ngebayangin pacaran sama times new roman tapi abis itu gue selingkuh sama comic sans soalnya dia ga kaku dan bikin gue ketawa sementara itu ada helvetica yg udh pining dari lama tapi ga gue respons apa2 soalnya dia cuma temen tapi akhirnya gue nikah sama poppins
@tilehopper Tbh, banyak yang kontra mulyono di sana sekarang. And of course, banyak yang kontra prabs juga di sana. Hampir2 senada lah kek ekosistem di sini. Dan juga pas capres, keknya malah Ganjar yang menang di sana
Akunnya aja ga pernah merepresentasikan orang Sumatra.
Ini gw sampaikan sebagai orang asli Sumatra yak.
Lebih ke buzzer PM Malaysia Anwar Ibrahim malah karena dia kedapatan memuja sawit Negeri Jiran dan direpost sama si Anwar.
Eyang nyangkut di (Obligasi Nasional 1946)
Bapak nyangkut di Tanah (dia benci SBN era Reformasi krn trauma warisan nyangkut di negara)
Emak nyangkut di Emas
Anak 1 nyangkut di Ihsg
Anak 2 nyangkut di Nasdaq (dia benci sama IHSG)
Anak 3 nyangkut di BTC (dia benci sama saham)
I was so entrenched with how this user defend economics and it's beliefs that I forgot that the tweet itself is, implicitly, in favor of privatized housing.
I don't agree with the tweet's argument. But I do believe that yes, economic's law of supply and demand still stands
We say this and while this is indeed the truth, banyak banget kasus di luar sana yang melanggar AMDAL, batas kepemilikan tanah, dll. Just goes to show how sloppy our law enforcement are
Bahaya terbesar dari konten rage bait gini adalah oversimplified masalah demi engagement. Narasi "tanah sendiri kok dilarang" dipake utk memicu kemarahan emosional. Sesuatu tetap perlu diberi konteks, tujuannya supaya bikin orang paham, bukan jadi marah.
Faktanya, setiap kepemilikan tanah di Indonesia terikat hukum tata ruang. Mengubah sawah menjadi tambak udang secara ilegal melanggar hukum karena mengancam sektor pangan dan ekosistem lingkungan.
Tambak udang itu menghasilkan limbah; kalau tanpa izin dan amdal, justru berisiko merusak tanah warga di sekitarnya.
Saya pernah kerja di BPS. Bapak saya lebih lama lagi, hampir 30 tahun jadi petugas lapangan. Jadi saya cukup tahu gimana asam garamnya ngumpulin data di lapangan.
Bapak saya sendiri pernah dikejar pakai golok waktu lagi nyacah sampai harus berlindung di rumah kepala desa. Belum lagi daerah-daerah 3T dan remote dengan akses yang luar biasa sulit. Coba search aja kondisi jalan di Balaesang Tanjung misalnya. Jadi memang ada banyak petugas yang mempertaruhkan tenaga, waktu, bahkan keselamatannya demi ngumpulin data.
Apakah ada oknum yang curang? Ada. Saya juga nggak menampik itu. Ada yang nggak benar-benar mendatangi responden atau melanggar SOP. Tapi jangan karena ulah segelintir orang, lalu disimpulkan seolah-olah semua petugas melakukan manipulasi data.
Di BPS sendiri ada mekanisme quality control untuk mendeteksi anomali. Setelah pengumpulan data, hasil kerja petugas nggak langsung diterima begitu saja. Ada proses pemeriksaan oleh pengawas, validasi, sampai pengolahan data. Kuesioner dan sistem pengolahannya memang dirancang untuk membantu mendeteksi isian yang janggal atau tidak konsisten, sehingga data yang masuk bisa dievaluasi lebih lanjut.
Apakah sistemnya sempurna? Tentu tidak. Masih ada ruang untuk diperbaiki. Tapi mengatakan bahwa mayoritas petugas mengisi sendiri tanpa turun ke lapangan juga menurut saya perlu dibuktikan, bukan sekadar berdasarkan asumsi atau pengalaman dengan segelintir oknum.
Kalau penasaran bagaimana proses data statistik resmi dihasilkan, mulai dari pengumpulan sampai pengolahan, bisa cek video di-reply.
@Lovemossha97 Yes, makanya untuk pengukuran GDP itu ada 2 jenis: nominal (ngikutin angka pasar saat itu) dan real (dipatok sama harga pada suatu tahun dasar supaya membuang dampak dari inflasi)
They're not the ones who made the questionnaire. Dont make things harder for them, confuse them or even scold them lohhh 😭😭
Untuk kerjaa kaya gini tuh they dont really have much say like they're just following the guidelines and doing their job. As the respondents, you're the ones who know your own economic situation best, so just answer honestly.
If you want to be mad about the policy, direct that frustration upward, not at the people on the ground.
@Putra_Adi_YM@_TNIAU@prabowo Actually banyak sih yang bisa diprotes dari kebijakannya Prabs, sebagai orang yang juga kontra dengan dia. Tapi kali ini memang si akun itu kebablasan sampai pakai2 hoax
@Bochuzou@madokafc1 Terbutakan wanita dan ego dia sendiri. Untung aja sii dia ga go down the path of Pol Pot meskipun yaaa aksi2 dia juga yang bikin si penerusnya punya kuasa dan....