A : AKU M : MERTUA S : SUAMI
Mertua chat aku di WA
M : Nda (namaku) , nanti kalau bayar zakat kamu aja sendiri . Suami mu sudah ibu zakatkan. A : oh, oke bu *Screenshot kirim ke suami
A : sayang, aku belum bayar zakat. Kata ibumu, kamu sudah dibayarkan *kirim bukti ss nya
Tp kok suamiku ga ada respon sama sekali
pdhl sudah dibaca.
Mungkin ada 15 menit kemudian baru dibalas suamiku
S : malam ni ku kasih uang, bsk beli beras ya bayarkan zakat untk kita berdua
Sesampainya suamiku dirumah aku cek lah WA nya, trnyt dia chat ibunya
S : apa maksudnya ibu bayarkn aku tp ga bayarkan istriku? Dia juga anak ibu loh.
Kalau memang gamau bayarkan ,
sekalian jgn bayarkan aku juga.
M : ibu lupa kalau ada istrimu
S :menantu ibu cmn 1, sudah 3x lebaran loh sama2 masa lupa. Jgn gitu lagi ya bu, hargai istriku.
yaallah rasanyaaa pas baca chat itu, gak nyangka suamikuu bela aku
cc:threadjajananda
Percaya, pengen bgt ke desa A tapi jalan ga memungkinkan karna nanjak jauh curam juga. Eh plot twist dapat suami yang tinggal di desa A xixixi urusan jodoh tuh emang magic nya
Gue mau cerita soal temen gue.
Namanya Dana.
Dana itu tipe orang yang lo semua pasti kenal.
IPK 3,8. Aktif organisasi.
Lulus tepat waktu.
Langsung dapet kerja di perusahaan yang namanya keren di LinkedIn.
Dan semua orang bilang dia sukses.
Tapi gue tahu yang sebenernya.
Gajinya Rp4,5 juta. Di Jakarta.
Kontrakannya Rp1,8 juta sebulan.
Transportasi PP ke kantor Rp800 ribu.
Makan Rp1,5 juta kalau irit. Pulsa dan internet Rp200 ribu.
Total pengeluaran minimum: Rp4,3 juta.
Sisa: Rp200 ribu. Sebulan.
Tidak ada dana darurat.
Tidak ada tabungan.
Tidak ada investasi.
Tidak ada biaya sakit.
Tidak ada ongkos pulang kampung kalau ada yang meninggal di keluarga.
ada satu hal lagi yang jarang dibahas.
Di kondisi kayak gini orang jadi mudah dimanfaatkan.
Ini kesempatan belajar.
Nanti kalau udah berpengalaman gajinya naik.
Yang penting dapet exposure dulu
Kalimat-kalimat ini dipakai untuk membenarkan upah yang tidak layak.
Dan kita yang takut tidak punya pilihan menerimanya.
Bukan karena bodoh.
Tapi karena sistemnya memang dibuat begitu.
Bukan salah Dana kalau dia tidak bisa nabung.
Bukan salah generasi ini kalau mereka susah beli rumah, susah nikah, susah punya anak.
Sistemnya yang tidak pernah dirancang untuk mereka bisa menang.
Dan selama kita terus menyalahkan individu kurang kerja keras, kurang hemat, kurang skill kita tidak akan pernah nanya pertanyaan yang lebih penting:
Kenapa orang yang kerja keras pun masih tidak cukup?
Pacaran, terus lamaran terus nikah secepatnya punya debay secepatnya punya perum sehat walafiat rejeki cukup dan lingkungan sekitar baik baik ga bisa 1 Wishlist gue banyak
terserah orang lain mau gimana tapi gamau banget sama cowo cuek ya Allah. GA COCOK. aku maunya cowo gemas, clingy, lucu, humoris, yang selalu manggil SAYANGKU CINTAKU!!
Tiap ada bayi lahir, doanya selalu "Semoga jadi anak yang berguna bagi nusa, bangsa, dan agama."
Jarang banget dengar orang tua yang doanya begini: "Semoga aku bisa jadi rumah yang nyaman buat dia, bisa menjamin pendidikannya, dan memastikan dia tumbuh di lingkungan yang sehat."
Harusnya kita dulu yang berjanji ke dia, bukan dia yang dituntut buat dunia.
Temen gue cowok. Sebut aja Rama.
Dia ngerokok udah dari SMA. Bukan perokok berat tapi konsisten. Sebungkus bisa 3-4 hari. Kelihatannya kecil, tapi kalau dihitung sebulan? Lumayan juga.
Terus dia punya pacar. Dan pacarnya ini tipe yang natural banget paling pol makeupnya bedak sama lip balm. Nggak pernah minta apa-apa, nggak pernah nuntut dibeliin ini itu.
Justru itu yang bikin Rama kesambet.
Suatu hari dia ngitung-ngitung sendiri.
Uang rokok sebulan sekitar 150 sampai 200 ribu. Kecil memang. Tapi dikali 12 bulan? Hampir 2 juta lebih. Habis begitu aja. Dibakar. Literally dibakar.
Dan dia mikir "Duit segitu bisa buat beliin cewe gue skincare yang dia sendiri nggak pernah minta."
Bukan karena disuruh. Bukan karena ada perjanjian apapun.
Rama mutusin sendiri buat berenti ngerokok. Pelan-pelan. Mulai ngurangin sebatang demi sebatang. Dan uang yang biasanya kepake buat rokok dia simpen.
Sebulan pertama berat. Tangannya sering nggak ada kerjaan. Mulutnya pengen ngisep sesuatu. Tapi setiap kali pengen nyerah, dia inget ngapain dia lakuin ini.
Tiga bulan kemudian dia beliin cewenya skincare pertama.
Bukan yang mahal-mahal. Tapi dipilihin sendiri, riset sendiri, tanya-tanya sendiri mana yang cocok buat jenis kulit cewenya.
Cewenya nangis waktu nerima. Bukan karena barangnya. Tapi karena tau dari mana uangnya.
Dan ini yang bikin gue respect sama Rama
Dia nggak jadiin ini bahan drama. Nggak posting di mana-mana. Nggak minta pujian.
Dia cuma bilang ke gue waktu gue tanya kenapa tiba-tiba berenti ngerokok
"Gue mau ngasih sesuatu yang lebih berguna dari asap."
Di tengah banyaknya cerita cowok yang ngitung-ngitung pengorbanan dan minta balasan Rama cuma diem dan lakuin.
terserah orang lain mau gimana tapi gamau banget sama cowo cuek ya Allah. GA COCOK. aku maunya cowo gemas, clingy, lucu, humoris, yang selalu manggil SAYANGKU CINTAKU!!
Pelajaran hidup:
KALAU PUNYA ANAK NANTI GW AKAN RAJIN BAWA DIA KE DOKTER GIGI APAPUN KONDISINYA. KALAU GAK MAU, AKAN GW SERET. GIGI RAPI SEJAK DINI ITU PINTU KESUKSESAN JIR TERNYATA. 🤕 💚
Temen gue cowok. Sebut aja Rama.
Dia ngerokok udah dari SMA. Bukan perokok berat tapi konsisten. Sebungkus bisa 3-4 hari. Kelihatannya kecil, tapi kalau dihitung sebulan? Lumayan juga.
Terus dia punya pacar. Dan pacarnya ini tipe yang natural banget paling pol makeupnya bedak sama lip balm. Nggak pernah minta apa-apa, nggak pernah nuntut dibeliin ini itu.
Justru itu yang bikin Rama kesambet.
Suatu hari dia ngitung-ngitung sendiri.
Uang rokok sebulan sekitar 150 sampai 200 ribu. Kecil memang. Tapi dikali 12 bulan? Hampir 2 juta lebih. Habis begitu aja. Dibakar. Literally dibakar.
Dan dia mikir "Duit segitu bisa buat beliin cewe gue skincare yang dia sendiri nggak pernah minta."
Bukan karena disuruh. Bukan karena ada perjanjian apapun.
Rama mutusin sendiri buat berenti ngerokok. Pelan-pelan. Mulai ngurangin sebatang demi sebatang. Dan uang yang biasanya kepake buat rokok dia simpen.
Sebulan pertama berat. Tangannya sering nggak ada kerjaan. Mulutnya pengen ngisep sesuatu. Tapi setiap kali pengen nyerah, dia inget ngapain dia lakuin ini.
Tiga bulan kemudian dia beliin cewenya skincare pertama.
Bukan yang mahal-mahal. Tapi dipilihin sendiri, riset sendiri, tanya-tanya sendiri mana yang cocok buat jenis kulit cewenya.
Cewenya nangis waktu nerima. Bukan karena barangnya. Tapi karena tau dari mana uangnya.
Dan ini yang bikin gue respect sama Rama
Dia nggak jadiin ini bahan drama. Nggak posting di mana-mana. Nggak minta pujian.
Dia cuma bilang ke gue waktu gue tanya kenapa tiba-tiba berenti ngerokok
"Gue mau ngasih sesuatu yang lebih berguna dari asap."
Di tengah banyaknya cerita cowok yang ngitung-ngitung pengorbanan dan minta balasan Rama cuma diem dan lakuin.