Ini keliru.
Saya tahu dan cukup kenal siapa 'kiai sepuh' yang bertanya ke Gus Baha soal rokok di cerita yang dibawakan Gus Baha.
Cerita ini sering disampaikan Gus Baha di banyak tempat.
Jelas di sana maksud Gus Baha bukan untuk mengharamkan rokook , ataupun menghalalkan. Cerita itu sebenarnya komedi.
Jadi ada kiai sepuh yang 'tidak punya hiburan'.
Namanya kiai, dangdutan jelas gak boleh, minum alkohol jelas haram, bertindak aneh pun kena mura'ah.
Jadi 'kiai sepuh' ini nanya: apa hukumnya rokok? Rokok itu satu-satunya hiburan (makruh) yang bisa ia nikmati di dunia ini.
Komedinya: kalau Gus Baha bilang halal, 'kiai sepuh' ini tidak akan memberontak. Tapi kalau bilang haram, 'kiai sepuh' ini akan melawan.
Jadi pesan penting di cerita itu adalah 'komedi pemberontakan', bukannya mengharamkan atau menghalalkan rokok.
Oiya, di antara guru Gus Baha itu ada yang bernama Kiai Nawawi dan Gus Aminoto. Keduanya ini perokok berat.
Foto pertama ini adalah Kiai Nawawi dan Gus Aminoto. Foto kedua adalah saya yang ketika itu sedang gembel ke Madinah, dan dikasih kamar oleh Kiai Nawawi.
Foto ketiga adalah saya dan Lora Ismail Ascholy, dan tentu saja bersama dua guru Gus Baha yang saya sebut tadi (ada Kiai Toha Mahsun berbaju biru(
Coba lihat, di tengah forum alumni Al-Anwar saja, bahkan di pondok Al-Anwar Pusat (seberang nDalem Mbah Moen) keduanya pegang sebatang rokok.
Hhe~
Musim lalu begitu menyakitkan. Gagal juara dgn selisih cuma satu poin. Dihajar 0-5 di final UCL.
Musim ini juga auranya gloomy bersama pelatih baru. Tersingkir menyesakkan di UCL. Kondisi ruang ganti yg diisukan nggak terlalu harmonis. Skandal yg muncul dr luar lapangan..
Perjalanan yg sama sekali tidak sempurna. Inter tdk sempurna. Tapi musim ini, Inter layak juara.