saja. Barang tak berguna itu tak lebih menarik dari ucapanmu barusan," bisiknya pelan, ia ingin mencari tahu siapa sebenarnya wanita tak bernyali ciut di hadapannya.
@2DRP_AU "Untuk seorang manusia, dirimu cukup kasar juga!" Terdengar bahwa tak ada rasa takut pada diriku dengan intimidasi yang kau coba berikan.
"Dompetmu terjatuh dan kartu identitasnya memiliki nama dan foto. Jika kau tak ingin dompet ini kembali, aku bisa membuangnya?"
Theo terkekeh sinis, menyandarkan punggungnya sembari menatap Erza dengan tatapan yang tajam.
"Jaga sikapmu di sini," desis Theo pelan, suaranya sarat ancaman terselubung. "Kantor ini dipenuhi musuh. Jika mereka tahu kau dekat denganku, kau yang akan diincar."
@2DRP_AU "Memangnya ada larangan ?" Bising batu es beradu dengan kaca gelas minumnya. "Sedikit bersenang-senang setelah suntuknya pekerjaan tak ada salahnya kan ?"
Theo mendengus pelan menatap Gale datar seraya mengisyaratkan tangan kanannya menyiapkan mangkuk dan sendok kecil.
"Panggil Sir Theodore selama di gedung ini," gumamnya, membiarkan maniknya mengunci presensi Gale tanpa beranjak sedikit pun.
"Duduk."
@2DRP_AU “Lalu aku harus memanggil dengan apa?” tanyanya dengan polos.
Kembali ke tujuan utamanya. “Tadinya aku mau mengajak untuk makan es krim bersama, mau?” satu kantung plastik ditunjukkan.
Theo menyandar santai di kursi kerjanya, mengetukkan jari di sandaran kulit saat Aureliana melangkah masuk. Tatapannya menatap tajam wanita itu, diiringi keukahan hambar.
“Serpihan terendah dari reputasiku cukup untuk menghancurkanmu sebelum kau melangkah lebih jauh.”
Theo terkekeh hampa, memiringkan kepala seraya melipat tangan di dada dengan tatapan yang mengintimidasi.
"Batu tambangku bukan barang murah yang bisa dibeli dengan desas-desus. Tunjukkan padaku, penawaran apa yang bisa membuatmu terlihat lebih dari sekadar benalu?"
@2DRP_AU Lancang atau tidak adalah hak Natalie dalam menentukan seseorang. Mengabaikan tatapan tajam mu, delima bibir kembali membuka suara. “Aku membutuhkan batu tambang untuk membuat senjata,” sekejap menjeda. “dan dari berbagai buah bibir, salah satu menuntun padamu. Jadi?”
Rahangnya mengeras saat rentetan namanya terucap dari bibir Nathan. Tatapannya makin memicing tajam, namun geraknya tetap terkendali saat menatap lurus pria di hadapannya.
"Cukup" bisik Theo pelan namun berat "Aku tidak punya waktu untuk meladeni tingkah childish-mu."
@2DRP_AU Dahinya mengernyit, kemudian Ia sunggingkan senyuman sesaat.
"Theo, Theo, Theo, Theo, Theo," ucapnya berulang kali tanpa henti, sengaja memancingmu lagi.
2DAU! / Salam. Sila jatuhkan kata kunci atau kalimat ic (eng / ina) beserta skala kedekatannya untuk mengukir kisah bersama dengan kami, atau hijaukan tombol untuk interaksi kedepannya. Kami jua terbuka untuk tawaran relasi. Terima kasih.
I-OC, dokter orthopedi, 36.
@Skyzerean "You said you missed me, didn't you?" Theo murmured right against Val's ear, his tone heavy with a teasing edge. "Welcome me home properly, Val. Kiss me."
"Everything has been delivered and arrived safely at Eden on schedule, Young Master Theodore. A total of 30 rare plant and seed specimens as per your order, all in flawless condition without a single defect."
Theo gave a brief, subtle nod at his personal assistant's report. -
@Skyzerean "...pay me my reward first for coming home early."
His nose brushed along Val's neck, breathing in the natural scent he had missed so desperately for weeks. Theo let out a low chuckle as he felt Val catch his breath.
-