Wingi tanggapan pertama kamargelap setelah duwe aset dewe. Sumpah nggulung kabel i lo ambek mbrabak aku. Aku melakukan opo sing tak impikan 11 taun kepungkur. Subhanallah
Buku enggak hanya soal penulis. Ada banyak rantai pekerja di belakangnya.
Pekerja-pekerja ini punya keluarga dan tanggung jawab juga.
Ada hak mereka juga di setiap buku yang terjual.
Kalau kamu marah pada akses buku yang belum merata atau harga buku yang tidak terjangkau, harusnya kamu tidak makan jatah pekerja yang mungkin juga sama miskinnya denganmu—jika kamu merasa miskin dan membenarnya pembajakan buku.
Proteslah pembuat kebijakan, yang seharusnya bertanggung jawab pada akses buku dan kontrol harga/subsidi buku.
Protes misal kenapa anggaran perpusnas dipotong dan aplikasi bacanya jadi lemot.
Penulis, pekerja buku, itu enggak orang kaya semua.
Banyak penulis yang tuanya sakit-sakitan dan meninggal menyedihkan karena miskin. Kasus seperti ini mungkin akan terus berulang.
Ada guru ngaji yang rela ngajar di TPQ tanpa minta dibayar karena memang niatnya murni ngajar dan ngalap berkah, itu jelas baik. Tapi bukan berarti guru ngaji yang lain tidak boleh meminta upah yang cukup.
Ada sopir angkot yang menggratiskan angkotnya untuk anak sekolah karena diniatkan sedekah, itu jelas baik. Tapi bukan berarti sopir-sopir yang lain harus ikut menggratiskan angkotnya juga.
Ada penulis yang membebaskan bukunya untuk disebarkan secara bebas dan gratis, itu jelas baik. Tapi bukan berarti penulis-penulis lain tidak boleh mendapatkan royalti yang layak dari penjualan bukunya.
Kalau logika sederhana seperti itu saja kamu masih perlu diajari, itu artinya, guoblokmu kebangeten.