cium tangan pasangan dianggap simbol penindasan, tapi pelacuran bisa dipasarkan sebagai simbol kemerdekaan dan kedaulatan.
the danger of feminist indoctrination🤡
Gua udah punya jawaban kalo ditanya soal ini.
https://t.co/Kj7BQ2oS4r
Apakah kasihan? Tidak sama sekali. Sekarang kita balik:
- Apakah kalian kasihan dengan ibu2 kantin yang penghasilannya 0 rupiah karena MBG?
- Apakah kalian kasihan dengan orangtua yang menangis karena anaknya keracunan MBG?
- Apakah kalian kasihan dengan jutaan orang yang bayar pajak, namun uang pajak itu dipakai untuk korupsi dalam MBG?
- Apakah kalian kasihan dengan orang yang kena PHK akibat multiplier effect dari MBG ?
Sejawat kalian saja suka pamer gaji di SPPG dan merendahkan orang lain. Ngapain juga kasihan.
Mau naroh ini ada terjemahan bahasa Indonesianya. Kaget juga waktu Mukmin bawain stand up gimmick absen kayak gini, apakah karena memang terinspirasi di sini atau memang jenius aja kepikiran ngabsen.
Memang banyak yang konteksnya membingungkan untuk orang Indonesia tapi kayaknya kita bisa paham sih sedikit-sedikit.
Tu tau sendiri kalo orientasi seksual ranah pribadi. Ngapain dikampanye?
Lebih2 kaum lu tu nularin. Temen voli gua yang straight aja jadi lesbi karena dirayu2 sama lesbian.
Coba dah hidup biasa2 aja. Gak caper. Orang gatau elu LGBT. Orang gak ngomongin.
orang orang LGBT cuman peduli sama hal hal yg bisa mendukung perilaku mereka doang.
ga usah lah teriak teriak HAM, kaum LGBT aja ga peduli sama hak perempuan yg toiletnya dimasukin trans alias laki. Hak beragama orang diinjek injek, intoleran, tafsir semaunya.
@ayamgota@maria4ya@baseconvo Baca yang diatas toilet tuh bacaanya apa? Toilet perempuan dan toilet laki-laki. Mau lu sediain toilet trans juga terserah, asal jangan ngambil hak orang. Makanya jangan bingung ama gender sendiri tolol. Daripada ngaku trans mending ngaku tumbuhan aja dah
Kok bisa orang yang dulunya core of the core agama, tiba-tiba pas masuk ring kekuasaan, fatwa nya malah sering clash sama arus bawah?
Lu pasti tahu Kerajaan Mataram Islam, kan? Kerajaan ini sering banget diagung-agungkan di sejarah.
Tapi, pas takhta turun ke Amangkurat I (sekitar tahun 1647), ada satu tragedi politik gila yang bikin orang membaca nya shock.
Yaitu pembantaian ribuan ulama di Alun-Alun Plered.
Bayangin aja, sekitar 5.000 sampai 6.000 ulama beserta keluarganya dibantai habis cuma dalam waktu kurang dari satu jam
Kenapa raja dari kerajaan Islam malah ngebantai tokoh agama?
Karena dalam berpolitik tokoh agama yang punya massa, pintar, dan independen itu merupakan ancaman terbesar buat kekuasaan.
Amangkurat I ngerasa posisinya goyah karena para santri dan ulama ini berani ngritik kebijakannya. Daripada pusing, dia pilih opsi delete permanen.
Nahhh di era modern, cara barbar kayak Amangkurat I itu udah nggak laku mana melanggar HAM dan malah bikin revolusi.
Terus gimana cara menjinakkan tokoh-tokoh agama atau intelektual radikal yang pinter-pinter ini? Jawabannya satu yaitu DIKOOPTASI.
Negara itu butuh legitimasi. Kalau ada kebijakan yang berpotensi nabrak norma agama, negara butuh sosok dari dalam lingkaran agama itu sendiri buat jadi juru bicaranya.
Kalau politisi biasa yang ngomong, pasti diamuk massa. Tapi kalau yang ngomong adalah tokoh yang basic bahasa Arabnya jago, mantan rektor, dan santri tulen? Publik dan netizen bakal mikir dua kali, atau minimal bingung mau nyerang argumennya pakai apa.