Maudy Ayunda, I remember you, Girl.
HARI GURU NASIONAL 2022 di JI Expo
https://t.co/1CwlmdUR2F
Di depan kami, para guru yang simply want to teach di gedung sekolah yang proper sesuai standar tanpa perlu beban gimmick dari pemerintah manapun.
Bambang Setiyawan bukan pendemo. Bambang adl penjual cermin, warga Bendungan Hilir, Tanah Abang. Tadi malam, Bambang yang tidak tahu apapun, diseret dan dipukuli sampai tewas.
Keluarga baru tahu Bambang tewas di jalanan karena sang anak mengenali ayahnya dianiaya via sebuah video yg beredar di media sosial.
Siapa para pembunuh yg begitu kejam menghabisi nyawa Bambang?
Peter Dinklage pernah bagi pesan yang simpel tapi nampol banget: secara hitungan aerodinamika, badan lebah terlalu berat buat sayapnya.
Kalau ikutin "hukum fisika," lebah HARUSNYA gak bisa terbang.
Tapi lebah gak baca text book.
Dia tetep terbang.
Bukan karena dia ngelanggar hukum alam, tapi karena dia gak pernah tau ada "hukum" yang bilang dia gak bisa.
Ini nyerempet konsep self-fulfilling prophecy dalam psikologi: begitu lo internalize batasan yang orang lain kasih ke lo , soal fisik, latar belakang, ekspektasi sosial, batasan itu jadi nyata cuma karena lo percaya.
Padahal batasan itu sering kali cuma angka statistik, bukan hukum mutlak.
Dinklage sendiri hidup buktinya , dari sering ditolak industri film karena kondisi fisiknya, sampe jadi salah satu aktor paling dihormati di Hollywood.
Kalian tau anggota TNI yang suka upload pake bahasa inggris di tiktok gak? Yang disebut tentara premium
Beliau sekarang sudah meninggal dikeroyok ormas yang gak suka sama beliau, padahal dia ngelakuin hal yang bener yaitu negur pelaku yang suka nyerobot antrian
Ayo dong kita jangan berat sebelah , kalo aparat ngebunuh masyarakat bisa viral, ini masyarakat ngebunuh aparat juga harus viral dong. Kita gaboleh tutup mata biar aparat yang baik dan berintegritas seperti beliau makin banyak
OPM sendiri yang mengakui bahwa mereka memiliki "hubungan diplomasi" dengan Israel dan menyamakan "pergerakan" mereka dengan tindakan KEJI yang Israel lakukan terhadap masyarakat Palestina. Siksa warga sipil tanpa dasar yang jelas, perkosa tenaga kerja, bakar instalasi kesehatan, sekolah (pendidikan), perkosa tenaga kerja yang mengabdikan diri mereka untuk kemajuan masyarakat Papua, dan bunuh semua orang yang mereka tuduh. Ingat, kami pun mengecam semua tindakan LIAR dan tidak profesional yang dilakukan oleh PERSONEL TNI DAN POLISI di Papua, apalagi yang masih nakal melakukan penjualan gelap munisi dan senjata terhadap teroris OPM, itu pengkhianat bangsa.
Saya akan nyatakan lagi, teroris OPM ini tidak pandang bulu dalam menyiksa dan mencabut nyawa SIAPA PUN, yang mereka "curigai" sebagai "mata-mata Indonesia", OAP maupun non-OAP, semuanya akan mereka bantai. Tentu saja anjing-anjing penjilat OPM akan menjustifikasi kekejian ini.
Jadi gua punya cerita soal perusahaan Tanihub, gua saat awal masuk kerja disuruh ngebedah startup ini. Dari awal ngeliat thesis bisnisnya, secara logika berfikir gua langsung nolak. Narasi "Disrupsi Agritech" emang seksi banget buat pitching, tapi fundamental lapangannya HALU. Gua jelasin pemikiran gua ya saat itu
Gini sudut pandang gua waktu itu soal kenapa model bisnis ini emang bom waktu dari awal:
1. Halu nerapin prinsip Scale ala US di tanah gurem.
Kesalahan fatal Pertama: maksa nerapin playbook agrikultur ala Amerika (main kuantitas dan skala) ke Indonesia. Ini absurd secara geografis. Kalau lu buka data BPS, mayoritas petani kita itu jatuhnya "petani gurem" dengan kepemilikan lahan di bawah 0,5 hektar.
Dengan size lahan sekecil itu, model bisnis ngumpulin hasil panen untuk menuhin tonase itu kayak gali lobang mati konyol, karena harga panen bakal dinilai secara borongan oleh pasar. Lahan sempit mestinya main di quality dan highnyield crop (kayak teori pertanian intensif di Jepang), bukan genjot kuantitas.
2. P2P Lending ke sektor subsisten = Nyiapin tali tambang di pohon beringin.
Terus masuklah TaniFund nawarin P2P lending. "Pinjaman tanpa agunan buat petani" ini di atas kertas mulia "yang bahkan rentenir aja gak akan sebodoh itu" tapi secara risk pricing ngeri. Logika finansial dasar "tanpa agunan = high risk = suku bunga tinggi".
Petani dengan lahan <0,5 ha itu taraf hidupnya rata-rata "bisa makan dari sisa panen aja alhamdulillah". Mereka gak ada buffer finansial. Sekali cuaca jelek, kena hama, atau harga pasar anjlok, otomatis gagal bayar. Gimana ceritanya lu ngasih kredit komersial bunga tinggi ke sektor subsisten yang 100% terekspos risiko alam? Wajar kalau NPL (kredit macet) mereka akhirnya tembus di atas 60%.
3. Arogansi "Bypass Tengkulak"
Ini yang paling bikin gua mikir, lu pasti hidup enak ya dari lahir? Gak pernah ngeliat pasar kayak apa (apalagi pasar induk), berangkat sekolah udah ada makanan di meja tanpa mikirin bahan bakunya beli di mana.
Ada arogansi dari tech bros yang nganggep tengkulak itu murni lintah darat yang harus dibasmi. Padahal di ekosistem desa, tengkulak itu "entitas multifungsi". Mereka bukan cuma perantara. Mereka itu agregator logistik, tukang sortir kualitas panen yang campur aduk, pemberi kasbon darurat, dan yang paling krusial: Risk Bearer (Penanggung Risiko). Tengkulak berani nebas panen karena jam terbang mereka udah puluhan tahun baca cuaca dan harga. Terus lu, dengan modal pernah kerja pakai baju rapih, mau masuk ke industri ini?
4. Unit Economics yang berdarah-darah.
Coba hitung pakai logika supply chain sederhana. Produk segar (terutama sayur hijau) itu tingkat kebusukan gila. Umur simpannya cuma 1-3 hari, bahkan kalau cuaca panas banget, cuma beberapa jam udah layu sampai kuning.
Waktu TaniHub nekat menggusur tengkulak, SEMUA biaya shrinkage (susut/busuk), biaya sortir, dan logistik itu pindah murni ke neraca keuangan TaniHub. Margin kotor jualan sayur itu super tipis! Gimana logikanya margin setipis itu disuruh nanggung biaya operasional cold chain, sewa gudang raksasa, diskon bakar uang, plus gaji engineer dan manajemen super elit? Unit economicsnya udah negatif dari sejak awal gua narik proyeksi secara logika berfikir
Kesimpulan:
Ekosistem pertanian tradisional kita (dengan segala tengkulaknya) itu udah bertahan puluhan tahun bukan karena mereka jahat, tapi karena equilibrium harganya udah "sesuai dengan tingkat risiko" di lapangan.
Niat mulia menyejahterakan petani itu bagus, tapi kalau cuma modal narasi jualan mimpi tanpa paham unit economics dan sosiologi desa, Ujungnya ya cuma bakar duit investor. Di dunia bisnis, hukum gravitasi cashflow nggak bisa dilawan pakai slide deck yang bagus dan perguruan tinggi elit.
(MAAF YA KALAU MENYINGGUNG, MURNI OPINI PRIBADI)
Gue bukan pendukung Bahlil ya. Bukan pula kader Golkar.
Tapi gue jawab saja berdasarkan info dari orang-orang yang kerja sama Bahlil
Bahlil itu termasuk politisi yang disenangi sama elit-elit
Suka bagi-bagi dan ga petantang-petenteng
Ga masalah dibully dan dicengin
Jago ngelawak
Of course pandai mengolah
Real court jester.
Udah itu, tidak seperti beberapa elit, dia ini juga sayang anak buah. Walhasil, kalau dia kena masalah, anak buahnya akan membackup dia.
Tapi kalau soal kebijakan publik, ya kontroversial dan penuh perdebatan.
=====
At the end, politik di Indo itu unik.
Tidak selamanya orang yang punya uang dan senjata akan unggul.
Kepandaian bergaul juga termasuk, malah kadang bisa jadi faktor pembantu dan penentu.
Makanya, selain asah otak, dolar dan senjata.
Jangan lupa untuk asah pergaulan.
Bloomberg memberitakan kalau hubungan Presiden dengan para konglo makin panas..
Prabowo ingin para konglo itu untuk nyumbang lebih banyak ke negara
Lewat apa? Beli patriot bonds, ambil alih lahan ilegal, pemeriksaan pajak, RUU Perampasan Aset, bahkan mewacanakan pajak kekayaan.
Masalahnya, Prabowo melakukan itu dengan cara yang dianggap keras.
- Dia menyerang konglo secara verbal (oligarki rakus, greednomics)
- Sentralisasi ekspor yang bikin eksportir tambang dikontrol
- Menindak secara hukum para konglo seperti mencabut PSN, menindak bisnis ilegal konglo, dll.
Akibatnya, para konglo ini ketakutan...
Ada beberapa taipan yang sengaja menjual saham dan obligasinya, lalu melarikan dananya ke Singapura, Hong Kong, bahkan ke Swiss.
Ada yang diversifikasi aset ke emas, kripto, dll.
Menurut artikel ini, Prabowo sebenarnya mau menata ulang oligarki-oligarki agar tunduk pada agenda negara…
Cuma artikel ini berpesan: jangan sampai dianggap sewenang-wenang supaya tidak menurunkan kepercayaan investor atau bikin capital flight.
===
Berarti kalau masalahnya seperti itu
Pemerintah perlu sedikit lebih berhati-hati dan memperbaiki komunikasi
Niat pemerintah mungkin bisa dipahami, tapi kalau caranya sembrono, grasak grusuk dan terlalu terburu-buru
Maka reaksi negatifnya akan begitu besar.
FOTO: BPMI SETPRES/CAHYO
indonesia go internasional lagi nih via ginka ginting komisaris yang viral
Bahkan Martyn Terpilowski, seorang pelaku bisnis dan tech founder, ikut mengkritik penunjukan komisaris tersebut.
Menurutnya, ini seperti "sirkus" dan menunjukkan pemerintah sudah tak peduli lagi dengan pandangan investor global.
Kunjungan Tim Agrinas ke Kopdes di NTT membuka mata:
1️⃣ Karyawan Kopdes cuma gotong royong tanpa gaji, hanya manajernya yg dibayar Agrinas.
2️⃣ 400 KK di Desa tersebut diminta belanja Rp1 juta/bulan, agar omset Kopdes Rp400 juta/bulan.
Inilah program yg membebani warga desa.
Kelas menengah indonesia cabang eropa.
UMR, Kerja 6 hari ( sabtu masuk ), Pergi pagi pulang malam ( jam 11 malam ), tdk bsa ketemu anak dan keluarga.
Setelah 3 minggu, gaji cma tinggal £150 lalu pergi ke supermarket menghabiskan £100 utk makanan kebutuhan keluarga lagi, uangnya hanya lewat bgtu saja ( paycheck yo paycheck )
This is reality in other country right now.
ada santri nanya orang kristen bisa masuk surga gk ?
Santri: Cak, kebetulan teman profesi saya beragama Hindu. Beliau sering tanya, nanti setelah mati, selain agama Islam, apakah bisa masuk surganya Allah?
Cak Nun: Sangat bagus pertanyaanmu itu. Tapi ini soal antara qat'i dengan dhanni. Qat'i itu sesuatu yang pasti. Tapi pasti bagi siapa? Bagi kita, itu jadi tidak pasti. Yang kedua, dhanni itu berprasangka kira-kira masuk atau tidak masuk.
Santri lain: Mbah, apakah selain Islam bisa masuk surganya Allah?
Cak Nun: Itu jawabannya qat'i, Mas dan qat'i itu pasti. Tapi coba, aku tanya balik: kamu sendiri pasti masuk surga?
Santri: ...Ragu-ragu, Cak.
Cak Nun: Nah, kan. Dan tidak mungkin ada kepastian, karena kepastian hanya ada di tangan Allah. Kita hidup ini cuma mudah-mudahan "laallakum", bukan kepastian. Sama seperti puasa: kutiba 'alaikumus-shiyam... laallakum tattaqun supaya kamu bertakwa, bukan "supaya kamu pasti jadi takwa". Dinamis, kadang naik kadang turun.
Santri: Jadi bagaimana sikap kita, Cak?
Cak Nun: Kalau saya, posisinya sederhana: ayo didoakan saja. Mudah-mudahan semua orang yang baik diterima Allah, dimasukkan surga. Karena dia Hindu, Buddha, Kristen, atau Islam, itu urusan dia sama Allah bukan urusan saya. Kalau dia bersyahadat, itu kepada Allah, bukan kepada saya. Jadi saya tidak punya urusan menghakimi itu. Yang penting, doakan saja, dan pastikan dia jadi teman yang baik.
Kenapa saya agak “kaget” dengan berita tentang pak Dr. Mochtar Riady tadi?
Karena saya masih punya Buku ini.
Buku yang dia tulis dan diterbitkan pada tahun 2008;
Kurang lebih 18 tahun silam
Tahun segitu aja dia UDAH TAHU apa aja MASALAH DI NEGARA ini😂
Dia pake filosofi Tiongkok Kuno zaman Chun Qiu hingga Han Fei Zi
oh yah, bahkan beliau sudah mengkritisi terkait BUMN .
Bayangin, di 2008 aja beliau udah nulis gini:
“ selama ini sistem pertanggungjawaban serta target usaha BUMN tidak jelas; banyak BUMN mengalami kerugian dan akhirnya menjadi beban bagi perkembangan ekonomi Nasional”
Bayangin loh!
Dari 2008 emang udah ga bener ini Plat Merah 🤣
Kacaaauu Kacauuuuu parah
Beliau menambahkan,
“ Karena itu, Pemerintah perlu segera mengadakan REFORMASI dan membenahi Sistem Kerja BUMN …dst”
Ckckckck
Point apa yang bisa kalian pelajari dari sini?
Jadi ni Negara sebenarnya bisa maju gak sih? 🙄
2008 tuh saya yakin, Bapak Bapak petinggi BUMN sekarang waktu itu masih remaja dan pasti udah kritis dong melihat persoalan di Negeri ini.
*eh lupa; skrg mah jadi Komisaris ga perlu usia matang dan berpengalaman kan?
🤣 apa gak makin junam itu BUMN plat merah yg pake nunjuk komisarisnya gak berdasarkan meritokrasi dan fairness🤣🤣🤣
Soal hotel ini… ada cerita menarik.
Jadi, Indonesia menerima pampasan perang dari Jepang pada tahun 1958.
Tahu ga berapa? $223,08 juta. Kalau pakai nilai dolar sekarang, itu sekitar 2,7 miliar USD.
Kalau dirupiahkan, totalnya : 45-46 triliun!
Sukarno dan Hatta berbeda pandangan tentang penggunaan pampasan perang ini.
Hatta : Pakai saja buat pendidikan dan pertanian dan membangun industri dasar
Sukarno? Well pake aja buat bangun SIMBOL-SIMBOL negara modern.
Apa itu? Hotel Indonesia, Sarinah, Wisma Nusantara, juga Hotel Samudra ini.
Hotel Samudera pun dikasih aroma mistis, seperti adanya ruang khusus buat ketemu "Nyi Roro Kidul"
Akhirnya apa?
Yep, Indonesia kehilangan momentum untuk membangun pendidikan dan industri dasar..
Dan memilih membangun simbol-simbol ketimbang substansi.
Kelen tengoklah ini:
Jumlah orang superkaya di Indonesia..
diproyeksi bakal nambah 80% di tahun 2031
Tertinggi di dunia.
Di saat kelas menengah dan kelas bawah pada kesulitan ekonominya..
Daya beli melemah
Lowongan kerja susah
Biaya hidup naik
Masa depan pun suram
Orang kaya dan kelas atas malah makin kaya..
===
Well kita jangan heran
selama kebijaknan ekonomi kek MBG, KDMP dan pengelolaan SDA memperkaya para elit
Maka apa yang akan diproyeksikan ini, akan jadi kenyataan.
Akhirnya Menemukan Counter untuk Statement soal PENUTUPAN ALFAMART DAN INDOMARET
"Coba bisa nggak bersaing ma Indomaret dan alfamart, untuk bisa HIDUP BERSAING BAPAK HARUS MENUTUP YANG LAIN ini gak boleh pak"
"Misalnya Bapak mau buat Kopdes dgn menutup yg lain, itu gak bisa pak, itu gak sesuai EKONOMI PANCASILA"
Kasih tau pak!!! Masak mau menang dengan cara ngebunuh yang lain😑 kan gak gentle banget.
Mitos Presiden & Kota Terlarang di Jawa
Kenapa tidak ada presiden Indonesia yang berani kampanye di Kediri saat Pilpres 2024?
Bukan karena logistik. Bukan karena basis suara. Tapi karena kutukan berusia 1.400 tahun yang sampai hari ini masih ditakuti orang-orang paling berkuasa di negeri ini.
Ini bukan cerita mistis pinggiran. Ini menyangkut keputusan resmi di level istana.
Tahun 2020, Sekretaris Kabinet Pramono Anung secara terbuka melarang Presiden Jokowi mengunjungi Kediri. Alasannya? Ia takut Jokowi bernasib seperti Gus Dur, yang dilengserkan MPR tak lama setelah mengunjungi Pondok Lirboyo di Kediri pada 1999.
Bukan cuma Gus Dur. Soekarno terakhir ke Kediri tahun 1965, lalu jatuh karena G30S. Habibie ke Kediri 1999, tiga bulan kemudian masa jabatannya berakhir. Soeharto, selama 32 tahun berkuasa, dikabarkan tidak pernah sekali pun menginjakkan kaki ke Kediri.
Dari mana asal kutukan ini?
Ada dua versi. Pertama, dari Raja Kartikea Singha, penguasa Kerajaan Kalingga abad ke-6. Saat menyusun kitab hukum pidana pertama Nusantara yang berisi 119 pasal, ia meninggalkan kutukan: "Siapa kepala negara yang tidak suci benar masuk wilayah Kediri, maka dia akan jatuh."
Versi kedua berasal dari Babad Kadhiri. Isinya: pasukan Kediri selalu menang jika menyerang duluan di luar wilayahnya, tapi selalu kalah jika diserang di dalam. Tafsir modernnya: presiden yang datang ke Kediri ibarat masuk kandang lawan, dan posisi politiknya pun rentan digoyahkan.
Ada juga tafsir linguistik. Nama "Kediri" diyakini berasal dari kata "ke" dan "diri," artinya kembali ke jati diri. Pemimpin yang masuk Kediri dianggap secara simbolis menyerahkan mahkotanya.
SBY pernah dua kali ke Kediri dan tetap selamat. Tapi para ahli budaya punya penjelasan: SBY tidak menyeberangi Sungai Brantas, dan hanya berada di sisi timur kota. Kutukan, kata mereka, hanya berlaku di Kediri bagian barat yang lebih tua.
Kediri bukan satu-satunya.
Bojonegoro punya mitos serupa, bahkan diklaim lebih angker. Asal-usulnya dari kisah Arya Penangsang yang menyeberangi Sungai Bengawan Solo untuk menyerang Sultan Pajang. Kesaktiannya hilang, dan ia tewas. Sejak itu, menyeberangi Bengawan Solo menuju Bojonegoro dianggap pertanda kekalahan bagi penguasa.
Faktanya, tidak ada presiden yang pernah mengunjungi Bojonegoro secara resmi saat menjabat. Jokowi meresmikan Bendungan Gongseng di Bojonegoro secara daring dari Trenggalek. Rencana kunjungan Presiden Prabowo ke Bojonegoro juga batal, dan spekulasi pun langsung meledak di media sosial.
Lalu ada Pati, yang punya mitos berbeda. Sunan Kudus dikisahkan memasang mantra di wilayah itu untuk mencegah Arya Penangsang, muridnya yang dianggap kejam, berkuasa.
Apakah semua ini nyata?
Secara ilmiah, tidak. Ini adalah produk confirmation bias yang sangat kuat. Kejadian yang "cocok" dikenang dan dikaitkan dengan mitos. Kejadian yang tidak cocok dirasionalisasi dengan syarat tambahan, seperti soal SBY yang tidak menyeberangi sungai.
Soeharto sendiri tidak pernah ke Kediri tapi tetap lengser juga setelah 32 tahun. Habibie bukan dilengserkan, ia memilih tidak mencalonkan diri kembali.
Tapi di sinilah yang menarik: mitos ini bukan sekadar cerita rakyat. Ia benar-benar memengaruhi keputusan politik di tingkat tertinggi. Sekretaris Kabinet melarang presiden mengunjungi sebuah kota. Peresmian proyek strategis dilakukan dari kota lain supaya presiden tidak perlu hadir langsung. Tidak ada capres yang kampanye langsung di Kediri pada 2024.
Ketika kepercayaan budaya bisa menggerakkan keputusan negara, batas antara mitos dan realitas politik menjadi sangat tipis.